SI A OMPONG
Selasa 14 juni 2016 kebetulan saat itu
saya masuk kerja sore dan saat jam besuk seperti biasa banyak keluarga pasien
yang datang untuk melihat bayi mereka. Saat itu ada keluarga bayi Ny. ST2
(karena kembar namun yang satu sudah pulang lebih dahulu) datang menjenguk
bayinya dan menyusui. Kebetulan saat itu saya membedong bayinya dan ayah
bertanya-tanya tentang kondisi bayi, karena saya tak begitu hapal maka saya pun
mengatakan “nanti yah pak, menyusui ajah dulu yah”. Sudahlah sang bayi saya berikan
kepada sang ibu untuk menyusui.
Saat di nurse station ada seorang lelaki
yang mengaku ponakan Ny. ST sebut saja lelaki itu si A atau si ompong hahaha. Orang
itu si A ompong berdiri di depan meja nurse station karena menurut saya
mengganggu pemandangan maka saya pun bertanya keperluannya apa. Si A ompong itu
pun menanyakan kondisi bayi Ny. ST2 kemudian saya tanya keluarganya (ayah dan
ibunya) mana? Maksudnya adalah biar saya sekalian menjelaskan kepada orang tua
bayi karena seperti itu prosedurnya.
Tak lama orang tau bayi pun disamping si
A ompong itu yaitu sang ayah bayi. Saya pun menjelaskan bahwa bayinya masih
harus mendapatkan therapy injeksi antibiotic. Kemudian si A ompong bertanya
tentang antibiotic apa yang diberikan? Saya pun bingung awalnya dan berpikir
siapa si A ompong ini sampai bertanya tentang nama antibiotic apa yang
diberikan? Karena biasanya tidak pernah sampai seperti itu. Karena hal tersebut
maka saya pun bertanya kepada si A ompong
siapa dia? Dengan sombongnya dia pun menjelaskan bahwa ia juga orang kesehatan yang mengerti
tentang medis, direktur rumah sakit umum pun kenal dengannya, di keluarga saya
cuma saya yang mengerti medis, jadi tolong jelaskan kepada saya saja. Saya
mengabaikan bahwa ia kenal dengan direktur rumah sakit umum bu desi dan jika
saya tak salah dengar ia pun menyebut-nyebut satu partai politik yaitu PDIP.
Entahlah apa maksudnya.
Setelah itu saya pun memberitahu
antibiotic apa yang diberikan. Kemudian dia pun bertanya lagi tentang hasil
laboratorium terakhir maka saya pun harus membuka rekam medis untuk mengetahui
hasilnya. Saya perlihatkan hasil laboratorium terakhir kepada sang ayah bayi
dan si A ompong sambil menjelaskannya. Namun tak lama si A ompong marah-marah
karena saya menjelaskan kepada sang ayah dan arah mata saya juga kepada dia
bukan si A ompong. Dikemukakanlah siapa si A ompong dengan sombongnya,
menurutnya dia mengaku mengenal dokter
desi, saya bisa menelepon dokter desi sang direktur, saya mengenal semua dokter
rumah sakit umum ini, saya membawahi 18 klinik, dokter-dokter itu bawahan saya,
saya bisa saja memecat kamu walaupun kamu sudah lama bekerja disini, jangan
kaku begitu dan bla bla bla. Saat dia berbicara seperti itu saya memilih
diam karena jika orang marah-marah seperti itu saya balas maka akan menjadi
semakin marah. Maka saya memilih diam untuk mendengarkan ocehannya sampai
selesai. Lagipula saya pikir jika saya membalas kemarahannya yang ada saya sama
saja dengan dia dan juga membuang-buang waktu apalagi saat itu mendekati
berbuka puasa. Jika suasana tambah panas yang ada saya tidak buka puasa dengan
yang manis malah dengan emosi selain itu tak enak juga dengan keluarga pasien
yang lain. Maka saya diam dan mendengarkannya hingga selesai karena itu pun
yang ia inginkan.
Teman saya yang mengetahui hal ini
mencoba berbicara kepada si A ompong namun sayangnya sebelum ia bicara pun si A
ompong sudah menskak duluan dengan mengatakan “sebentar saya belum selesai”. Ya
sudah saya teruskan saja mendengar ocehan marah-marahnya sampai selesai. Saya
pun tak ingat betul apa yang diucapkannya. Akhirnya dia pun berhenti dan
meminta maaf apalagi dia juga sedang berpuasa ramadhan.
Setelah dia selesai marah-marah tadi
barulah saya berbicara “saya ngerti
bapak orang kesehatan dan mengerti medis, namun peraturan kami yang harus
mengetahui kondisi bayi adalah orang tua bayi maka saya pun harus menjelaskan
kepada orang tua bayi, toh saya menjelaskannya ada bapak dan bapak, jadi jika
bapak ini (sang ayah bayi) tak mengerti bisa bertanya lagi kepada bapak (si A ompong), tak jadi masalah kan?”. Namun si A ompong
itu tetap tidak terima dan mengatakan “masalah
nanti seperti kaset kusut, suster mau menjelaskan berulang-ulang ke bapaknya,
dia itu ga ngerti medis, dan bla-bla-bla”. Saya kembali hanya mendengarkan
sampai akhirnya dia selesai. Saat selesai saya bertanya “oh yaudah pak, ada lagi? Udah?”. Dia pun kembali berbicara “Ya sudah suster begini ajah kalau ada
apa-apa tolong hubungi saya”. Saya jawab saja “oh iya kalau ada apa-apa kami akan hubungi nomor handphone yang ada di
rekam medis ini yah”. Dia pun masih berbicara “hubungi saya saja suster, saya minta maaf suster yang tadi
marah-marah, saya memang seperti itu”. Saat itu sang ayah hanya diam saja,
entahlah apa yang ada dipikirannya.
Intinya si A ompong itu tidak terima
karena saya menjelaskan kondisi bayi kepada sang ayah walaupun disampingnya ada
dia dan ia ingin jika ada sesuatu yang diberitahu terlebih dahulu adalah
dirinya bukan orang tua bayi. Namun prosedur rumah sakit bukanlah seperti itu.
Karena anak adalah tanggung jawab orang tua jadi jika terjadi sesuatu maka kami
pun menghubungi orang tuanya bukan yang lain. Kecuali pada kenyataannya sang
orang tua sudah tak ada lagi di dunia ini.
Menurut sang teman yang awalnya ingin
berbicara saat si A ompong sedang nyerocos ngomong, orang itu si A
ompong pernah ribut dengan Wakaru dan mengaku kakak atau adik Ny. ST, tapi tadi
ngakunya ponakan Ny. ST, rese emang orangnya. Saya hanya bisa ber-oh dan pantas
saja tadi seperti itu.
Setelah marah-marah tadi si A ompong
duduk menyender tembok dengan ayah sang bayi tak lama ia pun pamit, karena saat
itu saya mendengarnya walaupun sedang dibelakang, ia pun menyebutkan namanya
dengan inisial A. Kemudian setelah sang ibu selesai menyusui ia pun bertanya
tentang kondisi anaknya namun kali ini teman saya yang ambil alih menjelaskan.
Dalam hati saya sama saja kaset kusut dong. Saya pikir urusannya sudah selesai,
namun ternyata tidak karena saat saya masuk malam si A ompong kembali datang
dan berulah.
16 juni 2016 saat saya masuk malam
sekitar jam 10an malam si A ompong datang dan yang menemuinya bukan saya
melainkan teman. Info yang saya dapatkan adalah si A ompong tak terima karena
kami perawat perinatologi menghubungi orang tua bayi karena sang bayi akan
tranfusi darah yang diakibatkan dari hasil hemoglobin yang rendah dan ia juga
mengatakan kami “GEBLEK” kali yah. Kemudian dia pun kembali berkoar-koar dengan
menyebut nama sang direktur rumah sakit umum yaitu ibu atau dokter desi. Secara
prosedur memang seharusnya kami menghubungi orang tua bayi bukan orang lain
sekalipun mengaku saudara. Ngaku-ngaku
saudara itu gampang.
Tak lama sang perawat jaga tiba-tiba
datang tanpa kami memanggilnya. Si A ompong itu pun mengatakan “suster curang
ada yang belain” itu info yang saya dapat dari teman. Kemudian sang perawat
jaga malah membela si A ompong itu dan mengatakan nanti kalau ada apa-apa
hubungi bapak ini ajah. Saya bingung koq malah begitu sang perawat jaga. Main
percaya dengan orang yang mengaku “saudara”.
Ya sudah entah bagaimana akhirnya si A ompong itu menghilang dari ruangan
perinatologi. Yang pasti info yang saya dapatkan juga dari teman adalah si A
ompong mencorat-coret nomor handphone sang orang tua bayi hingga tak terlihat sama
sekali.
Sesuatu banget itu omongan kata
“GEBLEK”. Saya cukup kesal saat teman menceritakan itu. Seperti dia paling
pintar sedunia saja. Toh kalau ia mengerti medis atau kesehatan seharusnya
mungkin tak banyak bertanya dan mengerti juga prosedur yang seharusnya. Kalau
pun dia mau marah-marah jika kami melakukan sesuatu tak sesuai prosedur. Orang
aneh.
Saat paginya 17 juni 2016 sang teman
menceritakan kejadian semalam dan tempo hari saat saya masuk sore. Banyak yang
merespon negatif soal tindakan saya yang hanya diam ketika si A ompong
marah-marah dan menganggap saya payah serta hanya berani kandang saja bahkan
membawa-bawa nama KARATE. Saya pikir apa hubungannya karate dengan hal ini.
Karate itu olahraga. Sekalipun karate itu olahraga keras, namun tak semua hal
dapat diselesaikan dengan kekerasan. Yang ada nanti suasana akan bertambah
keruh dan bermasalah berkepanjangan. Terserah mereka mau bicara apa. Karena
saat itu DIAM adalah pilihan yang tepat untuk saya. Toh saat teman saya hendak
bicara pun langsung di SKAK oleh si A ompong itu. Lagipula ketika seseorang nyerocos marah-marah pantaskah kita membalasnya dengan
hal yang sama? Atau malah menantangnya? Bukankah nanti yang ada suasana semakin
keruh? Itu yang sejujurnya yang tidak saya inginkan. Jika saya ladeni
kemarahannya dengan hal yang sama bukan hanya waktu dan tenaga saya yang rugi
namun puasa saya pun rugi. Waktu bisa saja akan bertambah panjang yang
seharusnya dia marah-marah hanya sebentar namun karena kita menantang atau
meladeninya bisa saja menjadi lama bahkan berkelanjutan.
Apakah seperti itu menangani orang yang
sedang emosi marah-marah, yaitu membalasnya dengan hal yang sama? Biarkan saja
orang lain menganggap saya seperti apa? Yang pasti saya punya alasan dan
prinsip mengapa lebih memilih DIAM dibanding balik menantangnya. Lagipula malas
juga meladeni orang seperti itu yang hanya bisa memamerkan kesombongannya.
Ingat pula DIAM ITU EMAS dan setahu saya harga EMAS ITU MAHAL. Jadi bisa juga
DIAM ITU MAHAL hahaha.
Banyak yang berasumsi bahwa si A ompong
itu adalah LSM ataupun kader. Yah mau siapapun dia, seharusnya tak seperti itu.
Pasien ya tetap pasien. Prosedur ya tetap prosedur. Mau ia kenal dengan seluruh
orang di rumah sakit itu pun status keluarga pasien tetaplah seperti itu.
Terkadang anehnya adalah orang-orang atasan sana itu lebih membela atau memilih
mereka di banding orang yang jelas-jelas mengabdi untuk rumah sakit.
Akhirnya saat saya dinas malam kedua 17
juni 2016 malam, sang bayi Ny. ST2 itu telah pulang. Mungkin setelah tranfusi
pada malam sebelumnya dimana si A ompong complain, kemudian cek darah ulang
sehabis tranfusi dan mungkin hasilnya bagus maka dari itu sang bayi Ny. ST2
diperbolehkan pulang. Intinya yang saya ketahui sang bayi Ny. ST2 itu sudah
tidak ada ketika saya dinas malam kedua saat itu. Untung saja sang bayi pulang
ke rumah dan bukan ke rahmatullah. Karena biasanya jika ada keluarga yang rese
maka kondisi sang pasien ikut-ikutan menurun. Tapi itu biasanya loh.