apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Senin, 07 Maret 2016

seminar vs skripsi



SEMINAR DAN SKRIPSI

Setelah seminggu lalu disibukkan dengan persiapan seminar sehingga tak sempat menyentuh yang namanya “proposal skripsi”. Sekarang setelah selesai, maka harus kembali fokus kepada tugas akhir yaitu “skripsi”. Mengingat sebulan lagi harus sudah sidang proposal. Bagusnya sebelum penelitian, dilakukan ujian sidang proposal terlebih dahulu tidak langsung penelitian. Walaupun seminar secara umum telah selesai. Tetapi secara administrasi belum, karena pelaporan-pelaporan dan pembubaran kepanitiaan pun belum dilakukan. Sehingga untuk saya pribadi masih ada beban tugas untuk menyelesaikan pelaporan tersebut.

Soal seminar, mungkin secara keseluruhan dapat dikatakan bagus. Tetapi secara pribadi, menurut saya kurang greget. Mengingat tak semua peserta ternyata hadir. Tetapi positifnya peserta yang hadir sangat antusias terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan sehingga kami panitia menambah sesi tanya jawab. Walaupun susunan acara yang telah dibuat tak sesuai dengan kenyataan karena ada beberapa tamu undangan yang dijadwalkan memberikan sambutan tak hadir dan telat. Dari segi konsumsi pun banyak sisa, tapi tak menjadi masalah karena akhirnya dibagi-bagi kepada mereka yang membutuhkan. Walaupun isi dari konsumsi agak kurang memuaskan. Apalagi jika konsumsi tersebut diberikan kepada tamu undangan.

Memang tak semua yang direncanakan akan selalu berjalan mulus. Walaupun kurang greget, tetapi saya melihat sisi positifnya lumayan banyak. Pertama banyak pertanyaan dari peserta, kedua banyak pemberian dari sponsor yang bisa dijadikan doorprize dadakan, ketiga seminar kit dan sertifikat yang saya pesan hasilnya tak mengecewakan bahkan cukup memuaskan.

Minggu, 06 Maret 2016

absen



ABSEN

Seminggu ini tepatnya minggu pertama dibulan maret, full tak menulis dan tak baca sama sekali. Ada apa gerangan? Entahlah sebab ini dapat dijadikan suatu alasan atau tidak. Yang pasti seminggu itu disibukkan dengan persiapan acara seminar, dimana seminar tersebut termasuk kedalam salah satu mata kuliah sehingga mau tak mau harus dilaksanakan. Akhirnya acara seminar itu telah dilaksanakan pada tanggal 05 maret 2016. Walaupun itu belum selesai sepenuhnya, karena laporan kegiatan belum dibuat dan kepanitiaan juga belum dibubarkan. Jadi masih banyak pekerjaan yang menunggu.

Mungkin benar dengan apa yang pernah dibilang, berhenti menulis itu mudah tetapi memulai untuk menulis kembali itu agak sulit. Apalagi jika rasa malas selalu menghantui dan bingung memulai lagi dari mana ditambah juga sudah terlalu enak dengan keadaan tak menulis itu. Sebenarnya memang tak ada alasan untuk tak menulis, tapi bagaimana yah? Saat tubuh telah lelah dan letih dengan kegiatan sehari-hari, mungkin yang namanya “ide” tak akan pernah habis selama kita masih hidup dan tidak berdiam diri tetapi terkadang kesempatan atau waktu untuk menulis yang mungkin agak sulit. Apalagi jika hanya bisa menulis di sebuah laptop walaupun sebenarnya bisa saja menulis di smartphone tetapi saya rasa tak semua orang bisa seperti itu salah satunya saya. Saya tak bisa menulis dengan bebas di smartphone selain ukurannya yang kecil juga tak begitu nyaman dan bebas. Saat sampai rumah sudah malam dengan capek dan ngantuk tetapi pekerjaan lain masih harus ada yang diselesaikan karena deadline besok pagi, akhirnya menulis pun terkadang tak sempat bahkan bisa terlupakan saat itu. Hingga akhirnya bablaslah tak menulis sama sekali termasuk juga membaca buku. Yang memang sebenarnya jika kedua hal itu dikerjakan secara normal mungkin hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Tetapi keadaan lelah dan pikiran yang sudah tak fokus serta yang ada diotak adalah guling dan bantal akhirnya tertidur dan tak dilakukan semua hal itu.

Saya ketahui hal itu tak begitu baik. Karena akan baik sekali apabila dengan kesibukan sepadat apapun menulis dan membaca masih bisa dilaksanakan sesuai jadwal. Tetapi apa boleh dikata? Semua sudah terjadi. Yang perlu dicari bukanlah kesalahan tetapi solusi kedepannya bagaimana? Harapannya semoga saja saya bisa konsisten kembali dengan menulis. Menulis apapun yang penting setiap hari dan juga membaca sesuai jadwal.

Jumat, 26 Februari 2016

the best



The best lah pokoknya

Rabu lalu tepatnya 24 februari 2016 saya kembali keliling untuk menyebarkan brosur. Tetapi kali ini tidak sendiri, melainkan ditemani oleh sang ayah. Antara senang dan tidak enak juga sih. Senangnya karena diantar pakai motor yang pastinya lebih cepat. Gak enaknya karena pasti sudah mengganggunya. Makanya saat berangkat pun saya agak malas-malasan, malah bapak yang kelihatannya lebih semangat. Karena bapak telah lebih siap dibanding saya. Buktinya bapak menunggu saya dari mandi sampai rapi-rapi. Akhirnya jalan kami berdua menyusuri tempat-tempat yang sudah ditentukan.

Setelah sampai di tempat kedua, hujan pun mulai turun. Karena itu sejujurnya saya agak mulai malas untuk meneruskan perjalanan dan berniat untuk pulang saja. Tetapi bapak malah tidak mau, katanya “udah sekarang ajah, baru hujan begini, ada jas hujan”. Saya katakan “besok saja”. Dijawab bapak “besok siapa yang ngantar?”. Ya sudah akhirnya saya mengalah. Daripada saya tetap ngotot yang ada hanya akan membuat bapak kesal. Maka lebih baik ikuti saja. Akhirnya jadilah kami hujan-hujanan di motor dalam perjalanan menuju lokasi selanjutnya. Hingga tujuan tempat terakhir pun selesai dan brosur telah habis, akhirnya kami pulang dengan pakaian basah dan hujan yang mulai reda.

Di perjalanan saya sempat berpikir, ayah atau bapak yang lain belum tentu mau seperti itu. Jangankan hanya mengantar, menunggu saja belum tentu tidak ngomel. Apalagi ditambah hari mendung dan hujan, akan makin menjadi sepertinya. Maka dari itu “the best lah pokoknya mah si bapak”.

Kamis, 25 Februari 2016

pusiiiiiiiiiiiiiiiing



PUSING

Judulnya hari ini itu pusing. Karena apa? Skripsi. Sempat terpikir untuk ganti judul skripsi mengingat judul yang sekarang sudah pernah saya lakukan sebelumnya dan agak ribet mengingat harus menyebar kuesioner dan lainnya. Ditambah juga malam sebelumnya saya di telepon oleh paman dan membicarakan soal proposal skripsi yang saya buat. Memang saya yang meminta paman untuk mengoreksi proposal tersebut. Mengingat saya tak begitu yakin dengan pembimbing skripsi saya. Maka dari itu saya butuh orang lain yang saya nilai kompeten dalam hal ini. Daripada nanti saat sidang saya ditanya-tanya bingung jawabnya.

Tetapi saat berpikir untuk ganti judul yang ada malah saya bingung sendiri, mau ganti judul apa? Pasalnya judul yang berkeliaran diotak saya sudah banyak setelah saya searching di internet. Karena bingung lama-lama kepala saya jadi pusing sendiri memikirkan hal ini. Bingung, pusing dan ragu lengkaplah sudah.

Pasalnya jika saya ganti judul maka isi proposal yang sudah saya buat pasti berubah baik seluruhnya maupun semuanya. Tetapi jika tidak ganti judul, maka terkesan monoton karena sebelumnya saya sudah memakai judul tersebut saat diploma tiga. Entahlah apakah nanti saya akan ganti judul atau tidak. Tetapi jika saya ganti judul pastinya akan kerja dua kali. Jika tidak ganti judul, kemungkinan hanya tinggal menambahkan, mengedit dan memodifikasi kesalahan-kesalahan saja.

Rabu, 24 Februari 2016

gak mau



TAK MAU PINDAH

Aku sudah berada di ruang perinatologi sejak november 2012. Sempat sebelumnya di pindah-pindah ke berbagai ruangan karena waktu itu masih masa orientasi sekitar pertengahan 2012. Saat SK (surat keputusan) penempatan itu turun dan aku ditempatkan di ruang perinatologi yaitu ruang untuk bayi yang baru lahir tetapi mengalami masalah, aku kaget dan bingung. Kaget karena saat orientasi tak pernah di ruangan itu. Bingung karena mau apa aku disana? Mengingat saat itu keterampilan aku untuk merawat bayi tak ada dan saat kuliah pun praktek tentang hal itu sangat minim. Ya sudah akhirnya aku ikuti saja.

Akhirnya aku di ruang perina tersebut. Awal aku hanya melihat-lihat saja sesekali membantu teman-teman disana. Seminggu berada disana ada teman yang bertanya “gimana ri di peri? Udah bisa apa aja?” aku jawab saja “ga gimana-gimana koq teh, bisa noh ngelap-ngelap inkubator hehehe” dibalasnya “yaudah ntar juga bisa”. Berakhirlah percakapan itu. Memang seminggu disana aku tak berani banyak melakukan tindakan, saat itu aku hanya baru berani melakukan tindakan pengambilan darah dan memberi minum bayi itu pun belum begitu bisa karena masih kadang gagal. Hingga seminggu disana seorang teman menyuruhku untuk menginfus bayi yang berat badannya sangat rendah yaitu hanya satu kilogram saja. Aku sanggupi saja tetapi dengan pendampingan tentunya, karena aku sendiri pun tak yakin akan tindakan tersebut, tetapi kalau gak gitu kapan aku akan bisa infus bayi? Karena bisa menginfus bayi, belum tentu bisa menginfus anak begitu pun dewasa. Mungkin jika saat ini aku di suruh untuk menginfus orang dewasa, maka akan kaku tindakan yang aku lakukan tersebut, karena sudah cukup lama aku tak pernah menginfus orang dewasa.

Namun setelah beberapa tahun di ruang perina itu, rasanya aku tak mau pindah ke ruangan lain. Ya memang mungkin hanya akan tahu soal bayi saja. Tetapi aku punya alasan tertentu yang membuat aku tak mau pindah. Karena di ruang itu rata-rata pasien adalah bayi yang baru lahir, yang masih bersih dan suci. Selain itu tak pernah ada perawat laki-laki di ruang bayi, yang ada hanya perawat perempuan semua bahkan bisa saja di ruangan itu semuanya perempuan. Sekalipun ada laki-laki itu hanya cleaning service yang tidak setiap saat ada di ruang tersebut. Hal tersebut lebih membuatku nyaman karena tak bertemu dengan lawan jenis yang bukan muhrim, sehingga kemungkinan timbul fitnah pun kecil mengingat juga fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan. Pengunjung pasien pun rata-rata adalah orang tua bayi dan itu pun tak bisa setiap saat hanya pada jam-jam tertentu yaitu saat jam berkunjung, saat menyusui bagi ibunya, dan saat praktek metode kanguru serta saat keadaan gawat. Berada di lingkungan yang rata-rata adalah wanita membuat aku lebih nyaman dan aman dalam melakukan tindakan. Walaupun beban pekerjaan tetaplah ada. Tetapi bukankah semua pekerjaan mempunyai resiko? Begitu pun pekerjaan yang aku lakukan ini.

Setiap ada minat penempatan ruangan, aku pun selalu menuliskan ruangan perina itu. Karena memang tak mau pindah ke ruang lain. Sekalipun harus pindah kalau bisa ruangan tersebut mayoritas perempuan. Karena pekerjaan aku bershift dan ada shift malam, maka jika saat shift malam ada laki-laki rasanya risih karena tak ada ruangan khusus untuk laki-laki dan perempuan di ruang tersebut. Yang ada hanyalah RUANG PERAWAT baik laki-laki maupun perempuan. Aku bersyukur Allah SWT memberikan penempatan kerja di ruang tersebut walaupun awalnya kaget dan bingung karena tak bisa apa-apa. Walaupun sekarang masih banyak kekurangan dalam pekerjaan yang aku lakoni itu. Seandainya ada ruangan perawatan khusus laki-laki dengan perawat dan dokter serta staff lainnya adalah laki-laki semua dan begitupun sebaliknya dengan perempuan maka mungkin itu akan lebih nyaman dan aman.