apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Selasa, 19 Januari 2016

rumah



RUMAH

Rumah yang merupakan sebuah bangunan beratap untuk berteduh, menghindari panas matahari dan dinginnya air hujan, tempat untuk beristirahat, tempat singgah juga. Yang pasti semua orang membutuhkan tempat ini. Walaupun pada kenyataannya tak semua orang memilikinya. Namun ada hal yang menurut saya harus diperhatikan jika memiliki sebuah rumah. Satu hal yang menurut saya penting yaitu jangan sampai rumah yang kita tempati mengganggu orang lain atau bahkan mengambil hak orang lain. Dalam arti, saat membeli atau membuat rumah perhatikan apakah rumah yang kita bangun tersebut melebihi batas tanah sehingga mengambil lahan tanah orang lain atau pun lahan umum. Walaupun yang diambil mungkin hanya beberapa centimeter saja. Tetap itu bukanlah hak kita. Selain surat-surat resmi yang legal, hal itu pun saya rasa perlu untuk diperhatikan. Yang kedua dalam membuat atap rumah atau pun tempat penampungan air hujan, perhatikan kemana jatuhnya air hujan tersebut. Kalau bisa jatuhnya air hujan dari atap rumah masih dalam lahan tanah yang kita miliki. Sehingga jika turun hujan maka air hujan yang jatuh dari atap rumah tidak turun ke jalan atau pun ke lahan lain, karena khawatir mengganggu orang lain yang lewat di sekitar rumah kita. Yaitu khawatir terciprat air tersebut.
Mengingat belum lama ini orang tua merenovasi sebagian rumah yaitu menambah satu ruang untuk kamar dan juga menambah atap dengan fiber hingga sampai batas pagar rumah. Ada yang menjadi perhatian saya dalam hal ini, yaitu tentang atap fiber tersebut. Saat sudah selesai pemasangannya. Maka saya perhatikan atap tersebut dan berpikir “jika hujan kemana air akan jatuh? Ke jalankah? Atau ke saluran air di depan pagar?”. Akhirnya saya tanyakan hal itu kepada ayah saya, dan dijawab “gak ke jalan koq, jatuhnya ke selokan. Bapak juga ngerti hukumnya”. Saya tak meneruskan karena sudah dijawab “ngerti hukumnya”. Yah kalau memang mengerti hukum, maka baiknya mengaplikasikan hukum tersebut. Jangan hanya mengerti saja tetapi tak dipakai. Seperti halnya mengerti bahwa shalat itu wajib, tetapi tak pernah shalat. Lebih baik tak mengerti sama sekali.
Akhirnya setelah atap itu dicoba air, ternyata jatuhnya air tersebut bukanlah ke selokan depan pagar namun ke jalan umum. Sudah tahu seperti itu, maka dipotonglah atap fiber tersebut beberapa centimeter. Agar saat hujan turun airnya tidak jatuh ke jalan umum, namun ke selokan tersebut. Kebetulan beberapa hari setelah pemotongan atap fiber tersebut, hujan pun turun. Langsung saja saya memperhatikan kemana air jatuh dari atap fiber tersebut, dan benar jatuhnya air tersebut sudah tidak ke jalan umum lagi melainkan ke selokan. Namun sebenarnya masih ada hal yang saya khawatirkan, yaitu khawatir air yang jatuh ke selokan tersebut muncrat atau menciprat ke jalan umum dekatnya. Namun sudahlah, karena itu bisa saja terjadi jika intensitas hujan besar saja mungkin. Yang penting jatuhnya air bukan ke jalan umum lagi karena khawatir mengganggu orang yang lewat dengan cipratan airnya.

Senin, 18 Januari 2016

cerita minggu



Cerita minggu pagi 17 januari 2016. Ketika akan pergi ke kampus tiba-tiba ada seorang ibu tua memanggil saya dan meminta tolong menurunkan seorang ibu yang ternyata post partum dari dalam angkot. Saya pikir ibu tua dan ibu post partum itu adalah ibu dan anak. Tetapi ternyata bukan. Ibu post partum itu ternyata seorang diri, ia mengaku anak yang dilahirkannya meninggal di rumah sakit dan suaminya kabur, dia juga sempat mengatakan ingin bunuh diri saja. Saat ditanya tentang keluarga yang lain, ia hanya menjawab bahwa ia punya keluarga lain di tangerang. Saya pikir tangerang itu kan luas. Setelah saya tanya lagi ternyata dia bilang tangerang arah parung. Maka persepsi saya adalah mungkin daerah tangerang selatan yang mau ke arah parung itu. Dia lalu meminta uang sebesar dua puluh ribu untuk pulang. Karena memang dia tak mempunyai uang sama sekali. Namun uang di dompet saya pun pas-pasan hanya ada satu lembar lima puluh ribu dan tak mungkin rasanya saya memberikan uang kepada ibu itu karena saya pun harus membayar ongkos untuk ke kampus dengan uang tersebut. Tak lama angkot R01 lewat di depan ibu tersebut dan ia langsung menghentikan angkot itu ditambah lagi sang supir pun menawarkan angkutannya. Yang saya bingung adalah jika memang ia ingin pulang ke keluarganya yang lain yang ia katakan berada di daerah tangerang arah parung, mengapa ia menghentikan angkot R01 yang sudah jelas bukan trayek ke arah parung. Karena ibu tersebut sudah masuk ke dalam angkot itu, ya sudah saya biarkan saja dan saya bayar saja ongkos ibu tersebut langsung kepada supir. Entahlah endingnya bagaimana ibu itu? Karena angkot yang saya gunakan untuk ke kampus berbeda dengan angkot yang ibu itu naiki. Pikiran macam-macam sempat muncul di benak saya. Karena ia sempat mengatakan ingin bunuh diri, jangan-jangan ia naik angkot tersebut mencari tempat untuk melakukan hal itu. Tapi sudahlah saya juga punya kepentingan lain saat itu dan saya juga bingung apa yang harus saya perbuat saat itu.

Kamis, 14 Januari 2016

resolusi



RESOLUSI



Sudah tahun 2016, banyak sekali di media-media yang membicarakan soal resolusi. Banyak di media sosial seperti facebook yang saya lihat menuliskan tentang resolusi mereka di tahun 2016. Tak kalah juga banyak status bbm yang menuliskan tentang resolusi mereka. Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah pentingkah sebuah resolusi di tahun baru? Karena dominannya kata “resolusi” keluar selalu di saat pergantian tahun baru masehi. Tak ada saat tahun baru hijriah membicarakan soal resolusi tersebut. Sehari sebelum pergantian tahun pun saya sempat menonton televisi yang membahas mengenai hal ini yaitu Resolusi? Penting atau tidak? Jawabannya pun tak jauh dari dua pilihan tersebut yaitu ada yang mengatakan “penting” namun ada juga yang mengatakan “tidak” dengan alasan tentunya. Itu sah-sah saja dan wajar. Toh itu pendapat setiap orang. Itu jawaban masing-masing individu. Mau jawabannya penting atau tidak itu terserah kepada mereka yang menjawab.

Namun untuk saya pribadi yang penting bukanlah sebuah resolusi, tetapi bagaimana agar apa yang direncanakan bisa terwujud. Bagaimana agar sebuah keinginan bisa terealisasi. Bagaimana agar sebuah cita-cita bisa tercapai. Mungkin akan percuma jika resolusi hanya sebuah resolusi belaka tanpa tindakan bagaimana agar resolusi tersebut dapat diwujudkan di tahun yang mereka tetapkan itu. Mempunyai keinginan, mimpi, cita-cita, harapan atau pun rencana itu wajar saja bahkan mungkin diharuskan. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana agar semua itu bisa terwujud. Pada dasarnya tak ada yang tak mungkin jika semua diusahakan. Tak ada salahnya dengan impian yang muluk dan cita-cita yang tinggi. Karena semua itu bisa saja dapat dijadikan suatu motivasi untuk mencapainya.

Banyak orang yang menuliskan resolusi mereka di media sosial. Untuk saya pribadi lebih baik mereka tuliskan hal tersebut di catatan harian mereka. Sederet rencana yang mereka tetapkan lebih baik mereka tuliskan di note pribadi saja. Mungkin secara garis besar boleh lah mereka tuangkan di sebuah media sosial. Cara-cara untuk mencapainya baiknya dijabarkan di tempat lain. Misalnya saja di tahun ini harus lebih baik lagi, di tahun ini harus lulus kuliah, di tahun ini harus dapat pekerjaan. Mungkin jika yang mereka tuliskan seperti itu menurut saya masih wajar karena sifatnya masih umum. Namun cara-caranya lebih baik mereka lakukan bukan hanya dituliskan saja di media sosial. Seperti contohnya “menjadi lebih baik” banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih baik. Nah cara-caranya tersebut baiknya dituliskan di memo saja kemudian realisasikan dalam sebuah tindakan yang baik.

Maka dari pada pusing-pusing menetapkan resolusi, lebih baik jalani saja apa yang seharusnya dijalani. Atau rutinkan suatu hal yang baik entah itu setiap hari, seminggu sekali, atau pun sebulan sekali. Agar lama-lama menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan begitu saja. Mungkin juga dengan begitu resolusi yang sebelumnya tak pernah ditetapkan bahkan tak pernah terpikirkan lama-lama akan terwujud karena sudah dibiasakan dilakukan itu.

Jumat, 08 Januari 2016

salahkah?



APAKAH SALAH?

Belum lama ini saya membuat “status” di media sosial yaitu facebook bertuliskan “apakah perlakuan orang tua kepada anak laki-laki dan perempuan harus dibedakan?” dan akhirnya pertanyaan saya tersebut dijawab oleh seseorang, inilah jawabannya.







Sedangkan referensi yang saya dapatkan dari sebuah buku yang saya punya adalah seperti ini




pertanyaan berbagai pertanyaan pun menganggu benak saya.

Apakah salah jika anak laki-laki disuruh oleh orang tua untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, memasak, mencuci, menyetrika dan lainnya? (jujur saya hanya membutukan satu kata dari pertanyaan itu yaitu jawaban “ya” atau “tidak” cukup itu saja dan tidak lebih, jadi mohon jika mau menjawab hanya itu jawabannya).

Lalu apakah salah jika seorang laki-laki melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, memasak, mencuci, menyetrika dan lainnya? (jujur saya hanya membutukan satu kata dari pertanyaan itu yaitu jawaban “ya” atau “tidak” cukup itu saja dan tidak lebih, jadi mohon jika mau menjawab hanya itu jawabannya).

Jika hal tersebut salah, tidakkah ingat banyak profesi yang mungkin sebaiknya digeluti oleh wanita namun pada kenyataan banyak pula laki-laki yang melakukannya contohnya adalah koki atau juru masak, penjahit atau desainer, office boy dan mungkin banyak pekerjaan lainnya. Jika pekerjaan itu salah jika dilakukan oleh laki-laki dan seharusnya hanya boleh wanita yang melakukannya, lalu mengapa pada kenyataannya adalah seperti itu? Salahkah? Jika salah lalu mengapa dibiarkan begitu saja tanpa ada pelarangan nyata.

Jika dibalik bisa saja seperti ini, banyak wanita juga yang melakukan pekerjaan yang mungkin seharusnya pekerjaan itu dilakukan oleh laki-laki seperti pekerjaan menjadi polisi, security dan pekerjaan lainnya. Jika itu salah, maka seharusnya bagaimana agar tak salah? Bukankah jika ada hal yang salah maka dibutuhkan suatu perbaikan dari kesalahan tersebut agar tak menjadi salah atau dengan kata lain yang salah diperbaiki agar benar. Gak mau kan selama hidup bergelut dalam kesalahan yang tak tau kebenarannya seperti apa seharusnya?

Selasa, 29 Desember 2015

tanding dan latihan


LATIHAN VS TANDING
240315
Latihan vs tanding??? Pernah ada dan mungkin sering ada yang bilang “buat apa latihan kalo gak pernah tanding???”. Jujur saya adalah orang tersebut. Orang yang mungkin masih dibilang masih latihan karate namun saya tak pernah mengikuti satu pun event pertandingan. Kalo ada yang tanya kenapa? Jawaban saya selalu adalah waktu. Entah itu hanya alasan saja atau apa? yah memang waktu yang tak pernah pas yang selalu menjadi alasan saya jika ada yang bertanya “koq ga ikut tanding kak?”. Yah alasan saya selalu saja “waktu” yang tak pernah pas. Karena event pertandingan biasanya selalu bentrok dengan jadwal kerja saya. Yah waktu saya belum kerja event pertandingan bentrok dengan kuliah saya. Waktu saya belum kuliah saat itu saya masih sabuk muda masih sekolah belum waktunya untuk turun pertandingan mungkin. Entah apa penyebabnya? Memang tak jarang saya di tawari soal pertandingan.
Tetapi jika saya bertanya kepada diri saya dan jika ditelaah lebih dalam lagi “kenapa saya tak pernah ikut tanding?” yah jawaban yang mungkin sangat pribadi untuk saya adalah back to basic kembali ke tujuan awal kenapa saya mengikuti latihan karate. Jujur saat awal saya mengikuti latihan karate memang tak pernah ada pikiran untuk mengikuti event pertandingan dan menjadi atlet. Tidak dan bukan itu. Tujuan utama saya dalam karate adalah kegiatan. Yah kegiatan. Mungkin ini sudah ada ditulisan saya sebelumnya yang berjudul “awal mula ikut kegiatan karate”. Karena saat itu saya bosan dengan kegiatan yang itu itu saja yaitu rumah dan sekolah maka saya pun mencari kegiatan lain dan bertemu lah saya dengan “karate”. Maka dari itu jika ada yang tanya kenapa saya mengikuti latihan karate yah jawaban saya adalah “kegiatan” selain dari pada olahraga. Yah alasan kedua mungkin adalah “olahraga”. Lalu kenapa mesti olahraga beladiri “karate”? karena hanya itu yang saat itu ada dan saya bisa. Jujur saya tak suka dengan olahraga yang memakai bola apapun jenis olahraga itu baik futsal, sepakbola, basket dan apapun yang olahraganya memakai bola saya tak suka. Beda yah bola dengan cock. Karena olahraga yang menggunakan cock itu saya masih suka dan masih mengejarnya hahaha. Kenapa ga suka olahraga bola? Yah karena saya berpikir satu bola koq direbutin rame-rame hehehe yah selain itu memang ada alasan lain yang menyebabkan saya tak menyukai itu dan lebih kepada pengalaman saya soal bola. Yah intinya saya tak suka olahraga yang identik dengan bola terutama satu bola untuk rame-rame huft. Kalo satu bola satu orang mungkin masih wajar kali yah.
Yah selain alasan “kegiatan” dan “olahraga” yang merupakan tujuan saya mengikuti latihan karate dan juga alasan saya mengapa tak pernah mengikuti pertandingan?. Namun ada hal lain yang membuat saya lebih tak mau mengikuti pertandingan karate. Entah lah ini picik atau bagaimana? Saya tak mau jika saya mengikuti pertandingan lalu kalah atau pun menang dan saya tak latihan karate lagi karena kekalahan yang membuat saya mungkin akan down dan malu sehingga tak mau latihan lagi ataupun kemenangan yang membuat saya menjadi besar kepala dan akhirnya malas latihan bahkan lebih dari itu yaitu meninggalkan karate. Jujur saya tak mau itu. Maka dari itu mungkin saya tak mau mengikuti event pertandingan karate. Yah terserah jika ada yang berpikir “takut” atau “mental lemah” atau apa lah itu silakan saja. Tapi saya tak mau seperti pengalaman yang sudah-sudah yang saya amati yaitu “hilang setelah tanding” begitu kata pelatih saya istilahnya seperti ikan lele. Kalo pas mau ada ujian tingkat sabuk dan mendekati event pertandingan baru deh pada banyak yang latihan hahaha.
Yah menurut saya semua kembali kepada back to basic. Apa tujuan mu mengikuti kegiatan karate? Buat saya jika seseorang mengikuti kegiatan karate dengan tujuan menjadi atlet atau prestasi atau ingin mendapat beasiswa atau semacam itu, yah wajar saja sih jika semua itu telah tercapai dalam beberapa waktu maka lama-lama orang itu akan meninggalkan karate. Karena memang keinginan atau tujuannya telah tercapai lalu mau apa lagi. Istilahnya kacang lupa kulit kali yah hehehe. Yah walaupun alasan mereka tidak latihan karate lagi yang akhirnya mereka tinggalkan memang beragama. Ada yang alasan kuliah, kerja, rumah tangga dan lainnya. Yah memang saya akui dan saya alami serta rasakan, saat sudah kuliah dan kerja memang susah cari waktu untuk latihan. Mengingat karate yang saya ikuti memang merupakan kegiatan ekskul dari sekolah saat saya SMA. Tetapi yah itu dia lagi back to basic. Masa sih dari waktu 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, serta 30 hari dalam sebulan tak ada satu hari pun yang membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam untuk datang latihan karate. Yah mengingat latihan karate kurang lebih 2 jam setiap latihan. Terserah pagi atau sore yah rata-rata porsinya segitu.
Jujur saya mengikuti kegiatan karate dari kelas 2 SMA hingga sekarang kurang lebih sudah hampir 9 tahun kali yah dan entah sampai kapan. Walaupun sekarang-sekarang ini saya masih latihan namun dengan intensitas yang jarang tapi setidak-tidaknya disempatkan dalam satu bulan itu saya harus ada waktu untuk karate. Terserah latihan dimanapun entah itu sekolah atau pusat latihannya. Yang penting saya harus ada waktu olahraga salah satunya karate. Karena bukan hanya karate saat ini yang saya kejar sebagai olahragaa rutin saya yang minimal sekali saya lakukan sebulan sekali. Yah itu lah jika tujuan dari kegiatan karate adalah olahraga akan berbeda dengan tujuan kegiatan karate untuk menjadi atlet atau apapun itu. Terserah mau berpikir pernyataan saya seperti apa. tapi itulah saya. Karena buat saya jika tujuan saya mengikuti kegiatan karate adalah olahraga maka rasanya tak ada sebab atau pun alasan untuk tidak latihan bahkan sampai meninggalkan kegiatan tersebut.
Yah walaupun saya sendiri tak tahu sampai kapan mengikuti kegiatan karate. Kenapa begitu? Yah sempat beberapa waktu lalu dan sudah sangat lama rasanya bapak menanyakan itu kepada saya saat saya sudah lulus sekolah dan masih saja latihan karate bahkan saat saya sudah kerja sekalipun yang saya ingat adalah “mau sampai kapan latihan karate?” yah saya tak pernah menjawab itu. Karena saya ingin tak ada batasan waktu saya untuk karate. Dengan kata lain saya tetap ingin latihan karate mungkin sampai saya mati jika memungkinkan dan jika Allah mengijinkan. Jujur saya tak ada pikiran untuk tidak mengikuti atau berhenti dari kegiatan karate saat ini. Saat ini? Yah karena memang sebelum-sebelum godaan selalu datang yang intinya “duh males latihan capek dan bla bla bla”. Tapi saat pikiran itu datang saya berpikir lagi kalo mau berhenti mah dari dulu-dulu saat masih sabuk putih.
Mengingat sekarang saya sabuk coklat yang mungkin suatu saat bisa mengikuti ujian kenaikan sabuk hitam tapi saya tak mau sabuk hitam. Bukan apa-apa saya takut jika saya menyandang karateka sabuk hitam dan saya tak intens latihan serta tak punya murid untuk dilatih lalu untuk apa? dan saya pun tak tau kesananya seperti apa? akankah saya masih bisa latihan sesuai harapan saya diatas tadi atau bagaimana? Bagaimana jika saya menikah dan ternyata pasangan saya tak mengijinkan saya untuk karate lagi? Itulah yang saya takutkan dan saya pikirkan sehingga bisa dibilang stak dulu deh di sabuk coklat. Karena sebelumnya ada senior saya yang sudah menikah dan seperti itu rasanya pasti wajib mengurus rumah tangga yaitu suami dan anak sehingga selain tak diijinkan mungkin juga tak ada waktu tapi itu mungkin dan entahlah itu kan hanya prediksi saya saja. Karena sesungguhnya pun karateka sabuk coklat diharuskan mempunyai murid untuk dilatih dan menjadi salah satu syarat jika ingin mengikuti ujian sabuk hitam kalau tak salah seperti itu.
Yah kalau mau berhenti dari kegiatan karate sebaiknya memang dari dulu saat saya masih sabuk putih. Kalau sekarang-sekarang yah sayang kemana dan bagaimana pengorbanan saya selama ini terutama saat mengikuti ujian kenaikan sabuk yang pasti panas-panasan kaki sampai melepuh karena harus lari di bawah terik matahari jam 12 siang serta capek mungkin. Yah “capek” dan “bosan” adalah dua kata yang selalu pelatih saya sebutkan saat latihan. Kalau gak mau capek yah gak usah latihan karate. Begitu katanya. Dan memang itu lah nyatanya. Entah memang sudah terlalu cinta dengan kegiatan karate atau bagaimana? Setiap ada godaan seperti itu tetap saja tak bisa membuat saya untuk tidak latihan karate. Bahkan jika saya lama tak latihan yang ada rasa kangen terhadap karate melanda yang membuat saya akhirnya latihan lagi.
Sempat ingat ada teman saya yang saat SMA sama-sama mengikuti kegiatan karate namun dia sudah tak latihan lagi yah seperti yang saya bilang meninggalkan karate. Dia bertanya kepada saya “masih latihan karate?” yah saya jawab saja seadanya “masih tapi jarang”. Dia bilang “kan gue yang ngajak lo, kenapa jadi lo yang nerus yah? hahaha”. Yah begitulah kiranya yang terjadi adanya hehehe.
Yah itu lah saya. Intinya saya mengikuti karate untuk olahraga bukan untuk menjadi atlet maka dari itu saya tak pernah sekalipun mengikuti event pertandingan hehehe. Terserah menurut anda ada yang salah atau tidak dalam hal ini. Tapi itu adalah tujuan dan prinsip saya hehehe. Trima kasih.....

Senin, 21 Desember 2015

UJIAN???


UJIAN ATAU TIDAK?

Kamis siang 5 november 2015 saya mendapat kabar tentang ujian kenaikan sabuk hitam yaitu ujian DAN (sebutan untuk karateka penyandang sabuk hitam). Mengingat penawaran ujian tersebut diperuntukan untuk karateka penyandang sabuk cokelat tua. Mengingat saya adalah salah satunya dan entah sudah berapa tahun saya berada pada tingkatan sabuk itu. Ada info seperti itu menjadi pengingat tersendiri untuk saya. Namun ketika mengetahui mengenai waktu pelaksanaan ujian DAN tersebut, ternyata adalah sabtu dan minggu tanggal 19 & 20 desember 2015 mendatang dan kebetulan pada hari tersebut sudah dijadwalkan akan diadakan uas di kampus tempat saya kuliah saat ini. Sejujurnya saya tak begitu tertarik akan ujian DAN tersebut. Mengapa? Karena ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan saya sehingga saya enggan untuk mengikutinya.

Pertama, jujur sejak awal saya mengikuti kegiatan karate yaitu sejak SMA kelas 2, saya tak berambisi untuk menjadi seorang karateka penyandang sabuk hitam karena saat itu tujuan saya mengikuti karate adalah untuk suatu kegiatan yang bermanfaat yaitu olahraga, rasanya menjadi karateka penyandang sabuk cokelat saja sudah cukup bagi saya untuk saat ini.

Kedua adalah tanggung jawab. Tanggung jawab sebagai seorang karateka maupun sebagai penyandang sabuk hitam nantinya seandainya saya mengikuti ujian DAN tersebut walaupun belum pasti lulus. Karena setahu saya karateka penyandang sabuk cokelat apalagi hitam sudah selayaknya dan seharusnya mempunyai murid untuk dilatih dan membuka tempat latihan sendiri baik itu sebagai ekskul di suatu sekolah ataupun di tempat lain dalam arti lain bertanggung jawab mengembangkan ilmu bela diri karate, “harus bisa menjadi pelatih jangan hanya dilatih dan sebaliknya jangan hanya mau melatih tapi tak mau dilatih, keduanya harus seimbang” itulah kata-kata yang pernah diucapkan oleh pelatih saya. Namun hal itu tidak atau belum dapat saya lakukan. Mengingat pekerjaan saya yang memakai sistem tiga shift dan khawatir waktu latihan bentrok dengan kegiatan lain sehingga dapat menjadikan saya tidak konsisten dengan waktu latihan seandainya saya membuka latihan karate di suatu tempat dan khawatir juga tak ada teman yang dapat menggantikan saat saya berhalangan, intinya adalah saya belum dapat melakukan hal itu dan khawatir dengan tanggung jawab tersebut.

Selain itu, sebagai karateka penyandang sabuk cokelat tua, saya merasa banyak sekali kekurangan. Terutama kurang waktu latihan. Jujur semenjak saya bekerja apalagi ditambah dengan kuliah, waktu saya untuk latihan amat sangat jarang. Sangat bisa dihitung berapa kali saya latihan. Sebulan sekali mungkin ada. Karena memang saya menjadwalkan untuk latihan karate seminimalnya dalam sebulan itu saya ada waktu untuk latihan. Syukur-syukur bisa lebih. Namun kalau tak bisa ya apa mau dikata. Jangan memaksakan diri juga. Karena memang selayaknya dan seharusnya latihan karate itu baiknya seminggu minimal dua kali atau lebih bahkan jika sudah menyandang tingkatan sabuk yang tinggi seperti cokelat salah satunya kalau bisa malah latihan seminggu enam kali begitu yang pernah pelatih saya katakan dan ia lakukan juga hal tersebut. Namun pada kenyataannya saya amat sangat jauh dari yang seharusnya dilakukan.

Satu hal juga yang saya khawatirkan yaitu mengenai pasangan hidup. Jujur saya khawatir seandainya mendapatkan pasangan hidup yang tidak mendukung saya dalam kegiatan karate. Saya memang ingin sekali tetap bisa latihan sampai batas waktu yang tak ditentukan karena sayang rasanya jika saya meninggalkan karate begitu saja, kalau pun mau berhenti dari kegiatan karate mengapa tidak sejak dahulu saat masih SMA dan saat masih baru. Saya berharap minimal pasangan saya kelak masih memberi ijin kepada saya untuk tetap bisa latihan sebagai olahraga walaupun dengan syarat atau konsekuensi yang diberikan. Syukur-syukur seandainya dia juga seorang karateka yang mungkin juga akan mendukung bahkan membantu maka kemungkinan hal diatas pun akan berubah. Namun itu bukanlah salah satu kriteria. Apa yang Allah SWT berikan untuk saya nanti pasti yang terbaik untuk saya termasuk soal pasangan.

Pertimbangan ketiga adalah waktu dan biaya. Waktu sudah jelas bentrok dengan jadwal uas tadi. Biaya yang lumayan karena seharga gaji saya sebulan. Biaya yang tercantum di info tentang ujian belum termasuk biaya akomodasi lainnya, jadi hanya biaya ujian saja. Memang sih tempat ujian kali ini tak seperti tahun sebelumnya yang biasanya diadakan di tempat yang jauh, tapi ujian kali ini diadakan di OSO SPORT CENTER BEKASI dimana tempat itu adalah PUSAT KKI (Kushin Ryu M Karate-Do Indonesia) salah satu perguruan karate yang berada dibawah naungan FORKI (Federasi Olah Raga Karate Indonesia) dan setiap karateka khususnya dari KKI pasti ingin kesana. Mengingat tahun sebelumnya ujian diadakan di daerah lampung (jika saya tak salah ingat) dan harus menyebrang pulau bagi yang berasal dari daerah pulau jawa dan pulau lainnya karena biasanya saat ujian DAN dari berbagai daerah akan datang dan berkumpullah di suatu tempat yang bisa juga dijadikan sebagai ajang silaturahmi antar karateka dari berbagai daerah. Inilah salah satu hal positif yang membuat saya enggan meninggalkan karate walaupun tak berambisi untuk hal lain dibidang ini.

Itulah beberapa pertimbangan saya soal ikut ujian atau tidak? Dan pada akhirnya saya memilih untuk tidak mengikutinya karena waktu yang bentrok dengan UAS. Walaupun mungkin teman-teman saya yang lain ada beberapa yang akan mengikuti ujian DAN tersebut. Ya silakan saja, itu kan hak setiap karateka.

Senin, 14 Desember 2015

menulis

TAK HANYA MENULIS

Jika dikatakan menulis itu mudah, tak salah juga pernyataan seperti itu. Tetapi jika dikatakan menulis itu tidak mudah, tak salah juga jika ada yang mengatakan seperti itu. Mudah dan tidaknya tergantung yang menjalaninya.

Untuk saya pribadi, jika hanya sekedar menulis masih dapat dikatakan mudah. Tetapi yang sulit dan mempunyai tantangan tersendiri adalah mengaplikasikan sebuah tulisan dengan kehidupan pribadi sang penulis. Apalagi jika tulisan yang sering dibuat adalah tentang hal-hal kebaikan atau anjuran-anjuran maka mau tak mau suka tak suka ia pun harus mengaplikasikan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti misalnya sebuah judul tulisan “jangan malas” maka sang penulis pun harus mengaplikasikan judul tulisan itu dalam hidupnya yaitu sang penulis tak boleh malas dalam hal apapun. Itulah yang menurut saya agak sulit namun mempunyai tantangan tersendiri.

Jangan sampai hanya menulis saja, tetapi apa yang dituliskan itu adalah kosong. Maksudnya adalah tidak mengamalkan apa yang telah ditulisnya itu.

Sebuah tulisan tentang apapun akan menjadi pengingat tersendiri bagi pembaca atau pun penulisnya. Seperti judul tulisan “jangan malas” tadi dapat menjadi alarm tersendiri ketika seseorang sedang mengalami kemalasan. Bagi penulis saat ia malas mungkin ia akan ingat dengan tulisan yang pernah ia tulis dan ia harus mengamalkan tulisan itu jadilah ia yang tadinya sedang malas berubah menjadi mau mengerjakan sesuatu. Agar juga sang penulis tak hanya bisa menulis saja atau dengan kata lain jangan hanya bisa ngomong doank tetapi kenyataannya tak ada. Bagi pembaca bisa juga hal tersebut menjadi pengingat dalam hidupnya karena isi tulisan-tulisan tersebut yang pernah dibacanya membuat ia ingat tatkala ia sedang malas mengerjakan sesuatu hal akhirnya ia pun membuang rasa malas itu. Nah kalau sudah begini berarti sebuah tulisan tak hanya bermanfaat bagi penulis itu sendiri saja, tetapi juga bermanfaat bagi pembaca dan bahkan dapat menebar manfaat dan kebaikan melalui sebuah tulisan yang bermanfaat.

Maka salah satu cara menebar kebaikan dan manfaat adalah dengan cara menulis yaitu menulis tentang kebaikan atau menulis tentang suatu hal yang bermanfaat. Karena seperti kita ketahui “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” bukankah begitu?