apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Minggu, 04 Januari 2015

gigi



271214
GIGI

2014 moment yang mungkin baru pertama kali terjadi dan mungkin akan berefek pada tahun-tahun berikutnya. Yah gigi. Kenapa saya memberi judul tersebut. Karena pada tahun ini untuk pertama kali dan semoga untuk terakhir kali saya kehilangan satu gigi saya tepatnya gigi taring yang berada di depan. Huft......
Awalnya pada bulan september (karena bertepatan saat saya memulai kuliah) saya merasakan ngilu dan linu pada gigi saya langsunglah setelah kurang lebih 3 hari merasakan ngilu dan linu (walaupun saat itu saya coba memakai obat analgetik tetapi sementara) saya pun memutuskan untuk periksa gigi di puskesmas kedaung wetan (yah karena pkm ini yang dekat dengan rumah). Kenapa pkm? Kenapa tidak langsung ke rsu? Yah karena saat itu saya libur dan yang lebih dekat adalah pkm serta kalo bisa ditangani di pkm kenapa mesti ke rsu, begitulah pikir saya.
Akhirnya setelah diperiksa oleh dokter gigi cewe beliau mengatakan bahwa gigi saya sudah tidak bisa di tambal dan harus di cabut karena sudah tipis. Yah agak syok sih awalnya denger seperti itu. Karena saya tidak pernah ada masalah dengan gigi sebelumnya apapun itu jenisnya. Tapi setelah nanya-nanya dan diberi penjelasan akhirnya saya memutuskan untuk dicabut saja giginya daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun sebelum dicabut saya diberi antibiotik dan analgetik terlebih dahulu setelah seminggu pemberian obat tersebut baru ke pkm lagi.
Masih dalam bulan yang sama tepat akhir bulan september saya ke pkm lagi untuk periksa atau kontrol gigi setelah pemberian antibiotik dan analgetik sebelumnya. Memang sih tidak ada rasa ngilu atau linu lagi. Yah wajar saja tidak ada rasa sakit karena saya meminum obat anti nyeri. Tapi kalo memang harus di cabut ya sudah di cabut saja toh masih ada solusi lain, dari pada giginya tetap saya pertahankan dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (amit-amit) seperti INEFECTIVE ENDOCARDITIS misalnya, maka lebih baik dicabut saja. Setelah pencabutan maka saya pun menanyakan solusi lain yaitu pemasangan gigi tiruan atau gigi palsu lah. Yah dokter gigi cewe itu mengatakan tidak bisa langsung di pasang gigi tiruan atau gigi palsu tersebut harus pulih dahulu kurang lebih satu bulan di periksa lagi giginya dan tidak bisa dilakukan pemasangan di pkm. Ya sudah jika tidak bisa di pkm berarti saya harus cari tempat lain atau dokter gigi lain untuk pemasangan gigi tiruan tapi tentunya harus ada rujukan atau indikasi pemasangan gigi tiruan tersebut.
Sebulan setelah pencabutan gigi tersebut tepatnya akhir oktober saya kembali ke pkm untuk kontrol atau lebih tepatnya meminta rujukan untuk pemasangan gigi tiruan sekaligus ingin mengetahui diagnosa medis apa yang terjadi pada gigi saya karena saat saya menanyakan kepada dokter gigi cewe diagnosanya tidak jelas menurut saya jadi saya hanya menebak-nebak dan meraba-raba kan gak enak rasanya. Namun saat itu dokter gigi yang saya temui berbeda dengan dokter gigi yang mecabut gigi saya bulan lalu. Saat itu dokter gigi cowo yang saya temui dan saya pun menceritakan keinginan saya kepada dokter gigi cowo itu yang ternyata bernama drg M. Ilham. Setelah saya menceritakan keinginan saya tersebut dokter itu malah menawarkan diri jika mau memakai gigi tiruan namun memakai biaya karena sesungguhnya pemasangan gigi tiruan tidak ada di pkm dan beliau menjelaskan tentang macam-macam gigi tiruan serta lainnya. 



Jadi seperti saya berobat kepada dokter itu secara pribadi namun tempatnya saja di pkm. Yah saya paham betul akan hal tersebut. Dan pemasangan gigi itu pun sebenernya tidak terlalu diindikasikan atau diharuskan maka dari itu pemasangan gigi tersebut lebih kepada kecantikan toh sekalipun saya memakai jaminan atau asuransi saya tidak yakin asuransi akan menjamin pemasangan gigi tiruan hehehe.
Dan tepatnya tanggal 14 desember 2014 saya mengontak drg ilham untuk janjian tentang pemasangan gigi tiruan karena pesannya seperti itu jika ingin dilakukan pemasangan gigi tiruan harus mengontaknya terlebih dahulu minimal satu hari sebelumnya supaya dia membawa alat-alatnya.


Yah dan akhirnya disepakati bahwa saya akan menemuinya tanggal 16 desember 2014 karena tanggal 15 desembernya beliau tidak bisa karena ada rapat serta kebetulan juga saya pun tidak bisa karena harus long shift hehehe. Namun saat tanggal 16 desember sesuai kesepakatan saya ke pkm namun ternyata beliau lupa membawa alatnya yang sudah ia siapkan namun tak masuk dalam mobilnya.

Maka kami pun membuat pertemuan ulang yaitu tanggal 18 desember 2014 karena pada tanggal 17 desembernya beliau tidak bisa dikarenakan ada rapat. 17 desember 2014 saya mengontak drg ilham lagi untuk memastikan tanggal 18 desember sesuai penjanjian.
Akhirnya tanggal 18 desember 2014 (kebetulan saat itu saya sedang cuti dari tanggal 16-24 desember 2014 itu juga alasan kenapa saya baru mengontak drg ilham tersebut dan melakukan pemasangan gigi tiruan) dilakukanlah pencetakan gigi tiruan saya saat itu dengan sebelumnya drg ilham menjelaskan lagi tentang macam-macam gigi tiruan. Kurang lebih penjelasannya tidak jauh berbeda dengan isi buku tentang gigi yang saya punya.






Setelah dijelaskan akhirnya saya memilih gigi tiruan jenis valplast yang tidak memakai kawat (akrilik) dan dilakukanlah pencetakan. Yah mirip pembuatan obturator pada bayi yang bibir sumbing yang sering saya lakukan jika di rumah sakit. Dan saat itu barulah saya tau diagnosa medis apa pada gigi saya yang dicabut yaitu GANGREN PULPA (karena saya menanyakan hal tersebut kepadanya). Sempat kaget juga saya mendengar diagnosa tersebut yaitu gangren, yah tau sendirilah umumnya gangren itu bagaimana dan seperti apa jika dibiarkan. Dan akhirnya beliau pun tau siapa saya? Tepatnya pekerjaan dan status saya. Karena dia bertanya masa tidak saya jawab. Yaaaah ketauan deh, padahal jika saya ke pkm jujur saya tidak ingin orang lain tau siapa saya dan pekerjaan saya terutama.
Dan tanggal 25 desember 2014 drg ilham mengabarkan bahwa gigi tiruan saya sudah jadi dan siap pasang.


Akhirnya tanggal 26 desember 2014 dilakukanlah pemasangan gigi tiruan tersebut. Dan akhirnya saya memakai gigi tiruan jenis valplast tersebut dengan harga satu juta hehehe. Dan drg ilham pun menjelaskan mengenai perawatan gigi tiruan tersebut apa saja yang harus dan tidak harus dilakukan. Kurang lebihnya penjelasannya seperti ini.








Kenapa saya ingin memakai gigi tiruan? Karena area gigi saya yang di cabut berada di depan dan jika senyum lebar atau pun tertawa akan terlihat, maka dari itu saya ingin memakai gigi tiruan hanya untuk estetika saja mungkin. Jikalau gigi yang dicabut itu bukan di area depan maka saya pun mungkin tidak akan memakai gigi tiruan ini. Yah malu juga sih umur masih 20an sudah ompong gigi depannya seperti itulah kiranya hehehe.

absensi vs kehadiran

18desember2014
ABSENSI VS KEHADIRAN

Huft sebenernya lagi ga ada ide sih buat nulis malam ini. Tapi karena belom bisa tidur dan bingung juga mau ngapain jadi yaudah deh mending coba buat nulis kali ajah abis nulis saya bisa tidur karena lelah hehehe.
Yah tulisan kali ini agak agak gimana gitu? Kenapa? Karena saya ambil judul tentang ini yah karena memang kenyataan seperti itu yang terjadi dan saya alami hehehe ribet yah bahasanya. Maaf kalo judulnya agak nyindir atau gimana gitu?
Yah masih inget kalo tahun ini saya kuliah lagi ambil s1 keperawatan program non reguler yang kuliahnya weekend yaitu sabtu dan minggu full seharian. Yah sesuai dengan judul saya diatas setiap kuliah paling mahasiswa yang hadir hanya beberapa dari kurang lebih 30 mahasiswa kalo saya gak salah hitung. Hitung? Yah karena nama-nama yang ada di absensi belum tentu sesuai dengan yang sering atau pernah sesekali hadir dalam perkuliahan.
Pernah suatu hari lebih tepatnya sih belum lama ini tepatnya hari sabtu tepat tanggal 6 desember 2014 kalo gak salah hehehe karena saat itu saya aff malam yah habis dinas malam langsung cuz kuliah yang saya pikir saya akan telat tapi ternyata nihil. Nihil? Yah nihil. Maksudnya yah ternyata saat saya sampai kampus yang ada baru hanya saya dan seorang teman cewe yang memang sudah sedari tadi dia di kampus dan tak lama seorang teman cowo datang. Seingat saya, saya tiba di kampus kurang lebih jam 9an. Namun ternyata dosennya telah ada sejak jam 8. Waw....... akhirnya dari pada menunggu yang lain yang belum jelas akan datang kuliah atau tidak, akhirnya kami pun mulai perkuliahan dengan orang seadanya saat itu yah memang sih beberapa menit atau jam kemudian datanglah satu per satu teman kami. Hehehe. Begitu lah yang terjadi. Sebenernya bukan hanya saat itu saja.
Karena pernah juga sebelumnya saat mata kuliah agama budha (yah di kampus ku ini semua agama masuk dalam mata kuliah) karena dosennya belum tiba di kampus saat jam yang telah ditentukan maka kami para mahasiswa akhirnya bubar semua hingga mungkin hanya ada satu orang yang masih ada di kampus itu pun bukan di kelas dan hal ini pun membuat institusi khususnya koordinator kami agak gimana gitu? Hehehe. Ngerti lah......
Tapi akhirnya masalah itu pun selesai saat itu juga. Hehehe........ karena saya pun ikut bubar jalan saat itu karena tak ada mahasiswa lagi dan kalo pun saya tetap bertahan saat itu masa saya perempuan sendiri yang kuliah yang lain lelaki semua. Hehehe makanya ikutan kabur.
Next nya tepat hari sabtu lagi tanggal 13 desember 2014 pun kejadiannya sama seperti sabtu sebelumnya. Yah dosen sudah ada sejak jam 8 kalo gak salah. Dan memang posisi saya saat itu masih di rumah namun siap-siap mau berangkat. Karena saya gak mau sabtu sebelumnya terulang dan jujur saya sempet kecewa dengan itu semua entah lah saya mesti marah kepada siapa, ya sudah akhirnya saya pun agak males-malesan untuk berangkat kuliah hari itu walau pada akhirnya saya pun kuliah dan tiba di kampus kurang lebih jam 9an kalo gak salah dan saya orang ke lima yang hadir saat itu, yah perkuliahan saat itu hanya ada 5 mahasiswa dengan saya. Walaupun selanjutnya satu persatu teman datang hingga 9 mahasiswa kalo tidak salah.
Yah karena saya masih kesal dan mungkin juga kecewa dan bahkan sangat kecewa karena seseorang (cowo) ada yang bilang (dengan nada kesal mungkin) “kalo mau dateng, dateng ajah” itu kata-kata yang saya tangkap dari seseorang yang menyampaikan kepada saya. Padahal posisi saya saat bertanya tersebut tidak sedang santai di rumah atau di tempat lain, karena saat itu saya sedang perjalanan menuju kampus. Karena rasanya gak mungkin dosen mau mengajar jika mahasiswanya baru satu orang makanya saya menanyakan kepada teman siapa saja yang sudah ada di kampus karena saya gak mau kecewa lagi seperti sabtu sebelumnya.
Karena masih kesal maka saya pun berkonsultasi dengan seseorang yang tak lain adalah paman saya sendiri. Kenapa dia? Karena dia mengajar mahasiswa s2 yang mayoritas pastinya sudah bekerja bahkan mungkin sudah berkeluarga dan punya kesibukan masing-masing di luar kampus. Yah intinya jawaban hasil konsultasi saya dengan paman saya adalah jika dia dihadapkan pada mahasiswa yang tidak lengkap maka dia akan tetap mengajar dan memberi apresiasi pada mereka yang hadir serta akan mencoret bagi mereka yang tidak hadir karena untuk s1 kehadiran itu penting.
Yah semoga rasa kesal saya tentang ini semua bisa tersolusikan karena ada dosen yang rasanya mengabsen sendiri mahasiswa yang hadir dalam perkuliahannya. Saya rasa itu lebih baik. Jadi semangat lagi buat kuliah hehehe. Karena buat saya pribadi kehadiran dan kerajinan itu lebih utama mungkin dibanding kepintaran. Karena percuma pintar jika malas hehehe. Yah saya bisa berpendapat seperti ini karena saya mengalaminya sendiri saat pembuatan KTI saat d3 keperawatan 3 tahun yang lalu (yaaah gak kerasa saya lulus d3 keperawatan sudah 3 tahun). Karena saat sidang KTI dosen berkata kepada saya saat pengumuman kelulusan “NUUR FARIDA, RAJIN, LULUS” itu yang saya ingat. Bukan geer atau gimana????? Kata-kata itu membuat motivasi tersendiri untuk saya dalam melakukan hal yang seharusnya mungkin saya lakukan. Yah RAJIN mungkin kunci segalanya. Biarlah hasil akhirnya kita mungkin tidak akan tau seperti apa????? Yang penting prosesnya RAJIN karena buat saya itu suatu pengorbanan.
Kembali mengenai absensi vs kehadiran. Mungkin masih ada bertanya tentang judul ini. Yah absensi vs kehadiran, kenapa? Karena tandatangan di ABSENSI belum tentu ada KEHADIRANnya. Ngerti lah maksud saya seperti apa? Tidak usah terlalu frontal walaupun mungkin ini sudah frontal hehehe. Mohon maaf lagi sebelumnya tentang tulisan ini.
Yah walaupun saya tau penyebab itu semua. Yah penyebab ketidakhadiran. Tapi mahasiswa tetaplah seorang mahasiswa. Mau di luar itu dia seorang apapun tetapi saat di kampus dan semenjak dia mendaftarkan diri untuk kuliah maka saat itulah dia menjadi mahasiswa yang pastinya dengan segala resiko yang mungkin akan harus dia jalani dan seharusnya lagi resiko tersebut sudah harus di pikirkan. Jadi menurut saya sebenernya tak ada alasan ini itu karena seharusnya mahasiswa tersebut sudah mengetahui konsekuensinya. Banyak contoh kasus yang mungkin bisa jabarkan tapi itu tak ingin saya tulis. Jadi mungkin cukup sampai disini saja tulisan saya mengenai hal ini. Hehehe (gak ada ide koq bisa jadi banyak gini yah hehehe).

Minggu, 21 Desember 2014

jika

13 desember 2014
JIKA

Jika aku menikah mungkin beban orangtua atas tanggung jawabnya terhadapku akan berkurang bahkan mungkin hilang.
Jika aku menikah mungkin bapakku tak perlu lagi repor-repot untuk antar jemputku saat kerja dan mungkin tidak perlu khawatir lagi jika aku belum pulang.
Namun
Jika aku menikah apakah aku akan mampu untuk melaksanakan semua tugas dan kewajibanku sebagai istri bahkan sebagai ibu nantinya?
Jika aku menikah apakah aku masih bisa bebas melakukan segala aktivitas yang aku lakukan sebelum menikah?
Setiap ada keinginan selalu terbersit rasa kekhawatiran dan ketakutan
Yah memang semua itu mungkin tergantung dengan komitmen diantara keduanya yaitu aku dan sang pasanganku kelak yang belum aku ketahui siapa?
Andai saja didalam islam menikah itu bukan suatu ibadah ataupun sebuah kewajiban mungkin aku tidak akan memikirkan hal ini dan mungkin aku akan masa bodo dan bahkan cuek atau bisa saja aku akan sangat cuek dengan hal ini.
Mungkin inilah yang menjadi pertimbangan orang untuk melangsungkan pernikahan padahal mereka mungkin sudah pacaran bertahun-tahun. Mungkin ketakutan untuk BERKOMITMEN yang mungkin membuat mereka menunda menikah atau belum menikah dan bahkan tidak menikah-menikah hingga akhirnya lewat usia. Mohon maaf sebelumnya ini hanya pendapat saya yang mungkin tidak berkenan bagi pembaca. Saya hanya berpikiran mungkin saja mereka belum menikah karena takut berkomitmen terhadap pasangan mereka masing-masing ini bagi yang sudah lama pacaran yang ujung-ujungnya sampai sekarang belum sah atau resmi juga.


 

Atau mungkin ada alasan lain seperti saya misalnya jika saya ditanya kenapa belum menikah? yah walau usia saya saat ini masih terbilang muda mungkin yaitu 22 tahun tetapi memang teman-teman kuliah bahkan teman-teman sekolah sudah banyak yang menikah bahkan mempunyai anak bahkan anaknya sudah ada yang sekolah. Saya hanya bisa menjawab mau menikah dengan siapa, partner ajah belum ada. Yah jadi bisa disimpulkan alasan saya belum menikah karena apa? Partner? Yah partner? Lagi dan lagi partnerlah yang menjadi alasan. Jadi bagi yang sudah punya partner mau alasan apa lagi untuk menyudahinya? Ingat hidup itu terus berjalan dan berlalu masa mau begini-begini ajah (gak nikah-nikah maksudnya, ini bagi yang sudah menemukan partner loh hehehe mohon maaf lagi jika tulisan saya ini tak berkenan).
Teringat obrolan dengan ibu semalam (karena ternyata tetangga depan rumah saya anaknya telah di lamar seorang pria) tentang hal itu (marry) yang saya ingat hanyalah ibu bilang kalo bisa tidak lebih dari umur 25 tahun karena kalo sudah lebih dari usia 25 tahun biasanya sudah malas dan tentunya dengan kriteria yang sesuai, seimbang dan sederajat (intinya jelas orangnya dan asal usulnya) jangan lihat orangtua atau keluarga besarnya seperti apa atau bagaimana? serta tak lupa yang paling pertama serta sangat utama adalah AGAMA. Simple kah? Yah simple sih tapi jujur ada hal yang saya tak suka disini. Apa itu? Jujur saya tak suka di patok atau di target untuk hal tersebut. Memang sih ibu bilang tidak mau buru-buru selesaikan dulu kuliah (ingat saat ini saya sedang dalam proses study s1 saya). Namun tetap saja omongan ibu yang “kalo bisa tidak lebih dari umur 25 tahun” membuat saya terkadang kepikiran. Kenapa begitu? Hitung saja usia saya sekarang 22 tahun berarti maksimal 2-3 tahun lagi saya mungkin harus menikah untuk memenuhi keinginan ibu. Memenuhi keinginan? Yah mungkin akan terkesan seperti itu? Memenuhi keinginan. Karena jujur saya tak mau menargetkan usia berapa saya harus menikah? Saya hanya ingin menjalani yang seharusnya memang saya jalani. Tidak mau berpatokan pada usia 25 tahun untuk menikah. Ingat loh untuk menikah.
Yah jujur sih saya memang masih ingin melanjutkan pendidikan saya hingga s2 kalo bisa. Yah setidak-tidaknya saya bisa menyelesaikan s1 saya sebelum saya berusia 25 tahun dan alhamdulilah hal tersebut sedang saya jalani walaupun mungkin harus kucing-kucingan dengan senior hehehe. Dan kedua saya ingin sebelum umur 30 tahun saya telah menyelesaikan s2 saya. Yah semoga seperti itu. Terus jika masih ada yang bertanya lalu menikahnya kapan? Jujur kalo sudah ada partner yang sesuai saya tidak mau menunda. Ingat loh tidak menunda menikah. Hanya menikah. Tetapi saya juga masih ingin BEBAS TAPI TERBATAS setelah menikah. Apa itu BEBAS TAPI TERBATAS???? (ini sudah ada pada tulisan saya sebelumnya).
Yah intinya jika saya menikah dan saya belum menyelesaikan s1 ataupun s2 saya nantinya, saya ingin setelah menikah nantinya tetap diijinkan untuk melanjutkan pendidikan sesuai dengan keinginan saya. Ingat loh ini baru seandainya karena sesungguhnya saat ini hal tersebut belum saya jalani bahkan belum ada rencana (marry).

target


10 desember 2014
TARGET

Target.... yah target.... ada yang pernah bilang ke gue hidup itu harus punya target, kalo gak ya mending ga usah hidup..... kalo dipikir-pikir bener juga sih itu kata-kata..... yah kalo kita ga punya target kita ga tau besok mau ngapain ajah????? Jadwal kegiatan hari ini apa????? Dan rasanya mungkin hidup akan monoton kalo kita ga punya target......


Yaaah 2014 udah mau berakhir....... lalu apa targetmu selanjutnya????? 2015????? Keinginan untuk ini itu sih ada...... terutama 2015 target gue adalah lulus sarjana dulu kali yaaah. Bukan berarti target lain gak ada. Gue pengen kursus bahasa inggris, gue juga pengen kursus renang, pengen juga lanjut pendidikan sampai minimal S2, pengen punya rumah pribadi dan pengen juga punya rumah perawatan hahaha. Rumah perawatan apaan tuh? Gue juga ga tau. Yah tiba-tiba kepikiran ajah kaya gitu mungkin karena profesi gue juga. Sempat mikir kalo bidan kan biasanya punya rumah bersalin atau praktek bidan, dokter mungkin akan punya rumah sakit. Dan tiba-tiba terbersit dipikiran gue tentang rumah perawatan yang gue sendiri belum tau seperti apa konsep rumah perawatan itu yang pasti yang ada dipikiran gue rumah perawatan itu lebih umum karena bukan hanya untuk orang sakit tapi juga untuk yang sehat dan mungkin juga bisa saja bukan untuk manusia tapi bisa juga untuk yang lainnya. Ingat loh perawatan berasal dari kata rawat yang gue pikir setiap benda atau apalah itu butuh perawatan hehehe itu baru yang ada dipikiran gue dan gue sendiri pun belum tau seperti apa? sudah ada atau tidaknya tentang rumah perawatan itu gue juga ga tau hehehe. 

Gue ga tau kapan semua itu akan terealisasi. Yang pasti target 2015 adalah lulus sarjana dulu. Selanjutnya 2016 mungkin bisa lanjut pendidikan, nah sambil nunggu 2016 lanjut pendidikan mungkin gue akan ambil kursus. Karena bosan rasanya hanya rumah, tempat kerja, tempat latihan dan kolam renang, maka dari itu tahun 2014 gue memutuskan untuk kuliah lagi walaupun terkesan nekat. Yah nekat, kenapa nekat? Nekat soal waktu, biaya dan ijin juga sih tapi selama orangtua mendukung gue akan merasa aman dengan semua itu. Toh kalo ada apa-apa sama gue, gue akan ke orangtua bukan ke teman ataupun bos gue di tempat kerja. Walaupun kadang gue keteteran sendiri dengan jadwal setiap bulan yang kadang suka bentrok antara kerja dan kuliah yah tapi itulah resiko yang gua jalani yang penting pinter bagi waktunya ajah dan berani juga ambil resiko. Yah target atau rencana di atas baru lah hanya keinginan gue semata yang belum tentu kapan terealisasinya.  Tapi setidak-tidaknya gue punya rencana atau target mau ngapain tahun nanti? Supaya gue juga tau hidup gue mau dibawa kemana atau mau ngapain ajah.
Mungkin ada hal yang kurang dari semua rencana gue itu. Kalo ada yang cermat dan teliti pasti tau apa hal yang kurang itu? MARRY? Yah menikah? Mengingat umur gue sekarang yang memang baru 22 tahun sih tapi hidup dan waktu kan terus berjalan, sekarang mungkin dianggap gue masih muda atau bahkan terlalu muda mungkin untuk memikirkan hal itu. Tapi nanti? Apakah anggapan MUDA tersebut masih berlaku?????

Mungkin rencana diatas bisa gue target kan. Tapi tidak dengan rencana MENIKAH. Jujur gue ga bisa target kan tentang rencana menikah itu. Kenapa? Kalo target yang gue sebut di atas bisa gue lakukan sendiri tanpa partner. Beda halnya dengan menikah, menikah kan tidak sendiri, harus ada partner atau pasangan kan? Itu lah yang tidak bisa gue target kan, tidak bisa gue jawab atau perkirakan.


Pengennya sih kaya gitu, tapi apa daya kalo emang belom ada. Kan jodoh itu bukan siapa cepat dia dapat, tapi jodoh adalah bila Allah dah tetapkan akan pasti dapat. Jadi sambil menunggu lebih baik seperti ini kata AHMAD RIFAI RIFAN jika memang target nikahmu masih lama, maka fokus saja dulu memperjuangkan mimpi-mimpi lain yang ingin seger diraih. Jangan malah menghabiskan masa muda untuk hal yang tak penting. Hebatkan masa muda dengan aktivitas yang produktif. Insya Allah dengan itu kelak Allah akan mempertemukanmu dengan sebaik-baik pendamping hidup di waktu yang tepat. Amiiiiin. Sebenernya sih bukan target nikah yang masih lama, tapi lebih tepatnya belum ada partner.


Dan juga bukan menunda namun partner yang memang belum ada. Dan mungkin juga saya menunggu yang seperti ini hehehe. Sesuatu rasanya jika ada seorang laki-laki yang sesuai untuk saya datang ke rumah dan langsung mengkhitbah. Nilai plus plus deh keren dan gentle bingiiiitzzzzz.

Jadi BUKAN TARGET NIKAH YANG MASIH LAMA ATAUPUN MENUNDA MENIKAH namun memang karena belum ada partner untuk menjalankan ibadah itu. jika dalam islam menikah itu sebagai ibadah maka itu dianjurkan bahkan jika tidak melakukannya dianggap bukan umat NABI MUHAMMAD SAW ada hadits nya kan? hehehe, akan berbeda jika ini dibaca oleh non muslim. Mohon maaf sebelumnya. Mungkin jika menikah bukanlah suatu kewajiban seorang muslim atau muslimah mungkin juga saya tidak akan memikirkannya.
Jujur ada ketakutan dalam diri saya tentang hal ini. Yah tentang menikah. Bisakah saya menjadi seorang istri dengan tugas dan kewajibannya? Bisakah saya menjadi seorang ibu dengan tugas dan kewajibannya? Bisakah saya melakukan itu semua? Bisakah saya? Bisakah saya? Akh.... pertanyaan ini yang selalu membuat saya agak parno sebenernya. Ditambah terkadang saya mendengar atau melihat teman-teman yang sudah menikah dan mereka hanya fokus di rumah dan mengurus rumah tangga serta melepas semua kegiatan yang sebelum menikah ia lakukan. Jujur saya ga mau seperti itu. Saya tau tugas istri adalah memang seperti itu dan harus taat serta patuh terhadap suami. Namun menurut saya sang suami pun harusnya tak egois dengan melarang sang istri untuk tidak melakukan ini itu semua kegiatan yang biasa sang istri lakukan sebelum bersama sang suami. Saya tidak ingin seperti itu.  Kenapa? Karena sang suami tidak selalu berada di atas. Apa maksudnya? Jika sang suami melarang sang istri untuk bekerja dengan alasan apapun dan sewaktu-waktu sang suami mengalami PHK atau pemecatan atau apalah yang membuat si suami katakanlah bangkrut sedangkan sang istri tidak bekerja dan tidak menerima gaji lalu mau dapat dari mana pemasukan atau pendapatan suami istri itu. Yah saya tau rejeki memang tidak akan kemana dan tidak akan tertukar. Namun tidak akan dapat juga jika tak kemana-kemana (tidak berusaha maksudnya). Maaf kalo pendapat saya ini mungkin tidak sependapat atau seprinsip dengan yang membaca tulisan ini. Atau mungkin pendapat saya ini kurang jelas. Bisa konfirmasi langsung ke saya.
Teringat omongan ibu kepada saya entah kapan. Yang saya ingat adalah “kalo bisa rumah tangga itu jangan nyampur dengan orang tua atau pun mertua dan kalo bisa minta tetap di perbolehkan bekerja dengan alasan saya punya skill kecuali jika saya tidak bisa apa-apa”. Itu pula yang ibu ajukan kepada bapak sebelum menikah dan hingga kini semua itu berjalan lancar alhamdulilah. Dan saya pun menginginkan seperti itu ketika saya telah menikah, saya masih ingin tetap diijinkan melakukan semua kegiatan saya sewaktu saya single dengan prinsip BEBAS TAPI TERBATAS. Yah itu mungkin sudah lebih dari cukup buat saya. Maksudnya apa? Misalnya setelah menikah tetap diijinkan untuk bekerja atau kegiatan lain, namun setelah selesai itu semua langsung pulang jika di rumah sudah ada yang menanti hehehe. Dan itu menurut saya rasanya harus ada komitmen diantara kedua pasangan itu. Mungkin bisa dibuat perjanjian hehehe.
saya jadi teringat cita-cita sewaktu SMA dulu. Namun hal ini hanya saya yang tau. Sempat terbersit dalam pikiran untuk 3K yaitu kuliah, kerja, kawin. Terbersit karena mendengar cerita dan membaca buku tentang kisah orang-orang yang berhasil dengan melakukan tiga hal itu. Sesuatu rasanya. Namun hal itu tidak terwujud sampai sekarang. Kenapa? Yah itu dia partner yang belum ada. Mungkin bosan dengan alasan seperti ini yang dari tadi saya sebutkan. Tapi memang alasannya adalah itu PARTNER & PARTNER. Ga akan jadi pernikahan kan kalo tidak berpasangan atau pun tidak ada partner? Ga mungkin kan orang menikah sendirian tanpa pendamping disisinya.

Jadi jangan cuma bisanya nanya WHEN? WHEN? Dan WHEN? Kalo si penanya juga belum nikah atau si penanya sudah nikah tapi ga kasih solusi juga wkwkwk (dicariin gitu hahaha). Koplak........