apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Rabu, 20 Januari 2016

time



WAKTU

Setelah membaca buku terbarunya Andi Arsyil dengan judul 4U BUILD YOUR OWN EMPIRE, ada satu kalimat dalam buku tersebut yang selalu mampir dibenak saya yaitu “kalau orang bilang time management sangat penting, buat saya lebih penting activity management”. Setelah baca penjelasannya juga barulah saya paham akan pernyataannya itu. Alasannya adalah waktu tak pernah berubah. Dalam arti, satu tahun tetap dua belas bulan, satu bulan tetap tiga puluh hari, satu hari tetapi dua puluh empat jam, satu jam tetap enam puluh menit, dan satu menit tetap enam puluh detik. Tak pernah berubah sedikit pun. Tak pernah ada satu hari itu dua puluh tiga atau pun dua puluh lima jam. Namun yang terkadang kasihan adalah si waktu yang selalu menjadi “salah”. Karena ia selalu saja menjadi alasan jika suatu pekerjaan tak terselesaikan. Alasan “sibuk” atau pun “tak punya waktu”, “tak ada waktu luang” dan alasan lainnya dengan notabene “waktu” mungkin seringkali kita dengar yah.

Itulah “waktu” yang selalu saja dipersalahkan. Padahal kalau mungkin mau dipikir-pikir lagi dari pernyataan Andi Arsyil itu yang salah memang bukanlah “waktu” atau yang disebut “time management”, tetapi “activity management” yang harus dikoreksi lagi. Activity management yang berarti manajemen aktivitas atau dapat diartikan pula pengelolaan kegiatan, itu yang rasanya perlu diperiksa. Apakah kegiatan yang kita lakukan sehari-hari sudah benar dan bermanfaat, atau jangan-jangan hanya buang-buang waktu saja? Sehingga akhirnya “waktu” lah yang ujung-ujungnya disalahkan lagi. Untuk activity management, rasanya dalam sehari-hari perlu dibuat tentang prioritas kegiatan yang dirasa perlu dan penting untuk dilakukan hingga yang sama sekali tak menjadi prioritas sehingga jika tak dilakukan pun tak akan menjadi masalah.

Saya pun masih harus belajar lagi tentang activity management ini. Karena masih seringnya pula mengkambinghitamkan si waktu itu. Kasihan kan yah.

Selasa, 19 Januari 2016

rumah



RUMAH

Rumah yang merupakan sebuah bangunan beratap untuk berteduh, menghindari panas matahari dan dinginnya air hujan, tempat untuk beristirahat, tempat singgah juga. Yang pasti semua orang membutuhkan tempat ini. Walaupun pada kenyataannya tak semua orang memilikinya. Namun ada hal yang menurut saya harus diperhatikan jika memiliki sebuah rumah. Satu hal yang menurut saya penting yaitu jangan sampai rumah yang kita tempati mengganggu orang lain atau bahkan mengambil hak orang lain. Dalam arti, saat membeli atau membuat rumah perhatikan apakah rumah yang kita bangun tersebut melebihi batas tanah sehingga mengambil lahan tanah orang lain atau pun lahan umum. Walaupun yang diambil mungkin hanya beberapa centimeter saja. Tetap itu bukanlah hak kita. Selain surat-surat resmi yang legal, hal itu pun saya rasa perlu untuk diperhatikan. Yang kedua dalam membuat atap rumah atau pun tempat penampungan air hujan, perhatikan kemana jatuhnya air hujan tersebut. Kalau bisa jatuhnya air hujan dari atap rumah masih dalam lahan tanah yang kita miliki. Sehingga jika turun hujan maka air hujan yang jatuh dari atap rumah tidak turun ke jalan atau pun ke lahan lain, karena khawatir mengganggu orang lain yang lewat di sekitar rumah kita. Yaitu khawatir terciprat air tersebut.
Mengingat belum lama ini orang tua merenovasi sebagian rumah yaitu menambah satu ruang untuk kamar dan juga menambah atap dengan fiber hingga sampai batas pagar rumah. Ada yang menjadi perhatian saya dalam hal ini, yaitu tentang atap fiber tersebut. Saat sudah selesai pemasangannya. Maka saya perhatikan atap tersebut dan berpikir “jika hujan kemana air akan jatuh? Ke jalankah? Atau ke saluran air di depan pagar?”. Akhirnya saya tanyakan hal itu kepada ayah saya, dan dijawab “gak ke jalan koq, jatuhnya ke selokan. Bapak juga ngerti hukumnya”. Saya tak meneruskan karena sudah dijawab “ngerti hukumnya”. Yah kalau memang mengerti hukum, maka baiknya mengaplikasikan hukum tersebut. Jangan hanya mengerti saja tetapi tak dipakai. Seperti halnya mengerti bahwa shalat itu wajib, tetapi tak pernah shalat. Lebih baik tak mengerti sama sekali.
Akhirnya setelah atap itu dicoba air, ternyata jatuhnya air tersebut bukanlah ke selokan depan pagar namun ke jalan umum. Sudah tahu seperti itu, maka dipotonglah atap fiber tersebut beberapa centimeter. Agar saat hujan turun airnya tidak jatuh ke jalan umum, namun ke selokan tersebut. Kebetulan beberapa hari setelah pemotongan atap fiber tersebut, hujan pun turun. Langsung saja saya memperhatikan kemana air jatuh dari atap fiber tersebut, dan benar jatuhnya air tersebut sudah tidak ke jalan umum lagi melainkan ke selokan. Namun sebenarnya masih ada hal yang saya khawatirkan, yaitu khawatir air yang jatuh ke selokan tersebut muncrat atau menciprat ke jalan umum dekatnya. Namun sudahlah, karena itu bisa saja terjadi jika intensitas hujan besar saja mungkin. Yang penting jatuhnya air bukan ke jalan umum lagi karena khawatir mengganggu orang yang lewat dengan cipratan airnya.

Senin, 18 Januari 2016

cerita minggu



Cerita minggu pagi 17 januari 2016. Ketika akan pergi ke kampus tiba-tiba ada seorang ibu tua memanggil saya dan meminta tolong menurunkan seorang ibu yang ternyata post partum dari dalam angkot. Saya pikir ibu tua dan ibu post partum itu adalah ibu dan anak. Tetapi ternyata bukan. Ibu post partum itu ternyata seorang diri, ia mengaku anak yang dilahirkannya meninggal di rumah sakit dan suaminya kabur, dia juga sempat mengatakan ingin bunuh diri saja. Saat ditanya tentang keluarga yang lain, ia hanya menjawab bahwa ia punya keluarga lain di tangerang. Saya pikir tangerang itu kan luas. Setelah saya tanya lagi ternyata dia bilang tangerang arah parung. Maka persepsi saya adalah mungkin daerah tangerang selatan yang mau ke arah parung itu. Dia lalu meminta uang sebesar dua puluh ribu untuk pulang. Karena memang dia tak mempunyai uang sama sekali. Namun uang di dompet saya pun pas-pasan hanya ada satu lembar lima puluh ribu dan tak mungkin rasanya saya memberikan uang kepada ibu itu karena saya pun harus membayar ongkos untuk ke kampus dengan uang tersebut. Tak lama angkot R01 lewat di depan ibu tersebut dan ia langsung menghentikan angkot itu ditambah lagi sang supir pun menawarkan angkutannya. Yang saya bingung adalah jika memang ia ingin pulang ke keluarganya yang lain yang ia katakan berada di daerah tangerang arah parung, mengapa ia menghentikan angkot R01 yang sudah jelas bukan trayek ke arah parung. Karena ibu tersebut sudah masuk ke dalam angkot itu, ya sudah saya biarkan saja dan saya bayar saja ongkos ibu tersebut langsung kepada supir. Entahlah endingnya bagaimana ibu itu? Karena angkot yang saya gunakan untuk ke kampus berbeda dengan angkot yang ibu itu naiki. Pikiran macam-macam sempat muncul di benak saya. Karena ia sempat mengatakan ingin bunuh diri, jangan-jangan ia naik angkot tersebut mencari tempat untuk melakukan hal itu. Tapi sudahlah saya juga punya kepentingan lain saat itu dan saya juga bingung apa yang harus saya perbuat saat itu.

Kamis, 14 Januari 2016

resolusi



RESOLUSI



Sudah tahun 2016, banyak sekali di media-media yang membicarakan soal resolusi. Banyak di media sosial seperti facebook yang saya lihat menuliskan tentang resolusi mereka di tahun 2016. Tak kalah juga banyak status bbm yang menuliskan tentang resolusi mereka. Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah pentingkah sebuah resolusi di tahun baru? Karena dominannya kata “resolusi” keluar selalu di saat pergantian tahun baru masehi. Tak ada saat tahun baru hijriah membicarakan soal resolusi tersebut. Sehari sebelum pergantian tahun pun saya sempat menonton televisi yang membahas mengenai hal ini yaitu Resolusi? Penting atau tidak? Jawabannya pun tak jauh dari dua pilihan tersebut yaitu ada yang mengatakan “penting” namun ada juga yang mengatakan “tidak” dengan alasan tentunya. Itu sah-sah saja dan wajar. Toh itu pendapat setiap orang. Itu jawaban masing-masing individu. Mau jawabannya penting atau tidak itu terserah kepada mereka yang menjawab.

Namun untuk saya pribadi yang penting bukanlah sebuah resolusi, tetapi bagaimana agar apa yang direncanakan bisa terwujud. Bagaimana agar sebuah keinginan bisa terealisasi. Bagaimana agar sebuah cita-cita bisa tercapai. Mungkin akan percuma jika resolusi hanya sebuah resolusi belaka tanpa tindakan bagaimana agar resolusi tersebut dapat diwujudkan di tahun yang mereka tetapkan itu. Mempunyai keinginan, mimpi, cita-cita, harapan atau pun rencana itu wajar saja bahkan mungkin diharuskan. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana agar semua itu bisa terwujud. Pada dasarnya tak ada yang tak mungkin jika semua diusahakan. Tak ada salahnya dengan impian yang muluk dan cita-cita yang tinggi. Karena semua itu bisa saja dapat dijadikan suatu motivasi untuk mencapainya.

Banyak orang yang menuliskan resolusi mereka di media sosial. Untuk saya pribadi lebih baik mereka tuliskan hal tersebut di catatan harian mereka. Sederet rencana yang mereka tetapkan lebih baik mereka tuliskan di note pribadi saja. Mungkin secara garis besar boleh lah mereka tuangkan di sebuah media sosial. Cara-cara untuk mencapainya baiknya dijabarkan di tempat lain. Misalnya saja di tahun ini harus lebih baik lagi, di tahun ini harus lulus kuliah, di tahun ini harus dapat pekerjaan. Mungkin jika yang mereka tuliskan seperti itu menurut saya masih wajar karena sifatnya masih umum. Namun cara-caranya lebih baik mereka lakukan bukan hanya dituliskan saja di media sosial. Seperti contohnya “menjadi lebih baik” banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih baik. Nah cara-caranya tersebut baiknya dituliskan di memo saja kemudian realisasikan dalam sebuah tindakan yang baik.

Maka dari pada pusing-pusing menetapkan resolusi, lebih baik jalani saja apa yang seharusnya dijalani. Atau rutinkan suatu hal yang baik entah itu setiap hari, seminggu sekali, atau pun sebulan sekali. Agar lama-lama menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan begitu saja. Mungkin juga dengan begitu resolusi yang sebelumnya tak pernah ditetapkan bahkan tak pernah terpikirkan lama-lama akan terwujud karena sudah dibiasakan dilakukan itu.

Jumat, 08 Januari 2016

salahkah?



APAKAH SALAH?

Belum lama ini saya membuat “status” di media sosial yaitu facebook bertuliskan “apakah perlakuan orang tua kepada anak laki-laki dan perempuan harus dibedakan?” dan akhirnya pertanyaan saya tersebut dijawab oleh seseorang, inilah jawabannya.







Sedangkan referensi yang saya dapatkan dari sebuah buku yang saya punya adalah seperti ini




pertanyaan berbagai pertanyaan pun menganggu benak saya.

Apakah salah jika anak laki-laki disuruh oleh orang tua untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, memasak, mencuci, menyetrika dan lainnya? (jujur saya hanya membutukan satu kata dari pertanyaan itu yaitu jawaban “ya” atau “tidak” cukup itu saja dan tidak lebih, jadi mohon jika mau menjawab hanya itu jawabannya).

Lalu apakah salah jika seorang laki-laki melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, memasak, mencuci, menyetrika dan lainnya? (jujur saya hanya membutukan satu kata dari pertanyaan itu yaitu jawaban “ya” atau “tidak” cukup itu saja dan tidak lebih, jadi mohon jika mau menjawab hanya itu jawabannya).

Jika hal tersebut salah, tidakkah ingat banyak profesi yang mungkin sebaiknya digeluti oleh wanita namun pada kenyataan banyak pula laki-laki yang melakukannya contohnya adalah koki atau juru masak, penjahit atau desainer, office boy dan mungkin banyak pekerjaan lainnya. Jika pekerjaan itu salah jika dilakukan oleh laki-laki dan seharusnya hanya boleh wanita yang melakukannya, lalu mengapa pada kenyataannya adalah seperti itu? Salahkah? Jika salah lalu mengapa dibiarkan begitu saja tanpa ada pelarangan nyata.

Jika dibalik bisa saja seperti ini, banyak wanita juga yang melakukan pekerjaan yang mungkin seharusnya pekerjaan itu dilakukan oleh laki-laki seperti pekerjaan menjadi polisi, security dan pekerjaan lainnya. Jika itu salah, maka seharusnya bagaimana agar tak salah? Bukankah jika ada hal yang salah maka dibutuhkan suatu perbaikan dari kesalahan tersebut agar tak menjadi salah atau dengan kata lain yang salah diperbaiki agar benar. Gak mau kan selama hidup bergelut dalam kesalahan yang tak tau kebenarannya seperti apa seharusnya?