apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Kamis, 19 November 2015

protection


PROTEKSI ITU PERLU

Apa yang ada diotak saat mendengar kata proteksi? Proteksi berarti perlindungan. Perlindungan dalam hal apapun. Mungkin yang sering didengar adalah proteksi pada bidang kesehatan yang biasa disebut dengan jaminan kesehatan atau lebih kerennya dikenal dengan istilah asuransi. Tetapi bukan hanya itu soal proteksi. Jika dilihat lebih luas lagi maka istilah ini sebenarnya tidak hanya terbatas pada kesehatan atau jaminan asuransi semata. Proteksi bisa juga untuk yang lain dan tidak hanya kesehatan, seperti pendidikan, jaminan hari tua yang walaupun semuanya itu memang ada pada suatu asuransi. Namun yang terpenting lagi adalah proteksi berupa ilmu. Mengapa? Dengan ilmu maka semua yang diinginkan Insya Allah bisa didapat dengan ijinNya yang pasti.

Apa maksud proteksi dengan ilmu? Dengan ilmu yang kita miliki maka kita dapat melindungi diri kita sendiri khususnya dan juga orang lain. Ilmu apapun bisa menjadi proteksi. Sebagai contoh, ilmu keperawatan yang notabenenya berkecimpung di dunia kesehatan. Seperti diketahui dibidang kesehatan banyak sekali macam-macam penyakit yang bermunculan yang pasti semua itu ada sebabnya dan jikalau penyakit itu diketahui sebabnya apa maka kemungkinan diri ini sebisa mungkin menghindari penyebab dari datangnya suatu penyakit itu. Nah itu yang dimaksud dengan proteksi dengan ilmu. Walaupun secara sekilas hal tersebut mungkin mirip dengan pencegahan. Namun karena istilah pencegahan itu lebih sering dikaitkan dengan suatu penyakit yaitu lebih baik mencegah daripada mengobati, maka dari itu dipakailah istilah proteksi yang menurut saya lebih umum.

Contoh lain soal proteksi selain asuransi dan ilmu keperawatan yaitu ilmu beladiri. Ingat ilmu beladiri jenis apapun jika ditanya mengapa mengikuti suatu kegiatan beladiri maka kemungkinan jawaban yang akan keluar dari mulut sang penjawab salah satunya adalah untuk menjaga diri disamping jawaban-jawaban lain yang mendukung. Nah hal ini sama artinya juga dengan proteksi yaitu melindungi diri dari serangan orang-orang jahat yang iseng yang mungkin saja ditemui sewaktu-waktu tanpa mengenal tempat. Minimal dapat melindungi diri sendiri baru kemudian akan lebih bermanfaat jika bisa juga untuk melindungi orang lain.

Contoh lain akan lebih banyak. Ilmu apapun dapat dijadikan suatu proteksi baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Karena ilmu yang dimiliki itu banyak sekali manfaatnya. Maka dari itu banyak istilah tentang suatu ilmu tersebut. Ilmu itu perlu bahkan sangat diperlukan. Karena jika tak ada ilmu apa yang bisa dilakukan? Semua tindakan yang dilakukan pasti butuh ilmu sekalipun tindakan tersebut mungkin dianggap sangat ringan.

Proteksi itu perlu dan sangat amat diperlukan. Baik dalam hal jaminan kesehatan, hari tua ataupun pendidikan dan juga proteksi berupa ilmu. Bayangkan jika proteksi itu tak ada? Misalkan saja proteksi kesehatan, saat sakit pasti bingung, bingung bukan karena tak mau untuk menjalani pengobatan tetapi bingung karena bayar pengobatan memakai apa sedang rupiah tak dimiliki. Oleh karena itu dalam hal ini proteksi itu amat sangat penting. Walaupun kadang hal ini tak disadari oleh semua orang yang sehat, saat diberi penyakit barulah ia sadar. Maka wajar saja jika banyak penawaran tentang jaminan kesehatan baik dari pihak swasta maupun pemerintah. Pikir positifnya saja mereka itu peduli dengan orang lain terutama dalam hal kesehatan agar saat kita sakit maka tak perlu pusing dan bingung menjalani pengobatan. Terkadang mereka lebih sayang mengeluarkan beberapa rupiah untuk membayar sebuah jaminan kesehatan dan berpikir “untuk apa membayar toh saya tidak sakit”. Yang sering terjadi mereka membayar saat pertama kali saja yaitu saat membutuhkan suatu jaminan tersebut karena saat itu ia diberi penyakit dan bingung dengan penagihan pembayaran kesehatan karena tak punya uang maka diberi solusilah oleh suatu pihak. Setelah sembuh maka ia lupa bahkan sengaja dilupakan dengan kewajiban membayar suatu jaminan, namun saat ia diberi sakit lagi barulah ia kaget bahwa jaminan kesehatan yang ia punya sudah tak berlaku karena ia sendiri pun tak melakukan kewajibannya yaitu membayar jaminan tersebut pada kurun waktu tertentu.

Proteksi itu perlu dan penting dalam hal apapun. Maka jangan sepelekan hal tersebut. Dianggap sepele bisa jadi akan menjadi masalah dikemudian hari.

Sabtu, 14 November 2015

sempurnah


SEMPURNA

Sempurna, satu kata yang sering didengar. Satu kata yang menunjukkan bahwa sesuatu hal lengkap, utuh, tak ada cacat sedikit pun. Satu kata pula yang mungkin diinginkan setiap orang dalam segala hal. Bolehkah manusia berharap sempurna atau menginginkan hal yang sempurna? Sedangkan seperti yang kita ketahui tak ada manusia yang sempurna dan setiap segala sesuatu hal baik manusia atau lainnya pasti memiliki kelebihan dan kelemahan. Lalu pantaskah kita sebagai manusia menginginkan kesempurnaan? Apalagi kita menginginkan kesempurnaan itu berasal dari diri orang lain tanpa mengukur diri sendiri, apakah kita sempurna sehingga menginginkan yang sempurna?

Contoh simpel yang menurut saya adalah dalam memilih pasangan. Awalnya saya pikir orang yang sudah berumur namun belum juga menikah itu hanya ada dalam dongeng atau pun televisi saja. Walaupun apa yang ada di televisi itu ada kalanya sebuah kenyataan. Namun bedanya terkadang apa yang ada di televisi belum tentu ada di lingkungan sekitar atau bahkan sangat dekat dengan kita. Itulah awal yang saya pikir terutama tentang jodoh. Jujur saya cukup kaget saat mengetahui bahwa ada beberapa teman saya yang mungkin jika dilihat dari usia seharusnya sudah berumah tangga dan bahkan ada yang bilang “seharusnya sudah punya anak dua tuh”. Walaupun jujur saya sendiri belum menikah. Namun yaitu saya cukup kaget juga dengan apa yang saya temui dan ketahui. Seseorang yang saya pikir sudah menikah atau sekalipun belum menikah usianya tak jauh dari usia saya. Namun ternyata tidak. Pantas saat mengenalnya ada sesuatu yang aneh yang saya rasa. Karena biasanya jika saya mengajak seseorang yang sudah berumah tangga dan punya anak, pastinya ada kesan terburu-buru ingin cepat selesai jika sedang bersama saya, saya pahami hal ini. Karena pastinya bersama dengan suami dan anak adalah lebih penting ketimbang bersama saya. Inilah yang terkadang membuat saya sedih saat ditinggal menikah oleh teman-teman sebaya saya yang berarti terkadang saya harus mencari teman yang masih sama-sama belum menikah. Karena pasti ruang lingkup dan tanggung jawabnya pun akan berbeda.

Jujur terkadang ada hal penasaran mengapa sampai usia itu belum juga berumah tangga? Apakah ada masalah? Walaupun seandainya ada pertanyaan itu terlontar kepada saya mungkin saya hanya akan bisa menjawab dengan jawaban “belum waktunya” atau “belum bertemu dengan jodohnya”. Namun itu bukan sebuah jawaban yang memuaskan untuk saya saat saya sedang penasaran dengan mengapa ia belum juga menikah? Ya saya tahu jika Allah SWT belum berkehendak maka apapun yang kita rencanakan maka tak akan berhasil. Namun rasa penasaran itu belum terobati juga. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya langsung kepada narasumbernya hehehe. Dan jawaban yang saya dapat yaitu “belum ada yang sreg ajah” dengan santainya ia mengatakan seperti itu. Ada juga jawaban dari teman-temannya yang menurut pandangan mereka adalah “dia mah pilih-pilih” dan “dia mah nyari yang sempurna”. Untuk jawaban yang “pilih-pilih” baiklah saya setuju dengan hal ini karena memang bukankah kita harus selektif dalam memilih apapun itu terutama juga pasangan, namun baiknya dalam memilih tersebut tetapkan kriteria yang akan menjadi sebuah prioritas dalam pilihan nantinya. Namun dengan jawaban “sempurna” itu membuat saya berpikir “pantaskah mencari yang sempurna sedangkan kita sendiri tak sempurna? bukankah Allah SWT memberi sesuai dengan hambaNya? Dalam arti wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik dan begitu juga sebaliknya? Dan yang pasti yang Allah SWT berikan itu adalah yang terbaik, karena Allah SWT memberi yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan? Lagi pula menikah itu bukankah untuk menggenapkan setengah agama, yang berarti jika diibaratkan yang satu punya setengah dan yang satu lagi juga punya setengah kemudian disatukan dalam pernikahan maka bukankah yang sama-sama setengah itu akan menjadi satu? Satu yang berarti sempurna. Yang berarti sempurna karena pernikahana, sempurna melalui proses pernikahan. Tetapi jika sebelum menikah sudah mencari dan menginginkan yang sempurna lebih dahulu bagaimana?”. Jujur saya tak habis pikir dengan kriteria “sempurna” itu. Yang ada lagi di otak saya adalah jika seseorang itu memilih pendekatan dengan lawan jenis melalui proses yang tidak dianjurkan oleh Agama Islam semisal pacaran, maka setiap dia punya pacar dan kemudian tidak sreg dengan lawan jenisnya itu lalu putus kemudian dapat lagi yang baru dan tidak sreg juga, maka saya pikir akan berapa banyak mantan pacarnya nanti yah? Hehehe. Kalau dari awal memang sudah tidak sreg, lalu mengapa diteruskan dengan proses yang tak baik?

Sempurna, berusaha menjadi diri sendiri yang sempurna dalam hal positif mungkin itu baik. Tetapi jangan dibuat-buat, apa adanya saja. Namun apakah pantas juga menuntut sebuah kesempurnaan dari orang lain?

Rabu, 04 November 2015

rsu


17desember2014
RSUD KABUPATEN TANGERANG

Inget rsu inget masa kecil, inget masa lalu. Kenapa begitu? Tidak disangka dan tidak pernah di duga jika diingat-ingat ternyata saya lahir di tempat dimana saya bekerja sekarang. Yah diingat saya lahir di rsu 22 tahun yang lalu dengan berat yang saya lupa yang pasti di atas 2,5 kg dan di bawah 3 kg hehehe.
Next, Bapak di rawat di rsu kurang lebih hampir sebulan bahkan lebih karena hemoroid atau wasir saat usia saya kurang lebih mungkin 3 tahun karena saya ingat saat itu saya belum sekolah SD dan ingat lagi saya masuk sekolah SD saat saya berusia 4 tahun 3 bulan hehehe (sudah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya yah hehehe). Dan saat bapak di rawat tersebut saya menginap di rs selama itu pula hehehe.
Next, adik saya yang pertama pun lahir di rsu dan saat itu saya pun ke rsu hehehe (antara penting dan tidak penting sih).
Next, ibu di rawat di rsu karena harus menjalani operasi apendiktomi tanpa sepengetahuan saya saat saya masih kuliah akper semester 2 rasa-rasanya.
Next, bapak di rawat di rsu lagi karena harus menjalani operasi herniatomi saat saya kuliah akper semester 4 kalo gak salah hehehe.
Intinya saat kuliah saya PKL di  rsu dan sekarang saya pun bekerja di rsu.
Dan jika saya tidak salah mengingat rasanya ibu saya pun saat di lahirkan oleh nenek di rawat di rsu karena yang saya dengar ibu saat bayi harus masuk inkubator karena prematur. Entah prematur yang seperti apa saya pun tak tau. Yang pasti kalo harus sampai masuk inkubator pastinya di rsu kan???? Hehehe.
Jadi, bisa disimpulkan sendiri lah hehehe.

Sabtu, 31 Oktober 2015

salahkah single?


SINGLE

Jika dengan sendiri anda merasa lebih bahagia. Lalu mengapa harus buru-buru mencari yang belum tentu membuat anda bahagia? Apa yang salah dengan usia yang sudah matang dan seharusnya tak single? Salahkah dengan usia yang bisa dibilang cukup dewasa lalu masih single? Salahlah dengan single? Adakah peraturan negara dan agama yang melarang seseorang tak boleh single pada usia tertentu? Tak ada bukan?

Lalu mengapa terkadang orang mempersoalkan hal seperti itu? Aturan dari manakah hal seperti itu? Terkadang lingkungan sosial yang sering mempermasalah kita masih single pada usia tertentu. Mengapa begitu? Entahlah. Mungkin ini yang disebut hidup kita yang menjalani tetapi orang lain yang mengomentari. Lalu pentingkah komentar-komentar mereka? Bereskah komentar mereka seandainya status single kita telah berakhir dan berganti dengan status baru? Saya rasa tidak. Karena dalam hidup ini akan selalu ada saja orang-orang yang komentar walaupun tanpa diminta. Mau apapun yang kita lakukan. Entah itu baik bahkan apalagi buruk yang namanya komentar saya rasa pasti ada saja. Baik diminta maupun tidak. Entah disadari atau tidak terkadang mungkin orang yang memberi komentar mungkin tak merasa ia telah mengomentari orang lain dan mungkin secara tak langsung sudah mencampuri urusan orang lain walaupun tanpa disengaja. Ya mungkin inilah yang sering terjadi.

Single pada usia sekian tahun yang mungkin menurut orang-orang di lingkungan sekitar seharusnya sudah tak single lagi. Lalu akhirnya banyaklah orang-orang yang mungkin akan membicarakan orang tersebut. Kadang mungkin bukan saja hanya sampai disitu. Tetapi bisa juga lebih jauh lagi. Misalnya menjodoh-jodohkan orang tersebut lah atau menjadi mak comblang atau apalah gitu. Yang mungkin secara tak langsung dan tanpa disadari juga telah mencampuri urusan orang lain dan mungkin pula telah mendahului kehendak Sang Kuasa. Mengapa begitu? Karena mungkin ia single karena memang belum waktunya ia mengakhiri status single. Karena semua akan ada waktunya di saat yang tepat. Dan semuanya pasti sudah Allah SWT atur. Menjodoh-jodohkan itu kan hanya usaha? Kan kita hidup juga harus usaha? Iya memang hidup harus berusaha. Tetapi apakah itu cara kita berusaha untuk membuat orang lain tak lagi single? Dan apakah itu juga yang harus dilakukan oleh sang single? Cukup hanya memperbaiki diri agar hidup kita menjadi lebih baik lagi. Itulah usaha yang seharusnya dilakukan.

Jangan memaksakan sesuatu hanya agar status single kita berakhir. Apa sih akhir dari single? Menikah bukan? Apa sih tujuan orang menikah? Agar bahagia bukan? Agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah bukan? Lalu apa yang disebut dengan keluarga sakinah mawadah wa rahmah? Bagaimana agar menjadi sakinah mawadah wa rahmah? Seandainya kita menikah lalu kemudian kita merasa tak bahagia dengan pernikahan tersebut dan dengan alasan apapun. Apapun alasannya intinya adalah kita tak merasa bahagia dengan pernikahan tersebut. Lalu apakah itu yang disebut dengan keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah? Akan kita dapat membangun keluarga sakinah mawadah wa rahmah jika kita sendiri tak merasa bahagia dengan sebuah pernikahan itu? Inilah yang saya maksud bahwa jika single lebih baik dan lebih bahagia mengapa harus buru-buru mengakhiri status single tersebut. Pikirkan baik-baik dalam setiap melangkah. Harus selektif dalam memilih tetapi bukan berarti harus banyak kriteria pada pilihan tersebut. Karena tak ada manusia yang sempurna. Dan kita pun mencari seseorang agar membuat diri kita menjadi sempurna. Sempurna dengan berdua dan bukan dengan single.

Akhirnya wajar ada lagu yang berjudul “single happy” yang dinyanyikan oleh dua penyanyi dengan lirik yang berbeda yaitu Ayu Ting Ting dan Oppie Andaresta. I am single I am happy. I am single I am very happy. Pertahankan saja dahulu apa yang membuat hidupmu bahagia. Tinggalkan yang membuat hidupmu tak bahagia. Karena walaupun bahagia itu mudah dan gampang tetapi kebahagiaan itu mahal harganya. 

Senin, 26 Oktober 2015

kehadiran? pentingkah?


PENTINGKAH KEHADIRAN?

Jika suatu kehadiran di dalam suatu kegiatan memang dianggap suatu hal yang penting maka layaknya seseorang akan berusaha untuk menghadiri suatu kegiatan tersebut. Begitu pula dengan suatu undangan selayaknya individu tersebut memenuhi kehadiran yang mengundang. Entah kehadiran tersebut penting dalam hal apapun. Seperti misalnya memang kehadiran dirinya dibutuhkan dan ditunggu-tunggu pada kegiatan tersebut. Maka mungkin sesungguhnya suatu kehadiran dirinya penting pada kegiatan tersebut walaupun mungkin bagi dirinya belum tentu begitu penting. Atau dapat berlaku keduanya yang berarti dirinya harus menghadiri kegiatan tersebut karena dirinya menganggap kegiatan itu penting dan juga dalam kegiatan tersebut pun dirinya memang dibutuhkan atau pun kehadirannya penting. Namun pada kenyataannya tak semua individu dapat menghadiri suatu kegiatan yang mungkin dianggap penting oleh individu tersebut atau tak semua individu dapat menghadiri suatu acara untuk memenuhi undangan yang mempunyai hajat. Dalam hal ini maka pentingkah suatu kehadiran? Suatu kehadiran mungkin bisa penting bahkan sangat penting tergantung dari kegiatan apa yang harus dihadiri oleh individu tersebut. Namun sekalipun kegiatan itu penting dan apa akhirnya individu tersebut tidak dapat memenuhi kehadiran tersebut dengan berbagai sebab maka kehadiran tetaplah penting walaupun pada akhirnya tak hadir.

Misalnya saja kehadiran seorang mahasiswa dan dosen dalam suatu kegiatan perkuliahan. Rasanya suatu kegiatan perkuliahan tak akan berjalan tanpa adanya kehadiran kedua hal tersebut yaitu dosen dan mahasiswa. Maka dalam hal ini kehadiran adanya dosen dan mahasiswa dianggap penting dan tak bisa terpisahkan satu per satu. Tak bisa hanya ada dosen saja tanpa mahasiswa karena siapa yang akan diberikan materi oleh dosen tersebut. Begitu juga sebaliknya tak akan bisa juga mahasiswa tanpa dosen karena siapa yang akan mengajar atau pun membimbing mahasiswa tersebut. Maka akhirnya kedua hal tersebut tak dapat dipisahkan. Walaupun mungkin sang dosen pada akhirnya harus mengajar satu mahasiswa karena mungkin pada kenyataannya hanya ada satu mahasiswa yang bersedia atau pun bisa hadir dalam sebuah perkuliahan itu. Sedang yang lainnya mungkin saja tak bisa menghadiri perkuliahan karena ada halangan lain atau entah dengan sebab apapun yang akhirnya membuat seseorang tak bisa hadir dalam suatu kegiatan. Teringat ucapan guru saya sewaktu sekolah yaitu “jika kamu tak hadir atau tak masuk sekolah coba bayangkan kerugian yang kamu dapat, seandainya dalam satu hari ada tiga mata pelajaran dan kamu tak masuk sekolah selama tiga hari maka berapa mata pelajaran yang tidak kamu dapat? Itulah kerugianmu. Jadi usahakanlah selalu hadir jika memang masih bisa diusahakan dan tak ada halangan yang berarti seperti sakit parah misalnya”. Itulah yang saya ingat dari ucapan guru saya sehingga kehadiran dalam suatu perkuliahan atau sekolah itu penting untuk saya.

Begitu pula dengan hal lain. Salah satu contohnya lagi adalah kegiatan seminar. Tak akan berjalan sebuah seminar tanpa kehadiran pembicara dan peserta seminar. Tak akan berjalan seminar jika hanya ada panitia saja. Karena siapa yang akan memberi materi dan diberikan materi. Panitia biasanya hanya mengatur saja agar suatu seminar tersebut berlangsung dengan baik. Maka dalam hal ini pun kedua hal tersebut saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan. Walaupun mungkin diri ini tak bisa menghadiri kegiatan seminar tersebut bukan berarti pula acara seminar tersebut tak akan berlangsung karena masih ada banyak peserta lain yang bisa menghadiri seminar tersebut. Dengan kata lain satu individu tak hadir bisa saja tak begitu mempengaruhi suatu kegiatan jika masih banyak individu lain yang menghadiri acara tersebut. Begitu pun dengan undangan suatu acara lainnya. Yang belum tentu setiap undangan individu dapat memenuhi keinginan yang mengundang untuk hadir pada acaranya. Tetapi bukan berarti pula acara tersebut tak akan berlangsung hanya karena satu undangan tak hadir. Contohnya adalah undangan resepsi pernikahan. Karena tak mungkin batal menikah hanya karena satu undangan saja yang tak bisa hadir pada acara tersebut. Dan banyak contoh lainnya.

Tetapi perlu diingat jangan pernah mengaku hadir dalam suatu kegiatan jika memang pada kenyataannya diri ini tak menghadiri kegiatan tersebut. Karena kehadiran tetaplah kehadiran dan tak hadir tetaplah tak hadir. Tak mungkin tak hadir akan menjadi hadir atau ada sekalipun ya itu bukan tak hadir tetapi belum hadir. Sekalipun diri ini tak hadir hanya sesekali dalam suatu kegiatan tersebut maka itu tetaplah tak hadir. Sehingga jangan pula menilai diri ini selalu hadir yang berarti orang lain akan menganggap bahwa dirinya tak pernah alpa. Jangan pula diri ini meninggalkan jejak agar hanya dianggap diri ini hadir oleh orang lain dalam suatu kegiatan. 

Sabtu, 24 Oktober 2015

kematian


KEMATIAN
280315

Siapa orang yang tak akan mengalami mati? Tak ada. Siapa orang yang akan mati? Ya semua orang akan mengalami kematian atau mati. Adakah orang yang akan tau kapan dia akan mati? Tak ada yang tau seorang pun kapan dia atau orang lain akan mati.

Kematian merupakan mutlak rahasia Allah SWT. Tak seorang manusia pun yang mengetahuinya kapan dia akan mati. Kematian bisa dadakan atau pun tidak. Apa maksudnya? Ada orang yang mati melalui proses sakit. Entah sakit berat, sedang atau ringan. Entah waktu sakitnya lama atau baru-baru ini. Namun ada juga orang yang mati tanpa proses sakit yaitu tiba-tiba kita mendengar kabar bahwa dia telah tiada. Entah benar tanpa proses sakit? Atau sakitnya yang tak diketahui? Baik oleh orang lain maupun diri sendiri yang mati.

Terkadang kita mendengar kematian seseorang sebagai hal yang mendadak dan mungkin membuat terkejut. Namun apakah itu semua benar? Saat awal mendengar berita itu mungkin rasanya wajar jika kita kaget atau terkejut mendengarnya dan bahkan terkesan dadakan mungkin. Namun apakah “dadakan” tersebut benar? Rasanya tak ada yang dadakan menurut Allah SWT mungkin. Karena ingat semuanya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Kapan seseorang akan dilahirkan, akan menikah dengan siapa bahkan sampai kapan seseorang akan meninggal. Ingat semuanya sudah tertuliskan di lauhul mahfudz.

Terkadang kita mendengar seseorang meninggal terkesan “dadakan” padahal kita tau sebelumnya orang tersebut memang menderita suatu penyakit. Namun kadang kesan “dadakan” tersebut tetap saja ada dari orang yang mendengarnya. Padahal jika kita pikir, orang itu menderita suatu penyakit maka wajarlah jika suatu saat kita mendengar orang itu meninggal. Dan mungkin harusnya kesan “dadakan” atau terkejut mendengar berita buruk tentang orang itu tak ada lagi.

Mungkin akan berbeda jika kita tak pernah mendengar orang tersebut sakit hingga mengharuskan perawatan medis atau pun menderita penyakit tertentu. Dan tiba-tiba mendengar kabar tentang orang itu telah tiada. Pastinya kita yang mendengar hal itu akan sangat kaget dan berpikir “dadakan”. Mungkin akan berpikir juga “baru beberapa hari yang lalu saya ketemu dia terlihat sehat-sehat saja tapi kenapa sekarang saya mendengar kabar dia telah tiada” atau saat lama kita tak bertemu dan sekalinya mendapat kabar adalah bahwa dia telah tiada maka kita mungkin akan berpikir “kapan terakhir kali saya bertemu dengannya yah koq tau-tau sekarang saya dengar dia telah tiada, apakah dia sakit? Saya tak mendengar kabar tentang sakitnya dia?”. Mungkin jika kasusnya seperti itu bisa saja kesan “dadakan” dan keterkejutan menjadi wajar.

Namun seharusnya kesan “dadakan” mungkin tak harusnya ada karena semua sudah ditentukan oleh Allah SWT sejak manusia masih dalam kandungan. Bukan kah begitu? Karena jika kesan “dadakan” itu ada maka semua orang yang meninggal pastilah semuanya dadakan. Kaget saat mendengar berita seseorang meninggal mungkin rasanya wajar saat pertama kali mendengarnya. Ingat loh saat awal mendengarnya saja. Tidak sampai seterusnya. Yang harus ada dipikiran kita seterusnya adalah ingat semua itu sudah takdir Allah SWT yang mutlak tak bisa dirubah dan tak bisa ditawar maka ambil lah hikmah dari setiap kejadian yang kita amati, alami dan menimpa kita sendiri. Baik hal itu kita yang alami sendiri atau pun orang lain.

Tak hanya kematian melalui proses suatu penyakit atau tidak. Namun kematian di usia yang terbilang masih muda pun akan terkesan “dadakan” “tiba-tiba” kaget atau terkejut rasanya sudah pasti. Dan yang mungkin ada dipikiran kita adalah “umurnya masih muda sudah meninggal, pendek sekali umurnya”. Namun itulah takdir yang sudah Allah SWT tetapkan. Ingat kematian tak memandang usia mau muda atau pun tua sekali pun. Ingat juga mungkin kata-kata “umur di tangan Tuhan” yah maksudnya Allah SWT yang sudah menentukan sampai usia berapa orang itu akan hidup. Tak beda halnya dengan jodoh. Jika Allah SWT sudah menentukan jodohnya adalah dia dan akan menikah pada waktu yang telah ditentukan oleh Allaw SWT lalu manusia mana yang bisa mengubah semua itu. Tak ada yang bisa mengubah apa yang telah Allah SWT tentukan. Terutama mengenai kelahiran, jodoh dan kematian.

Tak hanya melalui penyakit atau tidak dan usia. Kematian pun akan menjemput siapa saja. Entah orang tersebut baik atau buruk. Namun bedanya adalah jika yang meninggal adalah orang baik maka pasti yang merasa kehilangan akan sangat banyak dan pastinya juga banyak orang yang berbondong-bondong ingin mengantar jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhirnya sebagai tanda suatu penghormatan terhadap jenazah tersebut. Dan pastinya akan banjir air mata karena menangisi kepergian orang baik dari dunia.  Akan berbeda pula jika yang meninggal adalah orang yang buruk atau jahat, jangankan yang mengantar ke pemakaman yang menangisi kematiannya saja pun rasanya mungkin bisa saja tak ada. Yang ada malah mungkin sebaliknya yaitu mungkin orang akan berkata “syukur deh dia meninggal”.

Kematian baik melalui proses suatu penyakit, usia yang masih muda atau sudah tua, yang meninggal adalah orang baik ataupun buruk. Ingat semuanya adalah takdir Allah SWT untuk orang tersebut. Kasarnya kalau emang waktunya meninggal mah yah meninggal ajah gak pandang orang itu masih muda atau gak, baik atau tidak, berpangkat atau tidak, kaya atau tidak. Tidak akan berpengaruh dengan kematian semua itu.

Satu hal lagi yang perlu diingat. Saat kita mendengar kematian seseorang terutama orang yang sangat baik dan sangat penting bagi kita pasti air mata akan selalu menetes. Menangisi kepergian orang tersebut. Yah terkadang wajar adanya isak tangis mengiringi kepergian orang yang meninggal. Namun ingat lagi yang dibutuhkan oleh jenazah adalah bukan suatu isak tangis kesedihan. Tetapi yang amat sangat dibutuhkan oleh jenazah adalah DOA. Yah doa terutama doa dari orang-orang soleh dan bertakwa. Bukan air mata yang akan mengering jika sudah habis. Karena tak henti-hentinya menangis bahkan yang lebih parah lagi jika ada yang meratapi kepergian seseorang dengan berlebihan. Apa maksudnya? Terkadang sampai ada orang yang karena sedih telah ditinggal seseorang yang penting untuk hidupnya sampai dia meratapi hingga berteriak-teriak seolah-olah tak bisa menerima takdir atau pun menyalahkan Allah SWT atas kematian orang tersebut. Astaghfirullah al azhim. Jangan lah sampai seperti itu. Tak baik seperti itu yang ada malah akan memberatkan kepergian jenazah tersebut jika sikap kita seperti itu. Begitu bukan?

Ingat dalam kematian yang dibutuhkan jenazah adalah DOA bukanlah tangisan. Air mata lama-kelamaan akan habis dengan sendirinya karena mengering. Tapi tak begitu dengan DOA. Doa akan terus mengalir untuk si mayat tersebut. Terutama doa-doa dari orang-orang soleh dan bertakwa. Selain berdoa, baiknya juga disertai dengan tawakal dan ikhlas sehingga insya Allah orang yang meninggal dan yang ditinggalkan akan tenang.
Dalam beberapa hari ini secara berurutan saya mendengar berita duka entah dari orang jauh sampai orang terdekat atau keluarga sendiri. Yaitu berita duka tentang meninggalnya frans tumbuan, yani trio libels, olga syahputra yah yang semuanya adalah artis. Hingga kabar yang mengejutkan saat saya sedang kuliah tiba-tiba ibu menelepon dan mengabarkan berita duka bahwa uwa saya di subang telah tiada. Kaget, syok dan terkejut bahkan terkesan dadakan ada di dalam pikiran saya. Dalam benak saya pula “Kapan terakhir kali saya bertemu dengannya? Sakit apa yang dideritanya? Kenapa mengabarkan dadakan? Kenapa jika kematiannya melalui proses sakit mengapa tak dikabarkan saat kritis? Kenapa keluarga saya ikut mengalaminya? Kenapa dan kenapa?”. Itulah yang ada dipikiran saya yang membuat saya termenung setelah menerima telepon dari ibu. Namun jika kita ingat kembali bahwa kematian adalah rahasia Allah SWT maka kita pun akan yakin bahwa itu semua adalah takdir dari Allah SWT dan mungkin itu yang terbaik atau sebaiknya memang begitu. Ingat kembali Allah SWT maha mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk hambanya. Walau terkadang terkesan menyakitkan hingga membuat kita sedih. Tapi itulah yang terbaik dari Allah SWT.

Kamis, 22 Oktober 2015

sepotong diam




SEPOTONG DIAM

Awal pertama membeli bukan karena judul novel tersebut. Tetapi karena potongan harga yang diberikan waktu itu dan juga novel tersebut merupakan novel juara dua AGP. Saya adalah salah satu penyuka buku-buku yang best seller atau pun juara. Karena kemungkinan isi buku tersebut pasti bagus karena bisa sampai best seller ataupun juara. Dan juga buku yang kemungkinan tak mudah ditemukan di toko buku bahkan harus ke penerbit langsung untuk memperolehnya.

Jujur saat membaca judul novel tersebut saya memang tak begitu berminat. Sepotong diam? Apa maksudnya? Saat buku itu sampai ditangan saya, tak langsung saya antusias untuk membacanya. Sampai buku itu tergeletak saja di meja  beberapa hari. Sampai akhirnya saya penasaran juga dengan isi novel tersebut.

Awal membaca saya tak begitu tertarik. Tetapi mulai tertarik saat di potongan pertama dan selanjutnya yang ada penjelasan tentang ta’aruf. Jujur dalam novel tersebut seolah saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya selama ini yaitu tentang ta’aruf. Seperti apa dan bagaimana proses yang seharusnya dilakukan? Apa yang boleh dan tidak boleh? Lama-lama saya penasaran dengan novel tersebut lebih penasaran dengan proses ta’aruf yang diceritakan dalam novel itu. Rasa penasaran itu membuat saya selalu kepikiran disaat novel itu sedang tak bersama saya. Karena saat saya di luar rumah maka novel itu saya tinggal di dalam kamar.

Mengikuti alur ceritanya membuat seolah saya masuk ke dalamnya hingga akhir. Akhirnya seperti judul novel tersebut yang bisa saya lakukan “sepotong diam”. Diam menerima ending dari novel itu. Diam menerima segala takdir yang tak bisa ditolak. Kalimat tentang “belajarlah pada malam semakin larut semakin gelap dan pekat itulah cahaya akan segera datang” menjadi kalimat tersendiri yang mempunyai energi didalamnya. Energi untuk hidup. Energi untuk tak menyerah.

Namun yang disayangkan dan membuat agak sedikit kecewa adalah “bagaimana akhirnya khalid dan dhisya mendapatkan restu itu? Dan bagaimana hingga akhirnya dhisya meninggal?”. Hal itu membuat saya penasaran hingga saya hanya bisa menerka-nerka saja seperti apa cerita itu namun tak bisa tetap saja rasa penasaran itu ada dan membuat kepikiran. Ada rasa tak puas disini rasanya.

Melihat profil penulis saya simpulkan bahwa novel ini kemungkinan sebuah kisah pribadi yang terjadi pada kehidupan penulis. Walaupun mungkin tak semua kisah itu dituangkan. Tapi jujur saya lebih suka akan hal ini. Saya lebih suka jika sang penulis menuliskan kisah atau pengalaman pribadinya. Bukan pengalaman atau kisah orang lain ataupun kisah dunia khayal. Karena hal itu lebih asli dan bukan dibuat-buat. Sehingga kesan inspiratif lebih ada didalamnya dan lebih mengena.

Harapanku semoga novel ini tak difilmkan karena buatku jika sebuah novel sudah difilmkan maka kemungkinan keaslian dari novel itu sudah tak terjaga lagi. Karena biasanya beberapa yang ku dapatkan seperti itu. Apa yang aku baca dan aku tonton tak semuanya sama.  Ada beberapa alur yang terkadang dihilangkan atau bisa juga dilebih-lebihkan. Lagipula jika sebuah novel sudah difilmkan membuat orang yang malas membaca akan semakin malas membaca. Karena kemungkinan mereka akan lebih memilih menonton dibanding membaca. Waktu yang dibutuhkan untuk keduanya juga berbeda. Jika menonton mungkin hanya butuh waktu dua sampai tiga jam. Tetapi jika membaca tak semua memiliki waktu yang sama untuk menghabiskan satu novel saja. Bisa ada yang hanya butuh beberapa jam saja tetapi bisa juga membutuhkan waktu beberapa hari.