apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Senin, 22 Mei 2017

dia bukan untukmu

DIA BUKAN UNTUKMU

22 mei 17
Ingat beberapa tahun saat sedang donor darah, kebetulan bertemu dengan adik kelas waktu kuliah akper. Dia bertanya “koq lo gak jadi sama dia (mantan) kak? Gw pikir lo bakalan jadi sama dia?”. Gue jawab ajjah “yah itu tandanya dia gak baik buat gue, simple kan?”. Entah si mantan mendengar atau tidak. Karena kebetulan juga si mantan bekerja disana.

Jadi, simple ajah jika dia bukan untukmu itu tandanya dia tak baik buatmu. Sekalipun triliunan orang di luar sana mengatakan bahwa dia baik. Ya mungkin memang dia baik. Namun kebaikannya itu tak baik untukmu. Ingat Allah SWT lebih mengetahui mana yang baik dan terbaik untukmu.

saat gelisah dan tak tenang

SAAT GELISAH DAN TAK TENANG

Teringat saat masa di bangku sekolah menengah pertama yang mengharuskan aku pindah sekolah saat kenaikan kelas tiga. Walau mungkin kepindahan tersebut terkesan agak aneh. Karena aku pindah dari sekolah cabang ke sekolah pusat. Mungkin terkesan membingungkan atau apalah gitu. Karena pindahnya dari cabang ke pusat. Berawal dari sekolah tersebut yang mempunyai dua tempat dengan nama yang sama sehingga ada cabang dan pusat. Entah mengapa sampai ada hal seperti itu pun aku tak begitu mengerti. Karena saat itu yang ada di otakku hanyalah “sekolah”. Akhirnya orang tua memilih sekolah cabang untukku karena jarak yang lebih dekat. Tetapi setelah dua tahun aku mendapat pendidikan di sekolah cabang tersebut dan di tahun ketiga aku bersekolah, sekolah cabang tersebut akan berdiri sendiri dengan nama sekolah yang baru dan dengan tempat baru pula yang jaraknya lebih jauh dari sekolah pusat. Mengagetkan sudah pasti. Karena perjanjian awal adalah sekolah cabang tersebut tetap ada sampai angkatanku lulus. Namun pada kenyataannya tak seperti itu. Negosiasi pun dilakukan oleh para orang tua agar selama satu tahun dan sampai lulus tidak pindah ke tempat baru mengingat jarak yang jauh. Tetapi hasilnya nihil. Akhirnya orang tua ku memutuskan agar aku pindah ke sekolah pusat dengan meminta kepada pihak sekolah. Permintaan pun di kabulkan oleh pihak sekolah dengan melihat hasil belajar ku saat itu. Hingga akhirnya aku pun pindah sekolah. Walau pindahnya dari cabang ke pusat dan dengan nama sekolah yang sama. Tetapi menurutku yang namanya pindah tetap saja pindah. Karena di tempat itu aku harus beradaptasi dengan teman-teman, guru-guru dan lingkungan yang baru. Saat itu ujian yang menurutku cukup berat dimulai.

Pindah sekolah berarti aku harus mengulang semuanya dari awal. Harus mengenal ulang guru-guru dan teman-teman yang baru. Saat itulah aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada diriku. Entah mengapa aku selalu merasa tidak tenang dan selalu gelisah. Entah apa sebabnya? Sehingga membuat aku sering diam menyendiri dan didukung pula aku duduk sendiri didalam kelas itu sedang teman-temanku yang lain duduk berdua karena memang jumlah siswa dalam kelas itu ganjil. Selalu merasa tak tenang dan gelisah tanpa sebab yang aku sendiri pun tak tahu membuat aku terkadang menangis seorang diri. Awalnya memang tak ada yang mengetahui kalau aku sering menangis dan menyendiri. Hingga akhirnya orang tua dan guruku pun mengetahui hal ini karena mungkin mereka mengamati apa yang aku lakukan. Aku pun sempat dipanggil oleh guru BP karena sering menyendiri dan dianjurkan mencari teman untuk mengobrol atau sekedar curhat. Saat itu aku iya kan saja anjuran sang guru dan menyebut nama teman yang aku kenal walaupun sebenarnya aku tak yakin dengan teman yang aku sebut itu. Karena tak ingin masalahnya berlanjut dengan guru tersebut maka hal itu pun aku lakukan. Sesungguhnya saat sang guru itu memanggil ku rasa gelisah dan tak tenang itu bukan berkurang malah semakin menjadi sehingga aku hampir tak bisa menahan air mata ku. Tetapi untungnya saja aku berhasil tak menangis di depan guru itu. Karena jujur sebenarnya aku tak suka di panggil oleh guru BP saat itu. Entah mengapa? Orang tua ku pun tahu karena saat itu orang tua ku melihat ku seperti habis menangis. Maka ditanya-tanyalah aku seperti interogasi. Awalnya memang aku mengelak dan mengatakan tak ada apa-apa. Karena aku sendiri pun tak tahu apa sebabnya sehingga aku seperti itu. Tetapi akhirnya air mata ku tak bisa terbendung lagi sehingga buyarlah air mata ku membasahi pipi dan ku ceritakan semuanya yang terjadi di sekolah hingga aku di panggil oleh guru BP. Nasehat orang tua saat itu yang aku ingat hanyalah “sabar”. Namun hal itu tak membuat rasa gelisah dan tidak tenang ku hilang. Hingga akhirnya aku mencari sendiri solusi dari ketidaktenangan dan kegelisahan hati ku. Maka kudapatkan solusi dari masalah ku tersebut adalah tahajud. Inilah awal mulanya aku melaksanakan shalat tahajud dengan tujuan saat itu adalah agar hatiku tenang dan tidak gelisah.

Jujur saat kegelisahan dan ketidaktenangan itu datang, sempat aku berpikir untuk berhenti sekolah karena saat itu mulai timbul rasa malas ke sekolah dalam diriku. Namun rasa malas itu bukan membuat aku tak pergi ke sekolah malah sebaliknya karena aku hampir selalu menjadi orang pertama yang tiba dikelas disaat teman-temanku yang lain belum datang. Karena aku akan lebih gelisah dan tak tenang jika aku terlambat. Entah pikiran apa yang terbersit dikala itu? Entah pemikiran bodoh atau apalah? Namun beruntung pemikiran itu aku pikir-pikir ulang. Karena saat itu aku berpikir lagi “Kalau aku berhenti sekolah, lalu aku mau apa? Mau jadi apa nantinya? Bagaimana dengan cita-citaku? Bagaimana aku bisa bekerja di tempat yang baik seperti paman-pamanku?”. Banyak pikiran berkecamuk dalam benakku saat itu jika aku berhenti sekolah. Karena jika dipikir ulang banyak kerugian yang aku dapat jika hal tersebut aku lakukan. Maka akhirnya aku berusaha menghilangkan pikiran yang tak baik itu. Dengan mengingat cerita ibu tentang keberhasilan adik-adiknya yang berarti adalah pamanku maka itu membuat aku termotivasi untuk terus berusaha meraih mimpi dan cita-citaku. Hingga akhirnya pemikiran tersebut hilang dan tak aku lakukan. Alhamdulillah. Namun tetap kegelisahan dan ketidaktenangan itu ada dalam hatiku.

Akhirnya saat itu aku mulai merutinkan tahajud agar hatiku tenang dan dalam setiap doa dalam shalat selalu ku mohonkan agar aku diberi ketenangan hidup. Saat itu aku sadari bahwa ketenangan hidup itu cukup penting karena hidup rasanya tak nyaman jika hati ini tak tenang dan gelisah. Alhamdulillah dengan tahajud lama kelamaan kegelisahan dan ketidaktenangan hatiku perlahan hilang dengan sendirinya. Hingga tak terasa sudah satu semester aku di sekolah baru tersebut dan aku pun mempunyai teman yang walau hanya sebatas teman saja. Alhamdulillah juga nilai-nilaiku saat itu tak menurun walaupun stabil tetapi aku bersyukur karena masih mendapatkan peringkat lima besar didalam kelas tersebut. Karena saat itu walaupun aku merasa gelisah dan tak tenang beruntungnya minat belajar ku tak menurun malah menjadi salah satu solusi agar aku lebih merasa tenang disamping tahajud yang aku lakukan saat itu. Alhamdulillah akhirnya aku bisa melewati satu semester itu dengan baik walaupun berliku. Dengan kata lain aku butuh waktu kurang lebih enam bulan untuk beradaptasi dengan semua hal yang baru di sekolah itu. Alhamdulillah akhirnya aku tak berhenti sekolah.

Tak hanya di bangku sekolah saja, tetapi juga saat di bangku kuliah pun ketidaktenangan dan kegelisahan hatiku kembali lagi terjadi. Bedanya jika saat dibangku sekolah aku tak begitu mengerti dengan penyebab kegelisahanku tetapi saat dibangku kuliah aku tahu apa yang membuat aku tak tenang dan gelisah. Saat itu aku duduk di semester tiga yang berarti sudah satu tahun aku menjalani perkuliahan. Kegelisahan dan tak tenang muncul kembali ketika itu karena kekecewaanku terhadap lawan jenis. Entahlah mengapa ada rasa kecewa saat itu? Kekecewaan tersebut memang membuat aku malas untuk datang ke kampus dan mengikuti kegiatan kampus lainnya karena pastinya aku akan melihat lawan jenisku itu. Jujur saat itu aku merasa seperti sudah dibohongi mungkin ini yang membuat aku kecewa. Buruknya diriku adalah aku tak mau berurusan lagi dengan orang yang telah mengecewakan ataupun membohongiku jika tak terpaksa. Jangan kan untuk berurusan dengannya untuk bicara dan sekedar menyapa pun aku tak mau jika itu tak begitu penting bagiku. Rasa malas, kecewa, gelisah, tak tenang membuat pikiran burukku tentang mengakhiri pendidikan kembali singgah. Namun saat itu dorongan orang tua dan orang terdekat ku seperti paman dan lainnya membuat aku berpikir ulang dengan pikiran buruk tersebut. Orang tua yang selalu mendoakan dan memberi nasehat kepadaku. Paman ku yang setiap rasa gelisah itu datang selalu setia mendengar curahan-curahan hatiku melalui telepon dan ucapan-ucapannya yang membuat aku kembali semangat untuk terus melanjutkan pendidikan tanpa mempedulikan dia yang telah mengecewakanku. Bukan hanya itu pemikiran-pemikiran ku positif lainnya dan ingatan-ingatanku tentang keluarga yang pastinya mengharapkan ku sukses dan berhasil, memotivasi ku untuk terus bertahan dan berjuang menghadapi cobaan tersebut. Yah aku anggap hal itu adalah cobaan untukku dalam meraih impianku. Selain kerugian finansial yaitu biaya yang telah dikeluarkan untuk aku kuliah kerugian lain pun akan aku dapat seandainya saat itu aku benar-benar mengakhiri pendidikanku hanya karena seseorang yang mungkin saat ini sudah tak penting lagi bagiku. Aku bersyukur karena pada akhirnya aku bisa melewati itu semua ditambah dengan nilai IP ku yang stabil dan lebih tinggi darinya hingga akhirnya aku bisa lulus dengan IPK yang cukup baik untukku.


Hikmah yang bisa aku dapatkan adalah dikala hatiku gelisah dan tak tenang dalam hidup ini yang harus aku lakukan hanyalah beribadah kepadaNya memohon ketenangan hati dalam menjalani hidup ini. Karena jika boleh memilih mungkin lebih baik gelisah dan tak tenang ketika akan menghadapi tes dibanding gelisah dan tak tenang dalam hidup. Jika gelisah dan tak tenang saat menghadapi tes itu hanya sebelum dan saat berlangsungnya tes saja mungkin juga setelah tes yaitu menunggu hasil dari tes tersebut namun setelah itu kegelisahan perlahan akan hilang. Namun berbeda dengan kegelisahan dalam hidup ini yang entah sampai kapan rasa itu akan menggelayut di hati jika tak segera ditangani.

what happen with me

070315
WHAT HAPPEN WITH ME

What happen with me today? Apa yang terjadi denganku hari ini? Entahlah saat pagi sebelum berangkat kuliah dan iseng-iseng buka facebook, dan saat itu pula saya mendapat info tentang dia yah tepatnya mungkin tentang wanitanya. Dan saya pikir itu tidak akan lagi berpengaruh dengan saya. Tapi nyatanya tidak demikian. Dan yang saya heran juga entah suatu kebetulan atau tidak atau memang sudah Allah gariskan seperti itu entah kenapa aktivitasnya di facebook selalu saja saya tau saat saya membuka facebook walaupun postingannya mungkin sudah lalu. Ya Allah apakah ini memang petunjukmu? Finally saya tau siapa wanitanya. Yah kalo yang saya dapat info dari facebook tahun kelahiran wanitanya sama dengan saya. Berarti beda 10 tahun dengan dia. Dan saya ingat beberapa waktu lalu saya memang ingin tau siapa wanitanya dan Allah memberikan saya itu. Namun sayangnya itu semua berpengaruh terhadap aktivitas saya hari ini salah satunya kuliah. Mungkin bisa dibilang oleh anak jaman sekarang jika saya “galau” yah mungkin itu yang terjadi. Tapi apa penyebabnya? Saat kuliah sempat saya tidak konsentrasi dalam mata kuliah bahasa inggris yang membuat semua orang tertawa. Entah karena dia kah penyebabnya? Atau karena saya kecewa dengan dosen yang semestinya masuk pada hari ini? Atau saya kecewa dengan kuliah hari ini? Entahlah. Yang pasti saya mulai bete dan mungkin malas serta kecewa saat mengetahui dosen yang semestinya masuk tidak bisa masuk lagi hari mengingat ada beberapa mata kuliah yang belum sama sekali masuk. Yah kalo dipikir-pikir mungkin gantian. Dulu mungkin dosen yang kecewa dengan mahasiswa karena tak ada mahasiswa dan sekarang mungkin sebaliknya. Tapi ya sudahlah.
Kembali tentang dia. Entahlah apa yang harus saya perbuat? Saya masih mempertanyakan pada diri saya sendiri “benarkah saya menyukainya?” entahlah saya sendiri juga bingung jika dilontarkan kata-kata itu. Tapi curiga saya, saya tidak konsentrasi saat mata kuliah bahasa inggris lebih kepada karena dia, bukan hanya saya kecewa terhadap dosen itu. Saya hanya bisa memohon jika memang saya benar-benar menyukainya dan ternyata dia benar-benar bukan jodoh saya, saya mohon hilangkan perasaan suka pada diri saya terhadapnya? Dan jika memang dia benar-benar berjodoh dengan wanitanya, semoga segala rencana mereka dipermudah Allah. Amiiiiin..........

Mendoakannya sekalipun bukan mendoakan dia bersama saya tetapi mendoakan dia untuk bersama orang lain “wanitanya”. Bukankah itu suatu bukti?

kelakuan

231214
KELAKUAN

Kesaaaaal dan benci rasanya saat ini. Kenapa gitu??? Yah ada dua orang senior (menurut saya) meminta saya masuk untuk menggantikannya. Yah karena posisi saya saat ini masih cuti tahunan dan mungkin mereka tau kalo saya free alias ga ada kerjaan plus single pula (ini nih yang kadang bikin kesel) padahal belum tentu seorang single itu free dan ga ada kerjaan yang bisa saja kerjaannya lebih banyak dari yang tidak single.

Dan keduanya saya tolak. Karena saya memang tak mau cuti saya diganggu dengan urusan pekerjaan rumah sakit kecuali ada pekerjaan lain yang tidak berkaitan dengan profesi perawat dan memang sudah ada rencana lain (biasa anak muda hehehe).

Bukan masalah tidak mau menggantikan atau gimana. Saya bisa saja mau menggantikan saat dia benar-benar butuh. Tapi akankah timbal baliknya sama seperti itu. Maksudnya apakah dia bisa dan mau menggantikan saya ketika saya benar-benar membutuhkan pengganti saya? Itulah yang saya ragukan dan sama sekali tidak yakin walaupun dia mengiyakan permintaan saya itu. Karena bisa saja dia mengiyakan permintaan saya namun yang sebenernya menggantikan saya bukanlah dia melainkan orang lain lagi. Jujur saya tidak suka dengan hal itu. Kalo memang tidak sanggup ya sudah tidak perlu menjanjikan apapun.

Ada lagi seseorang yang tidak mau masuk pagi. Dengan alasan ini dan itu. Dan pasti selalu mencari tukeran jika dijadwalkan pagi. Tidak bisa tukeran sore yah tukeran malam pun dilakoni karena sangat tidak maunya masuk pagi. Yah kalo ditanya alasan pasti karena keluarga, suami atau anak. Hm....................

Ada juga yang setiap dijadwalkan malam hampir selalu mencari orang untuk menggantikannya. Dengan alasan yang saya tahu tidak boleh oleh suami (huft ini nih yang bikin kesel lagi).

Terkadang melihat fenomena seperti itu saya jadi berpikir. Berpikir kapan saya bisa menolak semua itu dengan alasan orang lain. Orang lain? Yah suami maksudnya. Karena rata-rata alasan mereka tukeran jadwal atau tidak bisa masuk sehingga digantikan oleh orang lain adalah KELUARGA, ANAK, ataupun SUAMI. Apakah yang punya keluarga hanya mereka yang sudah bersuami dan beranak sajakah? Lalu gimana buat yang masih single? Apakah yang masih single karena belum bersuami atau beranak dianggap tidak punya keluarga? Ini nih yang bikin kesel.

Ini juga yang terkadang membuat saya ingin menikah tapi sangat disayangkan juga jika alasan saya menikah hanyalah untuk ini. Hanya sebagai alasan jika diminta untuk menggantikan orang lain. Huft hanya sebagai loncatan donk......

Sempat terbersit sedikit hal yang menurut saya ekstrim yaitu jaga dari pagi sampai pagi lagi bahkan mungkin lebih. Yah maksudnya saya jaga pagi, sore dan malam bahkan mungkin lanjut pagi lagi hanya untuk memenuhi mereka yang meminta saya menggantikannya. Pengen rasanya tau reaksi mereka yang meminta saya menggantikannya seperti apa? Tapi jika dipikir-pikir lagi bisa saja kesalahan tetap pada diri saya. Seandainya setelah jaga 24 jam bahkan lebih dan saya ambruk sehingga tidak bisa mengikuti jadwal dinas saya seharusnya, apakah mereka yang meminta saya menggantikannya akan bersedia menggantikan jadwal saya tersebut? Belum tentu kan. Dan apakah mereka juga akan peduli terhadap ambruknya saya? Belum tentu juga. Dan bisa saja saya yang akan disalahkan oleh bos bahkan juga oleh mereka yang meminta menggantikannya kepada saya. Kenapa gitu? Yah pertanyaan simple, kenapa mau menerima penggantian tersebut dengan tidak memikirkan kondisi diri sendiri? Tetap biar gimana pun saya yang akan tetap bersalah rasanya. Jadi ya sudah gitu deh fenomena yang ada.

Belum lagi tanggung jawab menggantikan orang lain jika orang yang saya gantikan adalah seorang senior yang memiliki peran penting dalam jadwal tersebut (itu menurut saya loh). Yah seharusnya langsunglah tanggung jawab orang tersebut kepada saya karena saya menggantikannya bukan kepada orang lain lagi. Tapi tidak pada kenyataannya. Maksudnya gimana? Pikir sendiri akh.


Emang salah yah kalo gue libur? Emang salah kalo gue cuti? Bukan kah itu semua hak gue? Dan apakah gue libur dan cuti itu mengganggu rumah sakit atau orang lain?

Kamis, 30 Maret 2017

gagal

GAGAL LAGI

Tepat 13 maret 2017 aku menerima pengumumann bahwa dokumen lamaran yang aku kirimkan untuk menjadi petugas kesehatan haji Indonesia 1438 dinyatakan tidak valid dengan kata lain GAGAL. Rasa kecewa sedih dan lainnya pun aku rasakan. Hal yang wajar ketika seseorag mengalami sebuah kegagalan. Namun jangan berlebihan atau berkepanjangan hingga berdampak buruk terhadap hidup. Karena hidup terus berlanjut sekalipun kau mengalami kegagalan.
Berawal saat akhir oktober 2016 seorang teman memberitahu mengenai rekrutmen petugas haji Indonesia digrup whatsapp. Awalnya iseng, namun aku coba membuka situs web rekrutmen tersebut. Saat itu aku mulai iseng membuat akun. Awalnya ada kesulitan dalam membuat akun karena beberapa kali gagal sebab NIK sudah terdaftar namun nomor akun tidak aku terima. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya nomor akun keluar melalui emailku.
Karena sudah bisa maka aku teruskan saja alur-alur pendaftaran yang ada namun saat itu pendaftaran belum dimulai. Karena belum ada maka aku pun agak nyantai namun ternyata kebablasan karena aku sempat ketinggalan info akibat lama tidak membuka webnya, yang ternyata ada batas tanggal dalam melakukan tahapan pendaftaran namun ternyata diperpanjang lagi hingga seminggu yang akhirnya aku bisa mengejar syarat dokumen yang harus dilengkapi dan diupload.



Pengumuman dari tahap satu ke tahap berikutnya tidaklah cepat. Aku rasa hampir satu bulan menunggu pengumuman dari tahap satu ke tahap selanjutnya. Banyak tahapan yang harus aku lalui. Hingga akhirnya aku hanya sampai pada tahap pemberkasan yang dinyatakan dokumen lamaran tidak valid. Entah apa penyebabnya aku pun bingung. Tapi ya sudahlah. Seandainya aku lulus pemberkasan, maka aku dapat melanjutkan tes psikometri dan jika lulus juga maka aku harus melakukan pelatihan-pelatihan hingga akhirnya dinyatakan benar-benar lulus sebagai petugas kesehatan haji Indonesia.
Sekilas mengenai petugas kesehatan haji Indonesia itu terbagi dua yaitu PPIH dan TKHI. Dimana PPIH adalah panitia pelaksana ibadah haji yang kemungkinan akan ditempatkan di wilayah arab Saudi selama kurang lebih 3 bulan dari sebelum jamaah datang hingga setelah jamaah kembali dengan kata lain berangkat duluan pulang belakangan. Sedangkan TKHI yaitu tenaga kesehatan haji Indonesia yang sudah jelas hanya untuk Indonesia dan tenaga kesehatan yang dibutuhkan hanyalah dokter dan perawat dimana setiap kloter didampingin oleh satu dokter dan dua perawat dan waktunya kurang lebih selama satu bulanan. Berbeda dengan PPIH yang tidak hanya perawat dan dokter namun tenaga kesehatan lain pun bisa mendaftar seperti farmasi, gizi, dan lainnya namun sayangnya aku tidak melihat tulisan bidan dalam daftar tersebut.
Awalnya aku tidak mengetahui seperti apa PPIH dan TKHI itu. Hanya tahu bahwa PPIH itu tidak hanya perawat dan dokter, dan aku pikir berarti lebih banyak orangnya. Maka akhirnya aku memilih PPIH. Namun setelah mencari tahu syarat PPIH adalah lebih memprioritaskan orang yang pernah TKHI sebelumnya, ya sudah deh.
Entahlah, namun jujur aku lebih memilih PPIH dibanding TKHI karena lebih lama berada di arab Saudi hehe. Kalau TKHI mengikuti jamaah haji dari berangkat hingga pulang makanya per kloter.
Namun saat mengetahui bahwa aku tidak lulus ke tahap berikutnya rasanya seperti kejadian tahun  2013 dan 2014 dimana saat itu aku gagal dalam cpns. 2013 aku gagal dalam tiga tes cpns, pertama cpns dki Jakarta hanya sampai mengikuti tes kompetensi hingga jam 3 dini hari yang dimulai dari pagi mengingat saat itu computer untuk tes sering error, cpns pusat saat awal melihat pengumuman memang dinyatakan lulus namun diserahkan kepada instansi yang berwenang karena dengar-dengar instansi berwenang lebih memprioritaskan yang bekerja di instansi tersebut maka aku pun gagal lagi, yang ketiga cpns tangsel kalau yang ini entah berkas  yang aku kirimkan sampai atau tidak karena setelah pengiriman berkas tidak ada kabar lagi. Bersyukur juga karena cpns pusat dan tangsel tesnya dalam waktu yang sama. Saat gagal terutama cpns dki Jakarta dimana aku pulang jam 3 dini hari setelah tes rasa kecewa dan sedih pun aku alami. Namun saat itu aku berusaha berpikir bahwa mungkin bukan tempat aku di dki karena mungkin orang tua pun tidak begitu mengijinkan aku disana jika lulus. Saat tidak lulus cpns pusat aku berpikir mungkin karena aku tidak pantas di tempat tersebut karena dari segi fasilitas tempat saat itu aku bekerja memang jauh lebih baik dari tempat instansi pilihan tes.

Saat mengetahui aku tidak lulus, maka aku hanya bisa memberi sugesti dan menghipnosis diri sendiri bahwa ini adalah yang terbaik. ALLAH punya rencana lain dibalik ini yang kita tidak ketahui. Ada hikmah dibalik sebuah kegagalan. Allah memberi yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Mungkin aku masih kurang dalam memperbaiki diri dan diharuskan memperbaiki diri lagi. Mungkin juga aku belum pantas dan belum saatnya. Yang pasti hidup tidak berhenti hanya karena hal  ini dan harus terus berlanjut.

Selasa, 24 Januari 2017

2016

PENCAPAIAN TAHUN 2016 INI

Alhamdulillah karena tahun ini banyak hal yang menyenangkan yang saya alami. Walaupun semua tak mudah didapat dan butuh perjuangan. Namun akhir dari semuanya selalu menggembirakan.
Saya tak hapal benar bagaimana urutannya.
1.      Dipenghujung tahun 2015 menjelang 2016 saya mendapatkan Surat Tanda Registrasi sebagai perawat bukti legalitas profesi yang saya geluti. Setelah sebelumnya saya sudah memiliki kartu anggota organisasi profesi perawat yaitu PPNI.
2.      Saat proses skripsi handphone hilang di angkot, namun tiba-tiba saja sang paman menawarkan handphone yang menurut saya cukup canggih jika dibandingkan hal hilang tersebut.
3.      Lulus sarjana dan bisa wisuda di tahun ini. Alhamdulillah juga dengan biaya sendiri penuh tanpa sedikit pun campur tangan orang tua dalam hal keuangan semasa kuliah sarjana ini.
4.      Saat handphone nyemplung sungai dan ada yang bersedia menolong dengan basah-basahan hingga akhirnya handphone saya dapatkan kembali. Namun tak bisa langsung pakai karena layar tak menyala dengan baik. Saat itu pula handphone baru sudah tersedia. Entah firasat apa beberapa hari sebelumnya saya membeli sebuah handphone yang memang tak begitu canggih jika dibandingkan yang menyemplung tadi. Handphone tersebut saya beli karena masa promo dan harganya lumayan cukup murah hanya 100ribu rupiah. Awalnya memang berpikir untuk apa beli handphone lagi, namun saat itu sudahlah saya beli saja dahulu. Akhirnya pun handphone tersebut terpakai. Saya pun agak takut memakai handphone yang pernah nyemplung untuk keperluan komunikasi.
5.      Surat Ijin Kerja keluar yang menegaskan bahwa saya bekerja di RSU
6.      Terbitnya surat ijin melanjutkan pendidikan setelah dua tahun dan setelah kuliah selesai. Mungkin aneh karena seharusnya surat ijin belajar terbit lebih dahulu baru kemudian kuliah. Namun karena saat memutuskan untuk kuliah masa kerja saya belum cukup maka ijin kuliah pun ditunda, tetapi saya tetap melanjutkan perkuliahan. Setelah diusahakan lagi akhirnya surat itu pun keluar. Alhamdulillah sekali rasanya terbebas dari hal yang bersifat illegal. Yah walaupun tak sesuai prosedur. Setidaknya dengan adanya ijin tersebut saya merasa yakin dengan gelar yang disandang. Walaupun belum sempurna. Karena Skep tanpa Ns. Dengan adanya ijin tersebut sebuat konsekuensi pun harus saya tanggung salah satunya pengabdian dalam arti tak bisa seenaknya resign dan konsekuensi lainnya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati materai.


Walaupun begitu tetap saja ada yang kurang. Coba saja tebak apa yang kurang dan belum lengkap.

surogasi

SUROGASI

3 januari 2017
Sebelumnya saya pernah menulis tentang IBUNYA YANG MANA? https://apurusrinufa.blogspot.co.id/2016/11/ibunya-mana.html

Efek juga dari sebuah serial tayangan yang sering saya lihat akhir-akhir ini dan saya temukan istilah baru dalam dunia kesehatan yaitu “SUROGASI” karena penasaran maka saya pun mencari tahu tentang hal tersebut dan juga menjawab pertanyaan saya mengenai tulisan berjudul IBUNYA YANG MANA.
Maka inilah hasilnya

Surogasi  
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Surogasi (bahasa Inggrissurrogacy) adalah suatu pengaturan atau perjanjian yang mencakup persetujuan seorang wanita untuk menjalani kehamilan bagi orang lain, yang akan menjadi orang tua sang anak setelah kelahirannya. Terdapat dua jenis utama surogasi, yaitu surogasi gestasional (juga dikenal sebagai surogasi penuh atau inang[1]) yang terjadi pertama kali pada bulan April 1986[2] dan surogasi tradisional (juga dikenal sebagai surogasi parsial, genetik, atau langsung[1]). Dalam surogasi gestasional, kehamilan terjadi akibat pemindahan atau transfer embrio yang diciptakan dengan program "bayi tabung" atau fertilisasi in vitro (IVF), dengan suatu cara tertentu sehingga anak yang dilahirkan tidak terkait secara genetik dengan sang inang atau "ibu pengganti". Pengganti gestasional juga disebut sebagai pembawa gestasional. Dalam surogasi tradisional, sang pengganti dijadikan hamil secara alami ataupun artifisial (buatan), tetapi anak yang dilahirkan memiliki keterkaitan genetik dengannya. Di Amerika Serikat, surogasi gestasional lebih umum daripada surogasi tradisional dan secara hukum dianggap tidak begitu kompleks.[3]
Mereka yang bermaksud menjadi orang tua mungkin akan melakukan suatu pengaturan surogasi ketika kehamilan tidak dimungkinkan secara medis ataupun risiko kehamilan menyajikan bahaya yang tidak dapat diterima bagi kesehatan sang ibu, dan merupakan suatu metode yang disukai pasangan sesama jenis untuk memiliki anak. Kompensasi dalam bentuk uang mungkin, atau mungkin juga tidak, dilibatkan dalam pengaturan ini. Apabila sang ibu pengganti atau yang rahimnya "dititipi" menerima uang untuk pelaksanaan surogasi maka pengaturan ini dianggap sebagai surogasi komersial. Apabila ia tidak menerima kompensasi selain penggantian biaya medis dan biaya lain yang sewajarnya maka disebut sebagai surogasi altruistik.[4]
Hukum surogasi di seluruh dunia
Indonesia
Praktik surogasi dilarang di Indonesia. Larangan tersebut termuat dalam peraturan umum mengenai "bayi tabung" pada pasal 16 UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Keputusan Menteri Kesehatan No.72/Menkes/Per/II/1999 tentang Penyelenggaraan Teknologi Reproduksi Buatan. Dari kedua peraturan tersebut dapat disimpulkan kalau praktik "ibu pengganti" dilarang pelaksanaannya di Indonesia, dan dipertegas dengan adanya sanksi pidana bagi yang mempraktikkannya (pasal 82 UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan).[5]
Masalah etika
Masalah-masalah etika yang telah dikemukakan sehubungan dengan surogasi misalnya:[6]
Sejauh mana hendaknya masyarakat peduli tentang eksploitasi, komodifikasi, dan/atau paksaan ketika wanita dibayar untuk hamil dan melahirkan bayi, terutama dalam kasus di mana terdapat perbedaan kekayaan dan kekuasaan yang besar antara orang tua yang dimaksud dan ibu pengganti?
Sejauh mana masyarakat dibenarkan untuk mengizinkan wanita membuat kontrak tentang penggunaan tubuhnya?
Sejauh mana hak asasi wanita untuk membuat kontrak tentang penggunaan tubuhnya?
Apakah mengontrak untuk surogasi lebih seperti mengontrak untuk ketenagakerjaan, atau lebih seperti mengontrak untuk prostitusi, atau lebih seperti mengontrak untuk perbudakan?
Manakah, apabila ada, dari jenis-jenis kontrak tersebut yang seharusnya diberlakukan?
Perlukah negara dapat memaksa seorang wanita untuk menjalani "performa khusus" dalam kontraknya jika itu mengharuskannya melahirkan embrio yang ingin ia gugurkan, atau menggugurkan embrio yang ingin kandung dalam jangka waktu normal?
Apakah arti menjadi seorang ibu?
Apa hubungan antara ibu genetik, ibu gestasional, dan ibu sosial?
Apakah mungkin secara sosial atau secara hukum mengandung dalam beberapa mode keibuan dan/atau pengakuan beberapa ibu?
Perlukah seorang anak yang dilahirkan melalui surogasi memiliki hak untuk mengetahui identitas setiap/semua orang yang terlibat dalam konsepsi dan kelahiran anak tersebut?
Masalah keagamaan
Masing-masing agama memiliki pandangan yang berbeda terkait praktik surogasi atau "penyewaan rahim", biasanya terkait dengan sikap masing-masing terhadap teknologi reproduksi berbantuan secara umum.
Katolisisme
Pasal 2376 dalam Katekismus Gereja Katolik menyatakan bahwa: "Teknik-teknik yang memisahkan persekutuan suami-istri, melalui tindakan campur tangan orang lain selain pasangan tersebut (pemberial sel telur atau sperma, rahim pengganti), adalah sangat tidak bermoral.[7]
Yudaisme
Para akademisi hukum Yahudi memperdebatkan masalah ini, beberapa di antara mereka berpendapat bahwa hak asuh orang tua ditentukan oleh wanita yang melahirkan sementara yang lainnya berpandangan bahwa orang tua genetik adalah orang tua yang sah secara hukum. Hal tersebut diperdebatkan dengan sengit pada beberapa tahun terakhir.[8][9] Belakangan, instansi-instansi keagamaan Yahudi menerima surogasi apabila yang dilakukan adalah surogasi gestasional penuh dengan melibatkan kedua sel gamet orang tua yang dimaksud dan fertilisasi dilakukan melalui metode IVF.[10]



Cukup mengerti rasanya tentang surogasi dan macamnya. Wajar saja jika di Indonesia dan negara lain yang mayoritas penganutnya adalah islam melarang surogasi ini. Toh pada negara yang melaksanakannya saja surogasi tersebut menjadi ada masalah.

Permasalahan tentang legalitas dan aturan hukum tentang surogasi ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara lain pun hal ini menjadi perbincangan serius. Dikutip dari Mirror, Inggis sendiri sedang merancang undang-undang tentang pengaturan surogasi. Hal ini dikarenakan banyak kasus persengketaan tentang hak asuh yang terjadi antara para orang tua genetik (penyumbang sperma dan sel telur) dengan perempuan yang menyewakan rahimnya untuk kehamilan (surrogate mother).

Dikutip dari berbagai sumber, beberapa negara yang melegalkan proses surogasi antara lain India, Georgia, Rusia, Thailand, Ukraina dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat. Namun, proses surogasi dilarang di seluruh negara yang penduduknya mayoritas Islam antara lain Brunei Darussalam, Malaysia, Mesir dan negara-negara Timur Tengah seperti Arab dan Pakistan.

soal surogasi tradisional saya jadi teringat film india dengan chori chori chupke chupke jika tak salah dengan pemainnya adalah Salman Khan, Preity Zinta and Rani Mukerji.


Sedangkan untuk surogasi gestasional adalah serial mohabbatein antv yang saat ini masih tayang dan sering saya lihat hehe. Tepatnya pada Mohabbatein Antv 22 Desember 2016 Episode 145 Bahasa Indonesia. Yang membuat saya penasaran mengenai legalitas hukumnya dan ternyata dinegara tersebut diperbolehkan, yang dilarang adalah surogasi komersial dimana sang ibu pengganti dibayar dengan sejumlah uang. Bukan hanya soal diperbolehkan atau tidak, soal dna genetic si bayi pun saya pikirkan namun setelah saya cari tahu cukuplah saya mengerti hehe.