apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Kamis, 08 Juni 2017

rumah

RUMAH
8 juni 2017
Cerita dibawah ini sengaja saya copas dari facebook. Karena untuk saya cerita tersebut bagus dan dapat dijadikan pelajaran juga. Semoga mendapat hikmah dari cerita ini.


Nangis baca ini, 2x baca 2x pula nangisnya https://www.facebook.com/images/emoji.php/v9/fe/1/16/1f622.png😢https://www.facebook.com/images/emoji.php/v9/fe/1/16/1f622.png😢https://www.facebook.com/images/emoji.php/v9/fe/1/16/1f622.png😢
Suami Wajib Baca
Lebih baik ngontrak drumah sederhana drpd serumah dengan mertua.Mau ngapa-ngpain aja bebas. Bangun siang, bersih2 rumah kapan aja maunya, cucian kotor piring/baju mau langsung dcuci / dtumpuk dlu gk da yang ngomel, drumah berantakan sama mainan anak sakarepna, masakan gak enak juga gk masalah hihi yang penting happy.
* kisah nyata, cerita ini dari teman facebook, beliau tdk mau disebutkan ***
"Cinta Datang Terlambat 22 november 2015 "
Aku adalah pria dewasa yang kuat, tampan dan mapan menurut penilaian banyak orang. Aku adalah pria yang sopan, yang baik hati menurut mereka. Tapi mungkin mereka tidak pernah tau, ketika seorang diri aku adalah pria yang bodoh, cengeng, rapuh yang hidup penuh kesalahan dan rasa penyesalan.
Aku mencintai istriku menurutku dan juga mencintai anakku. Istriku ku Ami adalah wanita yang baik dan tidak berlebihan menurutku.
Kami tidak pernah ribut, hanya masalah-masalah sepele, seperti aku meletakkan baju kotor sembarangan, menyerakkan rak sepatu, atau ketika sedang badmood dia diam saja aku mintai tolong namun tetap mengerjakannya, atau dia cemberut karena aku melupakan janjiku untuk mengantarnya ke supermarket.
Ahh tapi pernah beberapa tahun yang lalu ketika istriku menabung sedikit demi sedikit uangnya untuk membelikan aku hadiah ulang tahun berupa jam tangan ber merk. Aku malah marah dan tidak mau menerima jam tersebut, alasanku marah padanya adalah karena dia menitipkan uang untuk membeli jam tersebut pada temanku dan bukan nya memberikan uang tersebut langsung padaku. Apa dia tidak tau betapa malunya aku sebagai laki-laki, ketika sampai di toko jam temanku berpura-pura bertanya jam mana yang bagus diantara dua pilihan dengan budged yang diberikan oleh istriku padahal sebenarnya jam itu untukku. Waktu itu aku tidak berpikir sama sekali bahwa istriku hanya berusaha menyenangkanku, berusaha memberikan surprise untukku. Istriku tampak kecewa dengan sikapku.
****
Kehidupan rumah tangga kami, bukanlah pasangan muda yang banyak mendapat harta warisan dari orangtua. Kami merintis dari nol. Bahkan masih hidup bersama kedua orangtuaku. Namun Alhamdullilah selalu meningkat lebih baik hingga akhirnya aku bisa bekerja di perusahaan yang bagus.
Dan aku selalu mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama 7 tahun pernikahan kami. Walaupun ada beberapa kali Ami merengek minta dibuatkan rumah, karena sekali-kali ada terjadi cekcok antara Ami dengan ibu atau adik-adikku. Tapi aku tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan nya. Bagiku untuk apalah rumah, belum terlalu penting.
Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara dan anak laki-laki satu-satunya. Kakak pertama ku tinggal diluar kota ikut suaminya dan sangat jarang pulang. Adikku yang pertama tinggal sekitar 10km dari rumahku, sudah memiliki dua anak dan lumayan sering tidur dirumah karena suaminya bekerja diluar kota. Adikku yang kedua kuliah di luar kota. Dan adikku yang ke tiga masih duduk dibangku smp. Sementara istriku dia adalah yatim piatu. Dan hanya dua kakak beradik.
Bicara tentang gaji, walaupun telah bekerja di perusahaan ternama gajiku habis hanya untuk membayar hutang di bank, cicilan mobil, membantu sekolah adikku, dan memberi ibuku perbulan, sebagai janjiku karena aku berhasil masuk ke perusahaan tempatku bekerja karena jasa orangtua. Sementara istriku yang menjalankan usaha menjahit, hasilnya hanya cukup untuk biaya makan kami sekeluarga bersama orangtua, biaya internet, listrik, arisan dan lainnya.
Istriku tidak pernah marah karena aku tidak mampu memberikan sebagian uang gajiku kepadanya seperti aku memberikan rutin kepada ibuku.
Tahun terus berlalu, lagi-lagi aku berpikir kehidupan rumah tanggaku tampak berjalan seperti biasanya dan baik-baik saja. Meski mungkin itu menurutku saja karena aku sibuk bekerja dan jarang dirumah. Pernah beberapa kali ketika malam hari sebelum tidur, istriku mengampiriku, bercerita dengan suara pelan sambil meneteskan air mata, mengeluhkan ibuku, ayahku atau adikku. Aku hanya mengusap kepalanya. Meminta untuk bersabar. Meski saat itu sebenarnya aku tidak pernah benar-benar mendengarkan nya, aku berpikir.. ahh biasa bukan masalah besar.
Pernah juga ketika istriku tidak dirumah justru ibukulah yang mengeluhkan ini itu segala macam sifat istriku. Dan memintaku untuk menasehatinya. Aku hanya menjawab ya bu. Akan kukasih tau nanti.
Jadi ketika ada kesempatan untuk bicara, kukatakan pada istriku supaya dia bisa bersikap lebih baik pada orangtua atau adik-adikku. Lalu istriku mulai bercerita dan kembali menangis. Ayah gak di rumah, ayah gak tau gimana ibu, ayah gak tau gimana adik ayah, umi udah gak sanggup yah, umi pengen punya rumah sendiri. Aku hanya mengusap kepalanya. Meminta untuk bersabar.
Jika ku telaah baik-baik aku pun tau istriku berkata apa adanya semua tentang orangtua bahkan adikku. Bagaimana tidak, adikku yang sudah berkeluarga saja sering tidur dan makan dirumah bersama anak-anak bahkan suaminya. Kadang jika akan pulang ke rumahnya dia membawa beras atau yang lainnya juga dari rumah kami. Tentu saja dia memintanya pada ibuku bukan istriku. Padahal bisa dikatakan istriku saja berjuang dengan sangat hemat untuk mencukupi semua kebutuhan kami.
Dan sepertinya istri ku cukup lelah, baik itu secara psikis maupun financial. Uang yang kami punya hanya habis berputar-putar disitu saja. Kami bahkan tidak memiliki tabungan. Belum memiliki rumah. Hanya sebuah mobil yang masih kredit dan ruko kecil tempat istriku membuka usaha. Tapi aku bahkan belum bisa berbuat apapun untuknya.
***
Hingga akhirnya hal buruk itu benar-benar dimulai. Suatu hari, ibuku membuka pembicaraan tentang uang perbulan yang selalu aku berikan. Ibuku bilang “tolong bilang ke istrimu jangan di bahas-bahas lagi tentang uang itu. Karena sekarang ini gak ada lagi orang tua lain yang bisa bantu anaknya masuk kerja ke perusahaan sebagus itu. Kamu itu beruntung ”Bu, Ami gak pernah bilang apa-apa ke Yoga. “kamu mau kasih berapapun gak akan bisa balas apa yang udah orangtua berikan.” Dia gak pernah marah atau iri kok bu. Tapi ibuku trus saja mengucapkan kata-kata lain nya. Istriku yang sedang menyiapkan baju untukku dikamar akhirnya keluar karena mendengar ribut-ribut dan menanyakan ada apa. Ku jelaskan yang disebut ibu pada istriku, semeentara ibu masih terus saja bicara, hingga akhirnya istriku menjawab kalo ibu memang gak sayang dengan nya dan pergi masuk ke kamar meninggalkan aku dan ibu. Saat itu aku sempat berkata pada ibu kalo memang ibu gak suka lagi aku dirumah ini, maka aku akan pergi.
Menjelang siang istriku di jemput teman nya dan pergi bersama Okan keluar. Ketika pulang menjelang sore dan masuk ke kamar, istriku menemukan secarik surat di tempat tidur dari ibu yang berisi. “mulai hari ini saya tidak kenal kamu lagi, saya memang tidak pernah menyayangi kamu dan kamu bukan menantu saya lagi.” Istrikuku memfoto surat kecil itu dan mengirimkan nya padaku lewat bbm. Rasanya pasti seperti di sambar petir di siang bolong. Istriku langsung pergi lagi keluar dari rumah bersama Okan.
Mungkin wanita lain akan kembali ke rumah orangtuanya, tapi istriku mau kemana dia. Kakak nya jauh tinggal di Bandung. Disinipun ikut denganku tidak memiliki teman dekat. Aku sempat menitikkan air mata, namun karena saat itu dikantor sangat bnyak pekerjaan akhirnya masalah itu terlewat begitu saja dipikiranku hingga jam pulang.
Ketika sampai dirumah dan menemukan istriku tidak ada aku menelepon dan menanyakan dia dimana. Aku membujuknya agar mau pulang. “dan malam itu juga kami pun berkumpul, aku, istriku, ibuku, ayahku. Membicarakan titik permasalahan nya. “Ibuku yang memang pertama kali memulai masalah pun tampak nya enggan untuk mengakui.” tentu saja, karena dia pasti tidak akan mau jika harus mengaku salah di depan anak dan menantunya. Sementara itu istri dan ayahku hanya diam saja. “ibuku trus bicara blaaa-blaaa.. ini itu dan banyak yang lain nya untuk semakin memojokkan istriku.
Akhirnya aku bertanya “jadi ibu mau nya apa?” ibuku bilang, dia ingin istriku merubah sifatnya. Ibuku bilang dia tidak akan mau makan, karena ibuku tau selama ini istriku tidak rela, tidak ikhlas. Aku bilang pada ibu, kalau ibu tidak mau makan itu bearti ibu tidak menghargai hasil jerih payahku. Lebih baik aku gak usah tinggal dirumah ini lagi. Ibuku kembali bilang, “bahwa dia gak makan karena istriku tidak rela. Ibuku juga bilang, seharusnya istriku bisa bersikap lebih baik ke adik-adikku. Dan jangan dibahas lagi masalah uang yang aku berikan karena ibuku malu jika orang lain tau. Dan kalau sampai aku pergi meninggalkan rumah ini, ibuku bilang dia tidak akan mau menginjakkan kakinya dirumahku sebagus atau semewah apapun rumahku.
Saat itulah aku melihat istriku meneteskan airmatanya, airmata itu trus saja mengalir tak tertahan lagi olehnya. Meski berusaha menangis tanpa suara, tampak sekali bahwa ia merasa sedih, terpukul, kecewa, tersiksa bercampur menjadi satu. “ayahku yang sedari tadi diam saja, akhirnya buka suara dan bilang kalau dia akan sangat malu jika aku sampai pergi meninggalkan rumah ini.” Aku bilang semua keputusan ada ditangan ibu. Ibu bilang jangan pergi.
***
Aku pikir masalah malam itu pastilah akan terlupakan. Setahun lebih hampir berlalu dan semua akan kembali baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah. Istriku berubah menjadi lebih pendiam, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak kami, dia jarang sekali tertawa, bercanda seperti dulu. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang begitu sebagai upaya untuk berusaha menjadi lebih baik.
Istriku tidak pernah lagi merengek minta dibuatkan rumah, tidak pernah minta di antar ke supermarket, arisan, atau mengajak keluar saat weekend. Bahkan jika aku ajak pergi ke kondangan ataupun keluar istriku menjawab, “ayah saja ya umi capek, ayah saja ya umi ngantuk, ayah saja ya umi masih ada kerjaan.” Dan aku pikir memang begitu keadaannnya.
Aku bahkan tidak menyadari jika istriku menjadi lebih kurus, matanya sering sembab karena berusaha menyembunyikan kesedihannya dariku. Suatu hari bahkan anakku Okan pernah berkata, kita kalau mau makan selalu bilang “makan umi, makan oma, makan opa, makan aunty, tapi kok Okan gak pernah denger umi bilang gitu ya yah. Aku tersentak dan tersenyum, umi kan sekarang gak mau bicara kuat-kuat sayang mungkin waktu umi makan lagi gak ada siapa-siapa. Sahutku. Okan pun tersenyum, mengangguk. Tapi aku jadi terpikir dengan kata-kata anakku, selesai makan akupun langsung masuk ke kamar menghampiri istriku yang memang lagi tidak enak badan menanyakan apa ia sudah makan? Mau dibelikan apa? Istriku hanya tersenyum dan menggeleng tidak mau apa-apa katanya. Dia sudah kenyang.
***
Bulan berlalu, kota kami dituruni hujan yang sangat lebat, memang sedang musim hujan sih sebenernya. Tapi hari ini betul-betul lebat bahkan beberapa pohon tua di area perkantoranku sampai tumbang. Aku berusaha menelepon istriku namun tidak di angkat. Akhirnya aku menelpon ke ruko dan menanyakan ke karyawan apakah istriku ada disana, “ada pak, tapi ibu didalam baru datang setengah jam yang lalu sambil basah kuyup pak.” Oh ya sudah kalu gitu. “ada pesan pak?” paling nanti saya mau jemput ibu. Gak perlu dibilang ya mbak, ada surprise soalnya. “oke pak.”
Hari ini perusahanku menang tender, aku pun kelimpahan bonus yang lumayan besar jumlahnya dan pasti bisa digunakan untuk membuat rumah sederhana impian istriku. Lepas jam kantor aku pun bergegas ke ruko ingin berjumpa belahan jiwaku. “ibu masih didalam mbak? masih pak. Aku membuka pintu pelan sekali, karena ingin mengejutkannya. Istriku tampak menidurkan kepalanya di atas tangan di meja. “DAAAAAA.. sahutku memegang pundak istriku, yang ternyata pakaian nya masih basah karena kehujanan tadi. Ya ampun pikirku, hujan sudah berhenti hampir 2 jam yang lalu. Umiii, panggilku sambil membalikkan tubuhnya. Saat itulah aku menyadari sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Wajah istriku sangat pucat dan biru. Tangannnya sangat dingin seperti es. Umiiii jeritku membopongnya membawa ke luar ruangan. Karyawan yang ada diluar pun kaget melihatku. Aku langsung meminta salah satu karyawan menyupir mobil sementara aku menggendong dan berusaha menyadarkan istriku.
Aku tak henti-hentinya menangis, segala pikiran dan bayangan buruk merasuk kedalam pikiranku. Air mataku jatuh tak terhankan membasahi wajah istriku. Aku memeluknya erat, erat sekali. Pejalanan ke rumah sakit ntah kenapa terasa begitu lama. Aku tak tahan lagi. Aku ingin agar istriku segera sadar, aku ingin dia tau kabar gembira yang kubawa, aku ingin dia tau betapa aku mencintainya. Aku ingin dia bahagia. Aku ingin dia tersenyum. Aku tidak indin dia bersedih atau pun menangis lagi. Aku ingin melihat senyumnya yang dulu, ketawanya yang dulu, candaan nya yang dulu. Yang hilang tanpa pernah aku sadari. Umi maafkan ayah mi. Maafkan ayah. Maafkan ayah. Maaafkan ayah umi.. maafkannnnn...
Selama dua jam Aku menunggu dokter menangani istriku. Kenapa lama sekali mbak? tanyaku pada perawat yang keluar dari ruangan. “sabar pak” jawabnya. Ya Allah ya tuhan, aku mohon selamatkan dia Ya Allah. Dialah bidadariku Ya Allah. Aku sangat mencintainya. Bagaimana mungkin aku dan anakku hidup tanpa nya. Tanpa kasih sayang nya. Aku merasa sangat sedih sekali. Belum pernah aku merasa sesedih ini. Tapi bagi istriku mungkin selama ini, seperti inilah hidup yang ia jalani. Namun aku tak pernah mengerti dan merasakannya. Aku tak pernah akan tau betapa ia menderita jika peristiwa ini tidak terjadi. Ya Allah maafkan aku, aku mohon beri aku kesempatan....
***
Maafkan kami pak, nyawa istri bapak tidak tertolong. Istri bapak terserang hipotermia. Sahut dokter dengan wajah sedih. Seketika tubuhku lunglai dan menjadi dingin seperti es. Airmataku jatuh tak tertahankan. Bagaimana mungkin dok? Istri saya hanya kehujanan sebentar saja. Bagaimana mungkin? “Mungkin saja pak, walaupun hanya kehujanan sebentar tapi bisa saja tubuh istri bapak sedang dalam keadaan yang tidak fit, atau perutnya kosong, apalagi istri bapak tidak segera mengganti pakaian nya yang basah setelah kehujanan.
Ya Allah, jeritku... aku tak berhenti menangis, aku tak berhenti memeluknya, tubuh istriku yang telah kaku. Aku menatap lekat wajahnya, wajah itu begitu teduh namun sayu. Amiiii, aku mencintaimu sangat mencintaimu sayang. Maafkan aku yang tak pernah mengerti. Maafkan aku yang tak pernah paham. Tapi mengapa tak engakau beri aku kesempatan? Apa engkau sudah benar-benar lelah? Apa memang sudah tak kuat lagi? Lalu bagaimana dengan aku? Apa kamu pikir aku akan kuat mejalani ini semua? Bagaimana dengan anak kita? Pikiranku kembali ke semua hal yang telah berubah pada istriku setahun belakangan ini. Seandainya saja aku menyadari bahwa semakin hari tubuhnya memang semakin kurus, seandainya saja aku menyadari kata-kata Okan malam itu padaku. Aku menyesali semuanya, semua yang telah terlambat dan tak akan terulang.
Andai waktu dapat diputar, pastilah aku tidak akan membiarkanmu tinggal lama-lama serumah dengan keluargaku. Andai waktu dapat diputar pastilah dengan sungguh-sungguh akan kubangun rumah impianmu sayangku, cintaku, bidadariku. Air mata ini, kesedihan ini, tak akan mampu menghapuskan semua salahku sayang.
*******
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri hargailah keberadaannya, kasihi dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila ia telah tiada, tidak ada suatu apapun yang dapat lebih baik seperti dirinya.
Bukanlah hal yang salah jika tinggal bersama mertua atau saudara ipar. Tapi pernahkah kamu mendengar pribahasa “yang jauh bau bunga yang dekat bau tahi.” Jadi alangkah lebih baiknya jika kau bina rumah tangga kecilmu dengan tertatih namun berujung nikmat dan bahadiah. Karena didalamnya akan kau temukan begitu banyak kejutan dan cinta.
Keluarga memang penting, ibu, ayah, kakak, adik, tapi jangan sampai karena cinta mu pada mereka engkau melupakan cinta dan tanggung jawab pada istrimu.


Senin, 22 Mei 2017

hijab

BERHIJAB

22 mei 17
Seseorang yang berhijab memang tidak menjamin bahwa perilakunya itu baik. Namun setidaknya dia telah menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh agamanya (jika dia seorang muslimah).

Dahulu sempat singgah di telinga saya seseorang mengatakan bahwa belum bisa berjilbab namun akan MENJILBABKAN HATI. Jilbab hati? Coba deh pikir, hati dipakaikan jilbab itu seperti apa? Seseorang yang berjilbab di kepala itu berarti rambutnya tidak terlihat dan hanya wajah saja yang bisa dilihat itu pun jika dia tidak mengenakan niqob. Nah jika hati yang dipakaikan jilbab, ini berarti hatinya tidak terlihat. Bolehkah saya katakana bahwa hatinya tertutup dan lama-lama akan tertutup mata hatinya maka wajar saja jika dia tidak berjilbab toh hatinya saja sudah dia tutupi. Jika sudah seperti itu bagaimana hidayah Allah SWT akan sampai padanya jika dia sendiri saja menutupi hatinya? Itu pemikiran saya loh. Jika berbeda pendapat dengan anda ya silakan saja.

Dengan berhijab, maka dia dengan sendirinya akan belajar untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik tentunya. Itupun jika dia istiqomah dengan jilbabnya dalam hal ini TIDAK LEPAS BONGKAR PASANG JILBAB.

Bukan hanya kepala atau rambut saja yang ditutupi, namun juga pakaian lainnya tidak memperlihatkan aurat atau pun transparan hingga ketat sehingga dia berpakaian namun seperti tak berpakaian.

Sekarang ini banyak yang berjilbab namun rambut masih terlihat bahkan terkadang disengajakan. Tidak memakai dalaman hijab, poni rambut kemana-mana dia biarkan padahal dia tahu bahwa itu terlihat. Nah kalau sudah begitu berarti kan sengaja? Entah mereka itu ada yang menegur atau tidak. Kebanyakan dari mereka yang saya perhatikan adalah para siswi. Entah apakah sang guru atau orang tua menegurnya atau tidak? Atau jangan-jangan malah yang diajarkan seperti itu. JIKA ITU TERJADI PADA ADIK ATAU ANAK SAYA, KEMUNGKINAN SAYA AKAN TARIK ITU JILBAB DAN MENEGASKAN KEPADANYA “MAU PAKAI JILBAB ATAU TIDAK?”. Jika mau pakai, tolonglah memakainya yang benar jangan hanya asal sekalipun masih belajar.


Mohon maaf, saya pun masih belajar. Namun geram dengan mereka yang berjilbab namun poni sengaja diperlihatkan bahkan sampai bongkar pasang lepas jilbab.


BAGI YANG BERJILBAB, ISTIQOMAHKAN DIRIMU. JANGAN PERNAH LEPAS JILBAB KARENA HAL APAPUN. APALAGI KARENA MATERI SEMATA. INGAT DIRI KALIAN ITU ISTIMEWA DAN BERHARGA. MENGAPA? AURAT SAJA DIJAGA DAN DITUTUPI, BAGAIMANA DENGAN YANG LAIN? pikir deh.

dia bukan untukmu

DIA BUKAN UNTUKMU

22 mei 17
Ingat beberapa tahun saat sedang donor darah, kebetulan bertemu dengan adik kelas waktu kuliah akper. Dia bertanya “koq lo gak jadi sama dia (mantan) kak? Gw pikir lo bakalan jadi sama dia?”. Gue jawab ajjah “yah itu tandanya dia gak baik buat gue, simple kan?”. Entah si mantan mendengar atau tidak. Karena kebetulan juga si mantan bekerja disana.

Jadi, simple ajah jika dia bukan untukmu itu tandanya dia tak baik buatmu. Sekalipun triliunan orang di luar sana mengatakan bahwa dia baik. Ya mungkin memang dia baik. Namun kebaikannya itu tak baik untukmu. Ingat Allah SWT lebih mengetahui mana yang baik dan terbaik untukmu.

saat gelisah dan tak tenang

SAAT GELISAH DAN TAK TENANG

Teringat saat masa di bangku sekolah menengah pertama yang mengharuskan aku pindah sekolah saat kenaikan kelas tiga. Walau mungkin kepindahan tersebut terkesan agak aneh. Karena aku pindah dari sekolah cabang ke sekolah pusat. Mungkin terkesan membingungkan atau apalah gitu. Karena pindahnya dari cabang ke pusat. Berawal dari sekolah tersebut yang mempunyai dua tempat dengan nama yang sama sehingga ada cabang dan pusat. Entah mengapa sampai ada hal seperti itu pun aku tak begitu mengerti. Karena saat itu yang ada di otakku hanyalah “sekolah”. Akhirnya orang tua memilih sekolah cabang untukku karena jarak yang lebih dekat. Tetapi setelah dua tahun aku mendapat pendidikan di sekolah cabang tersebut dan di tahun ketiga aku bersekolah, sekolah cabang tersebut akan berdiri sendiri dengan nama sekolah yang baru dan dengan tempat baru pula yang jaraknya lebih jauh dari sekolah pusat. Mengagetkan sudah pasti. Karena perjanjian awal adalah sekolah cabang tersebut tetap ada sampai angkatanku lulus. Namun pada kenyataannya tak seperti itu. Negosiasi pun dilakukan oleh para orang tua agar selama satu tahun dan sampai lulus tidak pindah ke tempat baru mengingat jarak yang jauh. Tetapi hasilnya nihil. Akhirnya orang tua ku memutuskan agar aku pindah ke sekolah pusat dengan meminta kepada pihak sekolah. Permintaan pun di kabulkan oleh pihak sekolah dengan melihat hasil belajar ku saat itu. Hingga akhirnya aku pun pindah sekolah. Walau pindahnya dari cabang ke pusat dan dengan nama sekolah yang sama. Tetapi menurutku yang namanya pindah tetap saja pindah. Karena di tempat itu aku harus beradaptasi dengan teman-teman, guru-guru dan lingkungan yang baru. Saat itu ujian yang menurutku cukup berat dimulai.

Pindah sekolah berarti aku harus mengulang semuanya dari awal. Harus mengenal ulang guru-guru dan teman-teman yang baru. Saat itulah aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada diriku. Entah mengapa aku selalu merasa tidak tenang dan selalu gelisah. Entah apa sebabnya? Sehingga membuat aku sering diam menyendiri dan didukung pula aku duduk sendiri didalam kelas itu sedang teman-temanku yang lain duduk berdua karena memang jumlah siswa dalam kelas itu ganjil. Selalu merasa tak tenang dan gelisah tanpa sebab yang aku sendiri pun tak tahu membuat aku terkadang menangis seorang diri. Awalnya memang tak ada yang mengetahui kalau aku sering menangis dan menyendiri. Hingga akhirnya orang tua dan guruku pun mengetahui hal ini karena mungkin mereka mengamati apa yang aku lakukan. Aku pun sempat dipanggil oleh guru BP karena sering menyendiri dan dianjurkan mencari teman untuk mengobrol atau sekedar curhat. Saat itu aku iya kan saja anjuran sang guru dan menyebut nama teman yang aku kenal walaupun sebenarnya aku tak yakin dengan teman yang aku sebut itu. Karena tak ingin masalahnya berlanjut dengan guru tersebut maka hal itu pun aku lakukan. Sesungguhnya saat sang guru itu memanggil ku rasa gelisah dan tak tenang itu bukan berkurang malah semakin menjadi sehingga aku hampir tak bisa menahan air mata ku. Tetapi untungnya saja aku berhasil tak menangis di depan guru itu. Karena jujur sebenarnya aku tak suka di panggil oleh guru BP saat itu. Entah mengapa? Orang tua ku pun tahu karena saat itu orang tua ku melihat ku seperti habis menangis. Maka ditanya-tanyalah aku seperti interogasi. Awalnya memang aku mengelak dan mengatakan tak ada apa-apa. Karena aku sendiri pun tak tahu apa sebabnya sehingga aku seperti itu. Tetapi akhirnya air mata ku tak bisa terbendung lagi sehingga buyarlah air mata ku membasahi pipi dan ku ceritakan semuanya yang terjadi di sekolah hingga aku di panggil oleh guru BP. Nasehat orang tua saat itu yang aku ingat hanyalah “sabar”. Namun hal itu tak membuat rasa gelisah dan tidak tenang ku hilang. Hingga akhirnya aku mencari sendiri solusi dari ketidaktenangan dan kegelisahan hati ku. Maka kudapatkan solusi dari masalah ku tersebut adalah tahajud. Inilah awal mulanya aku melaksanakan shalat tahajud dengan tujuan saat itu adalah agar hatiku tenang dan tidak gelisah.

Jujur saat kegelisahan dan ketidaktenangan itu datang, sempat aku berpikir untuk berhenti sekolah karena saat itu mulai timbul rasa malas ke sekolah dalam diriku. Namun rasa malas itu bukan membuat aku tak pergi ke sekolah malah sebaliknya karena aku hampir selalu menjadi orang pertama yang tiba dikelas disaat teman-temanku yang lain belum datang. Karena aku akan lebih gelisah dan tak tenang jika aku terlambat. Entah pikiran apa yang terbersit dikala itu? Entah pemikiran bodoh atau apalah? Namun beruntung pemikiran itu aku pikir-pikir ulang. Karena saat itu aku berpikir lagi “Kalau aku berhenti sekolah, lalu aku mau apa? Mau jadi apa nantinya? Bagaimana dengan cita-citaku? Bagaimana aku bisa bekerja di tempat yang baik seperti paman-pamanku?”. Banyak pikiran berkecamuk dalam benakku saat itu jika aku berhenti sekolah. Karena jika dipikir ulang banyak kerugian yang aku dapat jika hal tersebut aku lakukan. Maka akhirnya aku berusaha menghilangkan pikiran yang tak baik itu. Dengan mengingat cerita ibu tentang keberhasilan adik-adiknya yang berarti adalah pamanku maka itu membuat aku termotivasi untuk terus berusaha meraih mimpi dan cita-citaku. Hingga akhirnya pemikiran tersebut hilang dan tak aku lakukan. Alhamdulillah. Namun tetap kegelisahan dan ketidaktenangan itu ada dalam hatiku.

Akhirnya saat itu aku mulai merutinkan tahajud agar hatiku tenang dan dalam setiap doa dalam shalat selalu ku mohonkan agar aku diberi ketenangan hidup. Saat itu aku sadari bahwa ketenangan hidup itu cukup penting karena hidup rasanya tak nyaman jika hati ini tak tenang dan gelisah. Alhamdulillah dengan tahajud lama kelamaan kegelisahan dan ketidaktenangan hatiku perlahan hilang dengan sendirinya. Hingga tak terasa sudah satu semester aku di sekolah baru tersebut dan aku pun mempunyai teman yang walau hanya sebatas teman saja. Alhamdulillah juga nilai-nilaiku saat itu tak menurun walaupun stabil tetapi aku bersyukur karena masih mendapatkan peringkat lima besar didalam kelas tersebut. Karena saat itu walaupun aku merasa gelisah dan tak tenang beruntungnya minat belajar ku tak menurun malah menjadi salah satu solusi agar aku lebih merasa tenang disamping tahajud yang aku lakukan saat itu. Alhamdulillah akhirnya aku bisa melewati satu semester itu dengan baik walaupun berliku. Dengan kata lain aku butuh waktu kurang lebih enam bulan untuk beradaptasi dengan semua hal yang baru di sekolah itu. Alhamdulillah akhirnya aku tak berhenti sekolah.

Tak hanya di bangku sekolah saja, tetapi juga saat di bangku kuliah pun ketidaktenangan dan kegelisahan hatiku kembali lagi terjadi. Bedanya jika saat dibangku sekolah aku tak begitu mengerti dengan penyebab kegelisahanku tetapi saat dibangku kuliah aku tahu apa yang membuat aku tak tenang dan gelisah. Saat itu aku duduk di semester tiga yang berarti sudah satu tahun aku menjalani perkuliahan. Kegelisahan dan tak tenang muncul kembali ketika itu karena kekecewaanku terhadap lawan jenis. Entahlah mengapa ada rasa kecewa saat itu? Kekecewaan tersebut memang membuat aku malas untuk datang ke kampus dan mengikuti kegiatan kampus lainnya karena pastinya aku akan melihat lawan jenisku itu. Jujur saat itu aku merasa seperti sudah dibohongi mungkin ini yang membuat aku kecewa. Buruknya diriku adalah aku tak mau berurusan lagi dengan orang yang telah mengecewakan ataupun membohongiku jika tak terpaksa. Jangan kan untuk berurusan dengannya untuk bicara dan sekedar menyapa pun aku tak mau jika itu tak begitu penting bagiku. Rasa malas, kecewa, gelisah, tak tenang membuat pikiran burukku tentang mengakhiri pendidikan kembali singgah. Namun saat itu dorongan orang tua dan orang terdekat ku seperti paman dan lainnya membuat aku berpikir ulang dengan pikiran buruk tersebut. Orang tua yang selalu mendoakan dan memberi nasehat kepadaku. Paman ku yang setiap rasa gelisah itu datang selalu setia mendengar curahan-curahan hatiku melalui telepon dan ucapan-ucapannya yang membuat aku kembali semangat untuk terus melanjutkan pendidikan tanpa mempedulikan dia yang telah mengecewakanku. Bukan hanya itu pemikiran-pemikiran ku positif lainnya dan ingatan-ingatanku tentang keluarga yang pastinya mengharapkan ku sukses dan berhasil, memotivasi ku untuk terus bertahan dan berjuang menghadapi cobaan tersebut. Yah aku anggap hal itu adalah cobaan untukku dalam meraih impianku. Selain kerugian finansial yaitu biaya yang telah dikeluarkan untuk aku kuliah kerugian lain pun akan aku dapat seandainya saat itu aku benar-benar mengakhiri pendidikanku hanya karena seseorang yang mungkin saat ini sudah tak penting lagi bagiku. Aku bersyukur karena pada akhirnya aku bisa melewati itu semua ditambah dengan nilai IP ku yang stabil dan lebih tinggi darinya hingga akhirnya aku bisa lulus dengan IPK yang cukup baik untukku.


Hikmah yang bisa aku dapatkan adalah dikala hatiku gelisah dan tak tenang dalam hidup ini yang harus aku lakukan hanyalah beribadah kepadaNya memohon ketenangan hati dalam menjalani hidup ini. Karena jika boleh memilih mungkin lebih baik gelisah dan tak tenang ketika akan menghadapi tes dibanding gelisah dan tak tenang dalam hidup. Jika gelisah dan tak tenang saat menghadapi tes itu hanya sebelum dan saat berlangsungnya tes saja mungkin juga setelah tes yaitu menunggu hasil dari tes tersebut namun setelah itu kegelisahan perlahan akan hilang. Namun berbeda dengan kegelisahan dalam hidup ini yang entah sampai kapan rasa itu akan menggelayut di hati jika tak segera ditangani.

what happen with me

070315
WHAT HAPPEN WITH ME

What happen with me today? Apa yang terjadi denganku hari ini? Entahlah saat pagi sebelum berangkat kuliah dan iseng-iseng buka facebook, dan saat itu pula saya mendapat info tentang dia yah tepatnya mungkin tentang wanitanya. Dan saya pikir itu tidak akan lagi berpengaruh dengan saya. Tapi nyatanya tidak demikian. Dan yang saya heran juga entah suatu kebetulan atau tidak atau memang sudah Allah gariskan seperti itu entah kenapa aktivitasnya di facebook selalu saja saya tau saat saya membuka facebook walaupun postingannya mungkin sudah lalu. Ya Allah apakah ini memang petunjukmu? Finally saya tau siapa wanitanya. Yah kalo yang saya dapat info dari facebook tahun kelahiran wanitanya sama dengan saya. Berarti beda 10 tahun dengan dia. Dan saya ingat beberapa waktu lalu saya memang ingin tau siapa wanitanya dan Allah memberikan saya itu. Namun sayangnya itu semua berpengaruh terhadap aktivitas saya hari ini salah satunya kuliah. Mungkin bisa dibilang oleh anak jaman sekarang jika saya “galau” yah mungkin itu yang terjadi. Tapi apa penyebabnya? Saat kuliah sempat saya tidak konsentrasi dalam mata kuliah bahasa inggris yang membuat semua orang tertawa. Entah karena dia kah penyebabnya? Atau karena saya kecewa dengan dosen yang semestinya masuk pada hari ini? Atau saya kecewa dengan kuliah hari ini? Entahlah. Yang pasti saya mulai bete dan mungkin malas serta kecewa saat mengetahui dosen yang semestinya masuk tidak bisa masuk lagi hari mengingat ada beberapa mata kuliah yang belum sama sekali masuk. Yah kalo dipikir-pikir mungkin gantian. Dulu mungkin dosen yang kecewa dengan mahasiswa karena tak ada mahasiswa dan sekarang mungkin sebaliknya. Tapi ya sudahlah.
Kembali tentang dia. Entahlah apa yang harus saya perbuat? Saya masih mempertanyakan pada diri saya sendiri “benarkah saya menyukainya?” entahlah saya sendiri juga bingung jika dilontarkan kata-kata itu. Tapi curiga saya, saya tidak konsentrasi saat mata kuliah bahasa inggris lebih kepada karena dia, bukan hanya saya kecewa terhadap dosen itu. Saya hanya bisa memohon jika memang saya benar-benar menyukainya dan ternyata dia benar-benar bukan jodoh saya, saya mohon hilangkan perasaan suka pada diri saya terhadapnya? Dan jika memang dia benar-benar berjodoh dengan wanitanya, semoga segala rencana mereka dipermudah Allah. Amiiiiin..........

Mendoakannya sekalipun bukan mendoakan dia bersama saya tetapi mendoakan dia untuk bersama orang lain “wanitanya”. Bukankah itu suatu bukti?

kelakuan

231214
KELAKUAN

Kesaaaaal dan benci rasanya saat ini. Kenapa gitu??? Yah ada dua orang senior (menurut saya) meminta saya masuk untuk menggantikannya. Yah karena posisi saya saat ini masih cuti tahunan dan mungkin mereka tau kalo saya free alias ga ada kerjaan plus single pula (ini nih yang kadang bikin kesel) padahal belum tentu seorang single itu free dan ga ada kerjaan yang bisa saja kerjaannya lebih banyak dari yang tidak single.

Dan keduanya saya tolak. Karena saya memang tak mau cuti saya diganggu dengan urusan pekerjaan rumah sakit kecuali ada pekerjaan lain yang tidak berkaitan dengan profesi perawat dan memang sudah ada rencana lain (biasa anak muda hehehe).

Bukan masalah tidak mau menggantikan atau gimana. Saya bisa saja mau menggantikan saat dia benar-benar butuh. Tapi akankah timbal baliknya sama seperti itu. Maksudnya apakah dia bisa dan mau menggantikan saya ketika saya benar-benar membutuhkan pengganti saya? Itulah yang saya ragukan dan sama sekali tidak yakin walaupun dia mengiyakan permintaan saya itu. Karena bisa saja dia mengiyakan permintaan saya namun yang sebenernya menggantikan saya bukanlah dia melainkan orang lain lagi. Jujur saya tidak suka dengan hal itu. Kalo memang tidak sanggup ya sudah tidak perlu menjanjikan apapun.

Ada lagi seseorang yang tidak mau masuk pagi. Dengan alasan ini dan itu. Dan pasti selalu mencari tukeran jika dijadwalkan pagi. Tidak bisa tukeran sore yah tukeran malam pun dilakoni karena sangat tidak maunya masuk pagi. Yah kalo ditanya alasan pasti karena keluarga, suami atau anak. Hm....................

Ada juga yang setiap dijadwalkan malam hampir selalu mencari orang untuk menggantikannya. Dengan alasan yang saya tahu tidak boleh oleh suami (huft ini nih yang bikin kesel lagi).

Terkadang melihat fenomena seperti itu saya jadi berpikir. Berpikir kapan saya bisa menolak semua itu dengan alasan orang lain. Orang lain? Yah suami maksudnya. Karena rata-rata alasan mereka tukeran jadwal atau tidak bisa masuk sehingga digantikan oleh orang lain adalah KELUARGA, ANAK, ataupun SUAMI. Apakah yang punya keluarga hanya mereka yang sudah bersuami dan beranak sajakah? Lalu gimana buat yang masih single? Apakah yang masih single karena belum bersuami atau beranak dianggap tidak punya keluarga? Ini nih yang bikin kesel.

Ini juga yang terkadang membuat saya ingin menikah tapi sangat disayangkan juga jika alasan saya menikah hanyalah untuk ini. Hanya sebagai alasan jika diminta untuk menggantikan orang lain. Huft hanya sebagai loncatan donk......

Sempat terbersit sedikit hal yang menurut saya ekstrim yaitu jaga dari pagi sampai pagi lagi bahkan mungkin lebih. Yah maksudnya saya jaga pagi, sore dan malam bahkan mungkin lanjut pagi lagi hanya untuk memenuhi mereka yang meminta saya menggantikannya. Pengen rasanya tau reaksi mereka yang meminta saya menggantikannya seperti apa? Tapi jika dipikir-pikir lagi bisa saja kesalahan tetap pada diri saya. Seandainya setelah jaga 24 jam bahkan lebih dan saya ambruk sehingga tidak bisa mengikuti jadwal dinas saya seharusnya, apakah mereka yang meminta saya menggantikannya akan bersedia menggantikan jadwal saya tersebut? Belum tentu kan. Dan apakah mereka juga akan peduli terhadap ambruknya saya? Belum tentu juga. Dan bisa saja saya yang akan disalahkan oleh bos bahkan juga oleh mereka yang meminta menggantikannya kepada saya. Kenapa gitu? Yah pertanyaan simple, kenapa mau menerima penggantian tersebut dengan tidak memikirkan kondisi diri sendiri? Tetap biar gimana pun saya yang akan tetap bersalah rasanya. Jadi ya sudah gitu deh fenomena yang ada.

Belum lagi tanggung jawab menggantikan orang lain jika orang yang saya gantikan adalah seorang senior yang memiliki peran penting dalam jadwal tersebut (itu menurut saya loh). Yah seharusnya langsunglah tanggung jawab orang tersebut kepada saya karena saya menggantikannya bukan kepada orang lain lagi. Tapi tidak pada kenyataannya. Maksudnya gimana? Pikir sendiri akh.


Emang salah yah kalo gue libur? Emang salah kalo gue cuti? Bukan kah itu semua hak gue? Dan apakah gue libur dan cuti itu mengganggu rumah sakit atau orang lain?

Kamis, 30 Maret 2017

gagal

GAGAL LAGI

Tepat 13 maret 2017 aku menerima pengumumann bahwa dokumen lamaran yang aku kirimkan untuk menjadi petugas kesehatan haji Indonesia 1438 dinyatakan tidak valid dengan kata lain GAGAL. Rasa kecewa sedih dan lainnya pun aku rasakan. Hal yang wajar ketika seseorag mengalami sebuah kegagalan. Namun jangan berlebihan atau berkepanjangan hingga berdampak buruk terhadap hidup. Karena hidup terus berlanjut sekalipun kau mengalami kegagalan.
Berawal saat akhir oktober 2016 seorang teman memberitahu mengenai rekrutmen petugas haji Indonesia digrup whatsapp. Awalnya iseng, namun aku coba membuka situs web rekrutmen tersebut. Saat itu aku mulai iseng membuat akun. Awalnya ada kesulitan dalam membuat akun karena beberapa kali gagal sebab NIK sudah terdaftar namun nomor akun tidak aku terima. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya nomor akun keluar melalui emailku.
Karena sudah bisa maka aku teruskan saja alur-alur pendaftaran yang ada namun saat itu pendaftaran belum dimulai. Karena belum ada maka aku pun agak nyantai namun ternyata kebablasan karena aku sempat ketinggalan info akibat lama tidak membuka webnya, yang ternyata ada batas tanggal dalam melakukan tahapan pendaftaran namun ternyata diperpanjang lagi hingga seminggu yang akhirnya aku bisa mengejar syarat dokumen yang harus dilengkapi dan diupload.



Pengumuman dari tahap satu ke tahap berikutnya tidaklah cepat. Aku rasa hampir satu bulan menunggu pengumuman dari tahap satu ke tahap selanjutnya. Banyak tahapan yang harus aku lalui. Hingga akhirnya aku hanya sampai pada tahap pemberkasan yang dinyatakan dokumen lamaran tidak valid. Entah apa penyebabnya aku pun bingung. Tapi ya sudahlah. Seandainya aku lulus pemberkasan, maka aku dapat melanjutkan tes psikometri dan jika lulus juga maka aku harus melakukan pelatihan-pelatihan hingga akhirnya dinyatakan benar-benar lulus sebagai petugas kesehatan haji Indonesia.
Sekilas mengenai petugas kesehatan haji Indonesia itu terbagi dua yaitu PPIH dan TKHI. Dimana PPIH adalah panitia pelaksana ibadah haji yang kemungkinan akan ditempatkan di wilayah arab Saudi selama kurang lebih 3 bulan dari sebelum jamaah datang hingga setelah jamaah kembali dengan kata lain berangkat duluan pulang belakangan. Sedangkan TKHI yaitu tenaga kesehatan haji Indonesia yang sudah jelas hanya untuk Indonesia dan tenaga kesehatan yang dibutuhkan hanyalah dokter dan perawat dimana setiap kloter didampingin oleh satu dokter dan dua perawat dan waktunya kurang lebih selama satu bulanan. Berbeda dengan PPIH yang tidak hanya perawat dan dokter namun tenaga kesehatan lain pun bisa mendaftar seperti farmasi, gizi, dan lainnya namun sayangnya aku tidak melihat tulisan bidan dalam daftar tersebut.
Awalnya aku tidak mengetahui seperti apa PPIH dan TKHI itu. Hanya tahu bahwa PPIH itu tidak hanya perawat dan dokter, dan aku pikir berarti lebih banyak orangnya. Maka akhirnya aku memilih PPIH. Namun setelah mencari tahu syarat PPIH adalah lebih memprioritaskan orang yang pernah TKHI sebelumnya, ya sudah deh.
Entahlah, namun jujur aku lebih memilih PPIH dibanding TKHI karena lebih lama berada di arab Saudi hehe. Kalau TKHI mengikuti jamaah haji dari berangkat hingga pulang makanya per kloter.
Namun saat mengetahui bahwa aku tidak lulus ke tahap berikutnya rasanya seperti kejadian tahun  2013 dan 2014 dimana saat itu aku gagal dalam cpns. 2013 aku gagal dalam tiga tes cpns, pertama cpns dki Jakarta hanya sampai mengikuti tes kompetensi hingga jam 3 dini hari yang dimulai dari pagi mengingat saat itu computer untuk tes sering error, cpns pusat saat awal melihat pengumuman memang dinyatakan lulus namun diserahkan kepada instansi yang berwenang karena dengar-dengar instansi berwenang lebih memprioritaskan yang bekerja di instansi tersebut maka aku pun gagal lagi, yang ketiga cpns tangsel kalau yang ini entah berkas  yang aku kirimkan sampai atau tidak karena setelah pengiriman berkas tidak ada kabar lagi. Bersyukur juga karena cpns pusat dan tangsel tesnya dalam waktu yang sama. Saat gagal terutama cpns dki Jakarta dimana aku pulang jam 3 dini hari setelah tes rasa kecewa dan sedih pun aku alami. Namun saat itu aku berusaha berpikir bahwa mungkin bukan tempat aku di dki karena mungkin orang tua pun tidak begitu mengijinkan aku disana jika lulus. Saat tidak lulus cpns pusat aku berpikir mungkin karena aku tidak pantas di tempat tersebut karena dari segi fasilitas tempat saat itu aku bekerja memang jauh lebih baik dari tempat instansi pilihan tes.

Saat mengetahui aku tidak lulus, maka aku hanya bisa memberi sugesti dan menghipnosis diri sendiri bahwa ini adalah yang terbaik. ALLAH punya rencana lain dibalik ini yang kita tidak ketahui. Ada hikmah dibalik sebuah kegagalan. Allah memberi yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Mungkin aku masih kurang dalam memperbaiki diri dan diharuskan memperbaiki diri lagi. Mungkin juga aku belum pantas dan belum saatnya. Yang pasti hidup tidak berhenti hanya karena hal  ini dan harus terus berlanjut.