apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Kamis, 04 Juli 2019

KERETA


KETIKA NAIK KERETA

Hayo siapa yang sering naik kereta? KRL atau Commuter Line? Yang sering naik kereta, pasti sering dong ngalamin yang namanya desak-desakan atau rebutan kursi untuk duduk wkwkwk.

Buat gue pribadi sih yah kalau emang udah niat naik kereta harus siap-siaplah untuk tidak kebagian tempat untuk duduk kecuali kalau ANDA termasuk salah satu kriteria kursi prioritas yaitu ibu hamil, lansia, penyandang cacat dan ibu membawa balita ingat yah BALITA bukan ANAK wkwkwk.

Gue pribadi sih berpikirnya gini, kalau emang ada tempat untuk gue duduk ya berarti emang rejeki dah tapi kalau ga dapat yaudah berarti emang bukan rejeki. Jadi ga usah rebutan masuk kereta KRL cuma buat ngejar dapat tempat duduk. Apalagi sampai mendahului orang yang akan keluar dari gerbong kereta. Toh kalau rejeki juga pasti ga kemana kan???

Tapi kalau ANDA termasuk sebagai salah satu kriteria kursi prioritas yah boleh lah nyari-nyari tempat duduk bahkan mungkin bisa meminta orang yang bukan prioritas untuk berdiri, itu sih kalau berani yah wkwkwk. Karena belum tentu setiap orang mau dan sadar, KOMA kali ah hehehe.

Gue pribadi sih memprioritaskan ibu hamil, ibu membawa BALITA bukan ANAK dan LANSIA dengan usia kira-kira 60 tahunan lah. Karena setau gue dikatakan LANSIA itu adalah usia 60 tahun keatas. Eh iya ada satu lagi penyandang cacat yah. Tapi biasanya kalau penyandang cacat ini udah langsung diarahkan oleh petugas KRL nya untuk duduk. Itu sih setau gue yaaaaah.




Seperti tulisan diatas itu adalah pengalaman pribadi gue. Awalnya gue bingung kenapa ketika dia mengatakan “kursi prioritas” seseorang langsung bangun berdiri memberi tempat duduknya. Karena yang gue lihat dia itu seorang wanita muda sendirian dan tidak membawa anak. Tapi gue mikir lagi, apa jangan-jangan sedang hami muda. Kan wanita yang sedang hamil baru beberapa minggu memang tidak begitu terlihat. Gue sih pikir positifnya kayak gitu. Wallahua’lam benar tidaknya. Tetapi setidaknya bisa jadi trik lah supaya orang-orang yang memang harusnya dapat tempat duduk bisa duduk hehhe.

ISTIQOMAH


SEMOGA ISTIQOMAH

Mendengar kata hijrah, apa yang terlintas dalam benak kita? Mungkin salah satu yang akan terlintas adalah hijrah berdasarkan sejarah yang ada yaitu perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah. Atau hijrah menurut pengertian lain adalah perpindahan untuk menyelamatkan diri dan agama. Banyak pengertian tentang hijrah dari berbagai sudut pandang. Hijrah dapat diartikan berpindahnya seseorang atau sekelompok orang dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan yang baik yang biasa sering disebut dengan istilah merantau. Dapat juga diartikan berubahnya tindakan, perbuatan, sifat dan sikap seseorang dari sesuatu hal yang tidak baik menjadi baik. Berpindahnya dari sesuatu yang tidak baik menjadi baik juga dinamakan hijrah. Contohnya dari yang tadinya malas menjadi rajin, dari yang tadinya tidak pernah shalat menjadi rajin shalat, dari yang tadinya tidak berhijab menjadi menutup aurat, dan masih banyak lagi.

Tentang hijrah saya jadi teringat perjalanan hidup saya sendiri yaitu tentang hijab dan pacaran. Saya mulai berhijab sejak masuk sekolah menengah atas. Sebenarnya keinginan untuk berhijab sudah ada sejak mulai masuk sekolah menengah pertama, namun sempat tertunda karena pandangan saya yang salah. Karena saat itu saya melihat orang yang memakai hijab terkesan ribet dengan hijabnya itu. Ribet dalam memakai hijab. Saat sudah masuk sekolah menengah pertama dan melihat beberapa teman yang berhijab maka barulah saya menyadari berhijab itu gampang dan tidak ribet apalagi sekarang ini banyak hijab instan. Namun saat itu berhijab masih berupa keinginan dan belum terlaksana. Barulah kemudian saat memasuki sekolah menengah atas saya melaksanakan keinginan tersebut yaitu berhijab. Yang pasti dalam berhijab dibutuhkan komitmen, konsisten dan istiqomah dalam berhijab dalam arti jika sudah berhijab maka janganlah pernah melepas hijabnya itu. Berhijab selain perintah Allah SWT kepada hambaNya juga banyak terdapat manfaat jika kita melaksanakannya. Malah kesan ribet yang pernah ada dibenak saya hilang. Yang ada malah sebaliknya. Yaitu lebih ribet jika kepala tak ditutupi oleh hijab. Karena jika tak berhijab maka rambut akan terlihat dan pastinya akan malu jika rambut terlihat acak-acakan ataupun kusut entah karena sebab apapun seperti tertiup angin misalnya.

Soal pacaran, jujur saya memang pernah melakukannya. Sebelum saya mengenal dan mengerti apa itu ta’aruf. Walaupun berhijab, tetapi saya pernah berpacaran. Memang pacaran saya adalah pacaran yang wajar karena walaupun pacaran tetapi saya tak pernah malam mingguan. Paling-paling saya hanya jalan ataupun makan berdua saja setelah itu pulang. Tak ada malam mingguan hingga pulang ke rumah sampai larut malam. Saya mulai mengenal pacaran sejak masuk perkuliahan selama tiga tahun dan selama itu pula saya gonta ganti pacar hingga saya mempunyai lima mantan pacar jika saya tak salah ingat. Awalnya saya mengira bahwa pacaran itu untuk mengenal satu sama lain yaitu sifat, karakter, watak dan lainnya. Tapi lama-kelamaan saya merasa bosan dan capek dengan pacaran itu. Karena lima kali pacaran saya tak menemukan apa yang saya cari. Merasa tak ada kecocokan hingga akhirnya kandaslah hubungan itu. Tidak cocok dengan kebiasaan sang pacar yang salah satunya tak mengenal agama bahkan ada juga yang mungkin tak pernah shalat. Ya walaupun saya pacaran, alhamdulillahnya saya tak pernah meninggalkan shalat. Selain hal itu adalah kewajiban setiap muslimin dan muslimat, itu juga yang selalu dipesankan oleh kedua orang tua saya yaitu “jangan pernah tinggalkan shalat lima waktu bahkan kalau bisa yang sunahnya pun dikerjakan”.

Selepas lulus kuliah dan mulai bekerja hingga sekarang ini, semenjak itu juga saya memutuskan untuk tidak pacaran lagi. Karena saya merasa pacaran itu tak ada guna dan manfaatnya yang ada malah sebaliknya. Pacaran itu buang-buang waktu bahkan kalau pacarannya menghabiskan banyak biaya bisa dikatakan bahwa pacaran itu juga buang-buang uang. Lebih baik uangnya dipakai untuk hal lain yang lebih bermanfaat, seperti bersedekah misalnya.

Mempertahankan hijab dan mengubah persepsi serta prinsip untuk tidak pacaran terkadang bukanlah hal yang mudah. Karena saya punya pengalaman sendiri tentang hijab yaitu saat lulus kuliah dan melamar pekerjaan kemudian dipanggil untuk tes namun sebelum tes sang pengetes memberitahukan bahwa “jika nanti lulus tes dan bekerja disini maka hijabnya harus dilepas karena tidak boleh berhijab di sini, jadi sebelum tes ini teruskan maka bersediakah untuk melepas hijab saat bekerja?”. Setelah itu saya langsung mundur dan tidak meneruskan tes tersebut karena saya tak mau melepas hijab saya. Saya pikir juga saat itu rezeki bukan hanya di tempat itu, masih banyak tempat lain yang bebas berhijab dalam mencari rezeki. Alhamdulillah saya tidak pernah menyesal hingga sekarang dengan keputusan saya untuk mundur dari tes itu. Walaupun memang boleh berhijab namun bukan saat bekerja. Itu artinya saya bisa-bisa pakai lepas hijab jika saya bekerja di tempat itu. Saya pikir jika saya seperti itu maka saya bukanlah orang yang komitmen dengan suatu hal karena saya tidak dapat berkomitmen dengan hijab yang sudah melekat sejak sekolah menengah atas. Walaupun saya belum bisa berkomitmen sepenuhnya dengan suatu hal setidaknya saya berusaha untuk selalu melaksanakan komitmen yang ada seperti contohnya berhijab.

Godaan pacaran pun kadang datang. Apalagi saat-saat sedang sendiri dan melihat di sekitar bergandengan dengan pasangan mereka yang belum muhrim. Terkadang keinginan untuk seperti itu kembali muncul dan saat seperti itu maka saya harus mengubah persepsi saya tentang pacaran seperti yang saya sebutkan diatas mengenai guna dan manfaatnya.

Saya hanya bisa berharap semoga saya bisa terus mempertahankan hijab ini dan tidak pacaran hingga waktunya tiba.

IGD


PINDAH IGD

Rasa disambar petir disiang ketika saya mendengar berita mengenai pemindahan saya ke ruangan IGD. Salah satu ruangan yang saya takuti. Mengapa? Jujur saja saya tidak bisa hecting. Saya termasuk orang yang suka panik duluan kalau ada apa-apa dan entahlah saya bingung harus bagaimana.

Satu tahun lebih di ruangan kusta dan sekarang harus pindah ruangan dikarenakan ada pegawai CPNS baru. Rasanya seperti dahulu ketika di RSU Kabupaten Tangerang. Ketika tahu bahwa ditempatkan di ruang perinatology atas. Dimana saat itu saya tidak menyukai anak-anak dan takut dengan pasiennya.

Rasanya sedih harus pindah ke IGD. Bukan sedih karena berpisah dengan teman-teman ruangan kusta. Namun sedih karena saya tidak tahu apakah ketika di IGD saya masih bisa ibadah sambil bekerja. Apakah masih bisa shalat dhuha, tahajud, mengaji dan zikir ketika bekerja. Apalagi sebentar lagi memasuki bulan suci Ramadhan. Apakah saya bisa shalat tarawih di ruangan ketika sedang bekerja? Sedih pula karena berpisah dengan pasien jompo yang suka menemani saat dinas.

Entah apa rencana ALLAH SWT dibalik pemindahan saya ini. Yang pasti semua ada hikmahnya. Tapi entahlah…..

Selasa, 21 Mei 2019

Shalat dan Al-Qur'an

Jika shalat saja ditinggalkan,
Maka bagaimana dengan pasangan?

Jika shalat saja dibelakangkan,
Maka bagaimana dengan pasangan?

Jika Al-Qur'an saja tak pernah disentuh bahkan dibaca,
Maka bagaimana dengan pasangan?

Jika asmaNya tak pernah dia ingat,
Bagaimana dia akan mengingatmu?

Jika perintahNya saja berani dia langgar,
Bagaimana dengan keinginanmu?

Rabu, 23 Januari 2019

AL QUR'AN

MOHON MAAF COPAS DARI FACEBOOK


Seorang anak mengamati bagaimana ayahnya rajin membaca alQur'an namun tak kunjung hafal selain alfatihah dan surat-surat pendek. Ia lalu berkata pada ayahnya, "Wahai ayah, engkau rajin membaca alQuran namun tak kunjung engkau hafal selain sedikit. Lalu apa gunanya buatmu?"
.
Ayahnya menjawab, "Ada gunanya. Permisalan bacaanku ini seperti jika engkau mengambil air laut dengan keranjang bambu."
.
"Bagaimana bisa? Tentu airnya akan keluar celah keranjang." Sangkal anaknya.
.
"Kalau engkau benar ingin tahu coba lakukan saja." Jawab ayahnya.
.
Maka si anak mengambil keranjang bambu yang biasa mereka gunakan menampung arang untuk mengambil air laut. Berkali-kali ia mencoba mengambil tapi sia-sia, airnya selalu menerobos celah-celah keranjang bambu.
.
Pada akhirnya si anak menyerah karena lelah, ia protes pada ayahnya, "Sungguh ini pekerjaan sia-sia. Tidak ada gunanya, yah."
.
"Tidak," jawab ayahnya, "Engkau memang tidak bisa mengambil air laut, tapi coba lihat keranjang bambu itu."
.
Si anak melihat dan ia baru menyadari kalau keranjang itu kini bersih tanpa ada bekas hitam dari arang.
.
"Adakah kau lihat sedikit saja warna hitam bekas arangnya?" Tanya sang ayah.
.
"Tidak ada. Sudah bersih." Jawab si anak.
.
"Seperti itulah, aku memang tidak mampu menampung alQuran dalam kepalaku, namun alQuran telah membersihkan hatiku." Nasehat sang ayah.
.
Rajinlah membaca alQur'an meski belum mampu menghafalnya.
Lalu berusahalah mengerti artinya.
.
📝Kisah disampaikan pada saat Kajian Tafsir Ibnu Katsir sampai pada surat al Furqon
👤Ustadz Mubarok Bamu'allim
.
Ikhwan.tegal

Selasa, 22 Januari 2019

pendidikan

copas dari facebook
PERTIMBANGAN PENDIDIKAN ANAK
Pertanyaan:
Assalamu'alaikum ibu. Saya punya anak usia 5 tahun 5 bulan, awalnya saya mau masukkan SD, saya lakukan tanpa pengetahuan yang cukup. Setelah saya baca beberapa referensi, termasuk dari tulisan ibu, saya putuskan untuk kembali TK, padahal dia sudah bisa membaca, menulis dan berhitung. Ada yang ingin saya tanyakan bu, apakah itu tidak berpengaruh terhadap psikologis anak yang merasa kelasnya diturunkan? Walaupun anaknya terlihat tidak apa-apa.
Terima kasih sebelumnya bu.
🇯🇦🇼🇦🇧🇦🇳​:
Wa'alaikumussalam,
Saya senang sekali mendengar akhirnya ibu memutuskan untuk mengembalikan anak ibu ke TK. Beban SD sekarang sudah sangat, sangat berat. dan kalau dia masuk SD di usia yang sangat dini, kasihan.
Menjawab surat ibu, tentunya sedikit banyaknya pastilah ada pengaruh psikologis terhadap anak yang merasa kelasnya di turunkan (atau tidak naik-naik), walaupun anaknya terlihat tidak apa-apa. Untuk menghindari hal ini saya menyarankan teori hitung mundur, agar jangan karena salah kalkulasinya orang tua, anak yang terkena dampaknya.
Gini teorinya:
Katakan anak lahir bulan November (bisa bulan apa saja, nanti tinggal disesuaikan).
Idealnya masuk SD kan usia 7 tahun, dan tahun ajaran baru kan Juli.
Jadi, kalau mau masuk SD, ambil usia yang paling mendekati 7 tahun, kan berarti pilihannya hanya 6.8 tahun (nggak mungkin 7.8, ketuaan).
Nah, tinggal hitung mundur. Kalau masuk SD 6.8 tahun, maka masuk TK B-nya kurangi 1 tahun saja jadi 5.8 tahun.
Saya sarankan agar anak TIDAK masuk TK.A, karena TK hanya mengajarkan warna, huruf, angka, tepuk tangan, bernyanyi dan berbaris. Untuk apa sih melakukan itu bertahun-tahun, iya kan?
Tapiiii, kl bapak/ibu maksaaaaaaa masukin anaknya ke TK A, ya dengan hitungan di atas berarti TK A-nya di usia 4.8 tahun, dan kalau lebih keukeuuuhhhhh merekeeeuuhhh mau masukin anak ke playgroup ya 3.8 tahun. Gak, gak perlu PAUD sebelum itu. Wong playgroup dan TK A saja gak perlu kok.
Tapi kalau anak ibu sudah terlanjur sekolah playgroup sejak 2.5 tahun (apalagi yang lebih muda dari 2 tahun) ya berarti nanti TK A 3.5 tahun, TK B 4.5 tahun dan masuk SD 5.5 tahun.
SD negeri tampaknya punya peraturan untuk tidak membolehkan anak yg sebelia itu masuk SD (Saya kurang paham tentang hal ini)
SD swasta pun kalau tidak salah 5.10 tahun, jadi dengan demikian, kalau ibu yang memasukkan anak 2.5 tahun, pas anaknya lulus TK B 5.5 tahun, jadi kalang kabut sendiri. masuk SD belum 'bisa', masuk TK lagi, yang bener aja, masa' TK aja 4 tahun, bosenlah..
Jadi, minimal SD itu 6.5 tahun lah. Lebih bagus, kurang jangan.
Terus, kenapa gitu ga pake TK A? karena 0-8 tahun itu adalah anak usia dini. Anak usia dini ini kerjanya (dan maunya) cuma maiiiiiiinnnnnn melulu. Dari situ dan dengan cara itu mereka belajar. Kalau ibu masukin TK A, katakan 1 hari 3 jam saja, kalau TK A - nya masuk 3x seminggu, berarti seminggu ibu sudah mengambil 9 jam dari waktu bermainnya. Sebulan, jadi berapa jam? Setahun? Belum kalau ibu sekolahkan dia dari kelas toddler, paud, playgroup, TK A, ...dst. Sudah berapa jam ibu ambil waktu bermainnya? Anak yang terampas waktu bermainnya, akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan. Mau??
Jadi, kalau ibu sudah terlanjur salah hitung, saya sarankan pindah sekolah, mencegah pengaruh buruk akan 'teman-teman yang lain 'naik' kelas, dan dia 'tidak'. Kalau pindah sekolah kan setidaknya dia merasa 'lulus' juga dari sekolah itu dan pindah ke sekolah lain (walaupun TK kembali). Dan juga tidak jadi 1 kelas sama adik-adik kelasnya di TK A yang akan naik TK B. Banyak yang bisa protes bahwa anaknya begitu, tidak apa-apa. Efek psikologis tidak semua serta merta muncul, jadi bisa jadi sekarang tidak apa-apa.. nantinya..mana kita tahu kan?
Lalu, kenapa 'tidak boleh' anak-anak masuk SD terlalu dini? karena:
1. Kurikulum SD jaman sekarang sudah 'gila', tidak seperti SD jaman kita dulu. Anak masuk SD sekarang (seperti yang semua ibu-ibu ketahui dan lalui) sudah diharapkan membaca dengan lancar. Jaman kita dulu, di SD baru di ajarkan membaca. (siapa yang tidak ingat siapa kakaknya Budi?).
Sekarang, di kelas 1, anak sudah diharapkan bisa mengisi kalimat :
Hari Raya Nyepi dirayakan oleh umat yang beragama _______ .
Padahal anak yang baru belajar baca, baca 2 huruf mati yang bergabung seperti ng, ny, kadang masih susah.
Dan jujur saja, saya aja sulit hafal umat beragama mana yang merayakan hari raya apa, apalagi ketika saya umur 5 dulu. Dari pertanyaan itu saja kita bisa lihat bahwa BUKAN SAJA anak kita sudah harus bisa membaca dengan lancar, dia sudah harus mulai mengerti (atau menghafal?) banyak aspek lain. Jadi kalau membaca kalimat tersebut saja tidak bisa, apalagi menjawabnya, kan?
Jadi, jaman sudahh berubah, berhentilah melihat ke spion dengan kalimat-kalimat.. 'zaman saya sd dulu...', 'waktu saya kecil...', 'saya dulu gak papa...'... please dong.
Jaman bapak/ibu SD mah jaman kuda gigit besi (emang kuda gigit besi beneran?), jauh berbeda dengan jaman sekarang.
Kurikulumnya beda, otaknya beda, karakternya beda, ORANGNYA beda. Jangan di sama-samain. Bukannya bapak/ibu dengan ibu/bapaknya bapak/ibu dulu, beda juga kan?
Lalu, jaman kita (kayak jaman saya dan ibu sama aja ya, hehehe), mana bisaaaa masuk SD umur 5?? (apa sekolah saya aja ya yang gak ngebolehin?). Kecuali tangan ibu panjang banget sampai tangan kiri ibu bisa menyentuh kuping kanan melewati atas kepala, yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh anak-anak yang berusia menjelang 7. Terus, ada yang nanya, emang kenapa sih kalau anak-anak di ajar membaca lebih dini, So What Geto Loh ??. Pertanyaan yang bagus. yang membuat saya masuk ke nomer...
2. Yayasan kami pernah mengundang Dr. dr. H. Taufik Pasiak M.Pd, IM. Kes (semoga tidak ada kesalahan dalam penulisan titel ) seorang ahli otak (yang mau tau lebih lanjut tentang beliau, silahkan meng-googlenya sendiri), dalam sebuah seminar. Kata beliau kurang lebih seperti ini: saya heran, orang tua jaman sekarang ini seneng banget kalau anaknya sudah bisa baca sejak usia dini. Kayaknya semakin muda anaknya bisa baca, emaknya semakin bangga. Padahal ya, kalau dilihat dari ilmu otak, Allah belum mempersiapkan otak anak yang berusia 5 tahun untuk bisa membaca. Kenapa? karena huruf itu adalah simbol (gambar yg bentuknya begini:K, di baca nya KA. Dan kalau ditambah dengan sesuatu yg berbentuk i, di baca KI. ) Itu seperti menuangkan air ke gelas yang belum ada. Apa yang terjadi kalau kita menuangkan air ke gelas yg tidak ada? Ya, airnya tumpah kemana-mana. Begitulah kira-kira perumpamaannya. 'Pemaksaan' tersebut berdampak ke bagian-bagian otak yang lain yang bisa jadi tidak langsung terlihat dampaknya, tapi tetap berdampak.
Kita bu, suka 'memaksakan anak tanpa ilmu', nanti kalau anak 'rusak', kita tinggal bagian menyesalnya saja. Sudah telat, tidak ada lagi yang kita bisa lakukan. Banyak, saya yakin, yang akan membela diri dan mengatakan 'anak saya udah bisa baca dari umur 4th, sekarang tidak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran, atau bahkan telah menjadi orang dewasa yang ternyata tidak kenapa-kenapa". Saya bukan ahli otak. Saya percaya saja dengan ahlinya yang sudah mempelajari organ misterius dari Allah itu bertahun-tahun lamanya (lihat aja dari titelnya yang panjang). Kalau ada yang mau melawan teori ini, monggo langsung saja menanyakannya ke Bapak Taufik yang saya yakin bisa menjawabnya dengan lebih baik. Saya hanya meneruskan ilmu, walau cuma se-ayat 😉
3. Saya merasa agama Islam juga 'menyarankan' demikian. Bukankah di usia anak yang ke-7 anak sudah boleh mulai diajarkan untuk shalat? Kesimpulan saya, di usia itulah anak sudah boleh diajarkan sesuatu yang lebih 'berat', dan lebih 'serius', sesuatu yang akan dilakukannya seumur hidupnya, setiap waktu: kalau dalam agama itu shalat, dalam edukasi, membaca. Untuk itu saya simpulkan bahwa ajaran Rasulullah yang telah berabad-abad diberlakukan, dengan temuan sains bapak Taufik beberapa tahun belakangan ini.. sinkron! Dan dengan alasan itulah menurut saya pula, masuk SD sebaiknya sedekat mungkin dengan usia 7. Masa' iya sekolah lebih penting daripada shalat?
Terus, gimana dong bu, kalau anaknya minta-minta terus?
Pertanyaan tersebut membawa saya ke poin nomer...
4. Kalau anak ibu meminta terus-menerus permen yang banyak yang ibu tahu akan merusak gigi dan ginjalnya, apakah ibu akan memberi?
Kalau anak ibu terus-menerus meminta bermain dengan gunting atau pisau yang tajam yang ibu tahu akan membahayakan dan melukai dirinya, apakah ibu akan memberi?
Kalau anak ibu minta adik 10 orang, apakah ibu akan memberi?
Kalau jawaban dari 3 pertanyaan di atas adalah TIDAK, kenapa sekarang dengan membaca artikel ini, ibu tahu bahwa mengajarkan anak usia 5 membaca akan berdampak buruk pada otaknya, dan dia minta-minta terus sekolah di usia yang sangat dini sehingga nanti dia masuk SD (dan sudah bisa membaca) di usia 5-an, ibu beri?
Bagian otak yang mengatur cara berpikir logis, membuat keputusan dengan bijak, dll (prefrontal cortex) baru matang di usia 25 tahun. Itu berarti bahwa kita bahkan harus 'membimbing' anak tentang jurusan yang akan dia ambil sewaktu kuliah (karena masuk kuliah kan belum 25 tahun). Lah, sekarang masa' iya dia yang 'menentukan' kapan masuk TK atau SD-nya sendiri?
Apalagi kalau alasan ibu adalah karena dia bongsor, takut ketuaan, bosen di rumah, dll, aduh itu saya udah gak mau bahas deh, saking gak masuk akalnya. Jangan-jangan ibunya juga belum 25 🙂
Jadi, kemampuan sosialisasinya gimana dong bu? Anak tidak perlu belajar sosialisasi dengan teman-teman seusianya di usia yang sangat dini. Kalaupun ibu sekolahkan, anak akan bermain dengan temannya, bukan bersama temannya. Apa bedanya?
Kalau dengan, si A main dengan boneka di sebelah si B yang lagi main dengan mobil-mobilan.
Kalau bersama, bonekanya dinaikin ke mobil-mobilannya dan mereka bersama-sama naik turun gunung yang dibuat dari kursi-kursi yang di balik-balik. Ngerti kan bedanya?
Di bawah 5 tahun, belum umurnya bermain bersama, apalagi belajar konsep yang lebih abstrak seperti sharing, gantian, ngantri, percaya diri.. hedeeeh, jauh beneeerr. Orang dewasa aja banyak yang belum bisa begitu kan?;)
'sosialisasi' dan semua konsep di atas itu di ajarkan dan dilatih di rumah juga sudah cukup. dengan dan oleh ibu, bapak, syukur-syukur ada mbak, nenek, kakek, anak tetangga sebelah kanan, dan kiri. Kalau gak ada, ketemuan sama sepupunya yang sebaya seminggu sekali juga cukup. Percayalah.
Kalau emang dasarnya anaknya pemalu, bakal jadi pemalu juga nantinya. Pemalu mah karakter, gak bisa diubah. Toh ada juga kan orang dewasa yang pemalu? Lagipula, malu itu bagus. Justru yang mengkhawatirkan kita sekarang adalah generasi yang gak ada malunya kan? (nyowel kasus SMP mesum beberapa waktu lalu). Jadi, sifat pemalu itu justru positif, jangan dihilangkan.
Kalau sekolah terlalu dini, terus pas kelas 3 SD nya bosen, apa gak lebih ruwet? Lah gimana gak bosen..nih ya: TK 3 tahun (4 kalau maknya pake salah ngitung), kalau dia masuk SD-nya umur 5 tahun, berarti pas dia kelas 3 SD umur 7 tahun, dia udh 6 tahun sekolah. Gila kan? Padahal sekolah masih 13 tahun lagi, itu kalau S1-nya selesai 4 tahun, belum dihitung S2. Kalau kelas 3 aja udah bosen, gimana mau S3??
Jadi bu, membaca itu sama hal nya dengan ibadah, yang penting itu bukan bisanya, tapi sukanya. Siapa sih sekarang yang gak bisa shalat? gak bisa baca? bisanya sih gampang, suka nya itu lho yang susah. Jadi sebelum 7, fokus ke sukanya sajalah dulu, tanamkan suka membaca dengan menyediakan buku di setiap sudut rumah, membaca bersama setiap waktu, dan lain-lain. Jangan sibuk memasukkan anak les calistung di tempat-tempat yang saya yakin ibu lebih hafal namanya. Yang sudah melakukan 'kesalahan' ini di anak pertama, jangan melakukannya lagi di anak kedua dan seterusnya. Cukup kakaknya saja yang jadi kelinci percobaan ibu-bapaknya menjadi orangtua.
Jadi demikan bu, semoga dengan anak ibu masuk usia SD nanti 6.5 tahun, dia sudah lebih siap, matang dan happy. Jadi yang paling tua di kelas karena teman-temannya di bawah 6 semua? gak papa. Orangtua anak-anak yang lain mungkin belum punya ilmunya. Semoga anak ibu jadi trend-setter, syukur-syukur ibu bisa meneruskan ilmu ini untuk orangtua lainnya, (terutama ayahnya anak-anak, karena biasanya mereka tidak mengerti dan ngotot ) bahwa berbeda untuk kebaikan itu tidak apa-apa 🙂 .....
Salam YKBH

Minggu, 20 Januari 2019

pemimpin


PEMIMPIN = IMAM

20 Januari 2019

Pilih PEMIMPIN sama saja dengan memilih IMAM. Seperti halnya orang yang akan melangkah kepada jenjang pernikahan, kan ga boleh main asal pilih pasangan hidup sembarangan. Salah-salah bisa fatal akibatnya nanti. Begitupun dengan pemimpin negara. Daripada ribet sana-sini, gembar-gembor sana sini menyerukan 1 atau 2. Lebih baik cari tau dan telusuri lagi secara selektif dulu deh keduanya seperti apa. Seperti pilih pasangan hidup, kita kan harus tau bibit bebet dan bobotnya. Lihat profil dan biodatanya seperti apa. Terakhir kalau bisa ISTIKHARAH deh. Kalau gak bisa ISTIKHARAH sendiri yah kan bisa melalui orang lain yang dipercaya. Kalau sudah ada hasil ISTIKHARAH yang merupakan petunjuk dari Allah SWT, apakah masih ragu? Kalau perkara orang yang ISTIKHARAH bohong atau tidak dengan hasilnya, yah itu mah urusan dia dengan Tuhan. Kan yang dosa juga dia yang bohong. Urusan sama akherat kan juga dia.

Soal politik yang sedang booming. Mohon maaf gue sih bukan maksud memihak salah satu dari mereka. Tapi gue sih lihat kejadian 212 ajah kayak gimana? Karena buat gue itu bukan kejadian yang bisa dianggap sepele. Mengapa? Soal agama boss kuuuh. Itu kan sebenernya sudah bisa jadi gambaran. Mohon maaf lagi sebelumnya boss.