apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Kamis, 24 November 2016

cumlaude

CUMLAUDE TAK MENJAMIN

Ada satu hal yang tidak pernah saya targetkan yaitu menjadi yang terbaik diantara yang baik. Saya hanya berusaha menjalani apa yang seharusnya dijalani sebagai apapun itu.

Ketika jumat 09 September 2016 diadakan gladi kotor menjelang wisuda sekaligus yudisium dimana saat itu diumumkan mengenai kelulusan beserta IPK masing-masing mahasiswa dan satu hal yang tidak pernah saya bayangkan adalah IPK tertinggi jalur alih jenjang dan itulah yang saya raih. Rasa tak percaya pun menghampiri hingga harus berdiri didepan mahasiswa lainnya untuk menerima bunga plastik merah sebagai tanda penghargaan. Semua rasa bercampur saat itu, ada bahagia dan ada juga rasa tak percaya. Karena saya merasa bukanlah orang yang pintar. Karena saya yakin jika diukur soal kepintaran maka teman-teman saya yang lain banyak yang lebih dari saya mengingat pengalaman dan masa kerja mereka yang melebihi saya. Rasa bahagia saat seorang dosen metodologi penelitian yang sering saya ganggu karena konsultasi skripsi padahal bukan beliau pembimbing skripsi saya, memberikan setangkai bunga plastik berwarna merah.


Saya masih berpikir mengapa saya bisa dapatkan hal tersebut. Maka saat itu saya mengingat-ingat kembali hal apa yang sudah saya lakukan. Saya tidak pintar. Namun jika dibilang rajin, mungkin ya. Satu prinsip yang tak boleh dilupakan adalah bahwa RAJIN ITU MODAL. Itu juga yang diucapkan oleh dosen penguji KTI saat diploma tiga dahulu bahwa saya itu rajin maka saya lulus.

Mengingat masa perkuliahan, saya ingat betul dimana setiap sabtu minggu saya harus dikampus dari pagi hingga sore dimana sebelum atau setelahnya saya masih harus bekerja shift tiga yaitu dinas malam. Pernah juga saya 2x24 jam tidak pulang ke rumah demi itu semua. Entahlah saya pantas mendapatkannya atau tidak jika mengingat hal ini. Pernah ada seorang teman yang mengatakan bahwa EMANG MATERINYA MASUK KE OTAK SEHABIS MASUK MALAM LANGSUNG LANJUT KULIAH. Saya tak pikirkan soal hal itu. Yang penting adalah saya menjalani apa yang seharusnya saya jalani. Begitu pula dengan perkuliahan. Saat waktunya kuliah yah harus datang untuk mengikuti materi bukan datang tandatangan kemudian pergi lagi entah kemana. Soal materi akan masuk ke otak atau tidak itu urusan belakangan. Toh setiap perkuliahan saya selalu membawa hp jadul yang kecil untuk merekam proses perkuliahan dan tak lupa meminta soft copy materi kepada dosen untuk saya print kemudian baca-baca di rumah. Beres kan? Karena ada satu hal yang saya ingat bahwa YANG MASUK SAJA BELUM TENTU MENGERTI APALAGI YANG TIDAK. Sekalipun saat kuliah mungkin saya sudah tak fokus karena sudah capek terlebih dahulu tetapi setidaknya saya tahu materi apa yang disampaikan oleh dosen dan kapan materi tersebut tersampaikan toh saat perkuliahan walaupun capek tetapi saya masih dalam keadaan sadar walaupun terkantuk namun tidak pingsan atau pun koma hingga tak tahu apa yang terjadi.

Saat gladi bersih wisuda 16 September 2016 tepatnya digedung yang akan dilaksanakan untuk wisuda esok hari, saya pun masih dikejutkan bahwa saya akan dipanggil maju ke depan bersama dengan orang tua atau pendamping wisuda untuk menerima penghargaan lagi. Saya pikir sudah cukup saat yudisium pengumuman IPK tersebut namun ternyata tidak dan masih berlanjut hingga wisuda esok.

17 September 2016, hari yang dinantikan oleh semua mahasiswa yaitu wisuda baik program sarjana ataupun diploma. Saat itu ada hal yang membuat saya ingin menangis rasanya namun berusaha saya tahan karena jika saya sampai meneteskan air mata saya khawatir makeupnya luntur ciiiiin hehehe, saat berjalan akan dipindahkan tali pada topi toga sebelumnya saya diberikan selempang dengan tulisan “cumlaude”. Rasanya kembali saya tak percaya akan hal tersebut.

Saat kedua kalinya maju ke depan karena dipanggil untuk menerima penghargaan, saat itu pula seorang ketua PPNI Kabupaten Tangerang yang juga bekerja di sebuah rumah sakit pemerintah di daerah kabupaten juga pernah mengajar dikelas alih jenjang memberikan penghargaan langsung kepada saya berupa piagam penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi. Entahlah apa yang harus saya ucapkan lagi. Rasanya masih tak percaya akan semua itu. Apakah saya pantas untuk menerimanya? Padahal saat diploma tiga dahulu saya bukanlah siapa-siapa dan hanya mahasiswa yang lulus dengan IPK sangat memuaskan dan tidak cumlaude.
Rasanya seperti memakan omongan sendiri. cumlaude itu tak pernah saya targetkan. bahkan sebelumnya saya pernah berpikir bahwa UNTUK APA CUMLAUDE? KARENA CUMLAUDE TAK MENJAMIN hal tersebut saya ucapkan karena melihat teman yang cumlaude waktu wisuda diploma tiga lalu dan sekarang tidak bekerja dimanapun hanya menjadi ibu rumah tangga dengan bisnis onlinenya di luar bidang yang ia pelajari dahulu.

Dahulu saat lulus diploma tiga saya pun pernah mengatakan seperti ini JIKA ADIK SAYA TAK MAU KULIAH, YA SUDAH SAYA YANG KULIAH LAGI. Itu semua pun terjadi, karena saya melanjutkan pendidikan sarjana bersamaan dengan adik saya yang lulus sekolah menengah atas dan memasuki bangku perkuliahan.

Saat masih duduk dibangku sekolah menengah atas pun saya pernah mengatakan bahwa DARIPADA PERAWAT MENDINGAN BIDAN BISA BUKA PRAKTEK SENDIRI. Alhasil saya malah lulus di keperawatan ya sudah maka saya lanjutkan. Saya pun cukup senang dengan profesi ini.



Sepertinya apa yang telah terjadi pada hidup sesuai ataupun terbalik dengan apa yang pernah dipikirkan.

ibunya mana

IBUNYA YANG MANA?

Entah ini pernah terjadi atau tidak, tetapi hal ini berkeliaran di benak saya. Entah dari mana saya dapatkan pemikiran ini. Entah pengaruh apa sehingga muncul pemikiran seperti ini. Entah pemikiran ini hanya sebuah lelucon dan berlebihan atau tidak. Entah kalian mau mengatakan saya terlalu berlebihan dan terlalu berpikir jauh, itu terserah kalian.
Begini, jika benih berasal dari Ny. A dan Tn. B namun kemudian yang hamil/mengandung hingga melahirkan adalah Ny. C, maka pertanyaan yang sedang bekecamuk dipikiran saya adalah siapakah ibu kandung bayinya nanti?
Bukan hal yang tak mungkin jika hal tersebut akan terjadi. Semakin canggihnya teknologi kedokteran dan kesehatan serta inginnya seseorang memiliki anak yang berasal dari dirinya sendiri dan bukan adopsi, maka saya rasa hal tersebut bisa saja terjadi sekalipun kemungkinan biayanya mahal.
Istilah awamnya mungkin pinjam rahim, namun tetap berasal dari benih pasangan suami istri dan antara Ny. C dengan Tn. B tidak berhubungan seksual. Namun benih dari Tn. B dan yang hamil adalah Ny. C.
Bukan hanya pertanyaan siapa ibunya si bayi yang berkecamuk dalam pikiran saya. Namun bagaimana hukumnya dari sudut pandang medis dan agama dalam hal ini islam?
Jika pengertian ibu menurut kamus bahasa Indonesia yang saya baca adalah perempuan yang melahirkan, lalu bagaimana dengan benih yang berasal dari Ny. A?
Bagaimana dengan akte lahir si anak nanti? Tak mungkin rasanya akan ada nama dua ibu pada akte tersebut.


hujan

DIGUYUR HUJAN

Minggu 13 november 2016
Saat pagi hari ada rasa enggan dan malas untuk mengikuti pengajian, guyuran hujan pagi itu membuatku demikian. Namun akhirnya aku tetap berangkat. Sampai sana memang hujan tidak begitu deras seperti saat berangkat dan dapat dikatakan juga reda hingga akhirnya selesai. Saat pengajian berlangsung, kedatangan syeh dari syiria, yaman dan Malaysia. Entah ada apa? Saya jadi berpikir, seandainya tadi saya menuruti rasa malas mungkin saya tak akan mendengar suara syeh tersebut dengan bahasa arabnya. Walaupun tidak bisa melihatnya.

Beberapa kali mengikuti pengajian disana rasanya ada yang aneh. Dimana jika hari cerah yaitu tak turun hujan seperti hari minggu tersebut, udara selama berjalannya pengajian sejuk namun setelah bubarnya pengajian panasnya matahari baru terasa. Entah ada apa? Tapi itulah yang saya rasakan.


Kedua di sore harinya, seperti biasa jika minggu libur maka saya latihan karate di puspem. Saat hendak berangkat hujan belum turun hingga saya menaiki angkot. Namun saat diperjalanan tiba-tiba saja hujan turun lebat dan tak reda juga hingga saya sampai. Saat itu saya berpikir, ada apa ini? Saat pagi hari pergi pengajian hujan reda dan sore hari hendak latihan tiba-tiba hujan lebat pun turun. Apa jangan-jangan saya tak direstui untuk latihan sehingga hujan lebat pun turun? Pikiran macam-macam berkecamuk dalam benak saya. Mengapa begini? Ditambah saat saya sedang bingung dengan kegiatan yang telah lama saya ikuti itu. Bingung apakah yang selama ini saya ikuti benar menurut agama dan sampai sekarang pun saya masih mencari tentang kebenaran itu? Namun saat berjalannya latihan, saya merasa beruntung karena mendapatkan ilmu baru. Biasanya jika keadaan seperti itu apalagi saat hendak berangkat sudah hujan saya jarang datang latihan. Entah ada apa dan apa yang telah terjadi hari itu? Saya merasa ada hikmah dari kedua kegiatan di hari itu karena hujan.

serasa akan copot

SERASA MAU COPOT

29 oktober 2016
Pulang dinas pagi saat itu saya berniat menemui teman di sekitar kebon nanas tangerang untuk mengantar sertifikatnya yang selama ini saya simpan. Seperti biasa saya selalu menggunakan angkuta kota. Saat itu angkot yang saya tumpangi memang tak banyak penumpang bahkan hanya tinggal saya sendiri dan karena macet maka angkot pun melewati jalan yang bukan seharusnya untuk menghindari macet. Saat lewat jalan lain tiba-tiba saja angkot berhenti dan saya lihat sudah ada motor dengan penumpangnya. Entah apa yang persis terjadi saya pun tak tahu karena saat itu saya tak memperhatikan jalan, sibuk dengan handphone khawatir teman saya menunggu. Saya rasa sepertinya angkot tersebut seperti hendak menabrak motor. Saya pikir semua akan selesai dengan meminta maaf. Namun ternyata tidak karena setelah itu sang pengendara motor tiba-tiba saja menonjok supir angkot. Keduanya tak ada yang mau mengalah. Sama-sama saling merasa benar. Tidak sang pengendara motor dan tidak juga sang supir angkot. Jalanan pun saat itu menjadi semakin macet. Karena angkot dan motor tidak berjalan. Sedangkan di belakang angkot banyak kendaraan lain yang menunggu karena akan melewati jalan tersebut. Akhirnya saya turun dari angkot tersebut karena ingin segera menemui teman. Kemudian angkot dan motor pun dipinggirkan agar kendaraan lain dapat lewat. Setelah itu entahlah apa yang terjadi dengan supir angkot dan pengendara motor itu. Karena saya langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut. Saat kejadian itu rasanya jantung terasa mau copot. Melihat secara langsung orang menonjok dengan sangat marah. Sedangkan si supir angkot agak tak berdaya. Karena susah untuk melawan pengendara motor itu.

Sang pengendara motor yang membawa penumpang sangat marah seolah-olah dia tak pernah berbuat salah. Padahal rasanya tak ada satu pun yang terluka. Yah tidak tahu juga apakah motornya lecet atau tidak. Yang pasti saya rasa hal tersebut sebenarnya bisa diselesaikan tanpa emosi. Tapi begitulah jika orang merasa selalu benar padahal semua itu juga belum tentu. Tak mungkin juga dalam mengendarai motor dia tak pernah sekalipun tak berbuat kesalahan seperti menyalip misalnya atau hal lainnya. Jadi agak sombong juga lah si pengendara motor itu sampai mengejar sang supir angkot. Supir angkot pun entah salah atau tidak, saya tak mendengar ucapan maaf darinya. Hanya teriakan sang istri supir “tolong suami saya jangan dipukuli”.

Dalam keadaan seperti itu sebenarnya saya bingung apa yang harus saya lakukan. Di satu sisi saya tidak mengetahui persis bagaimana kejadiannya yang tiba-tiba saja membuat sang pengendara motor itu marah. Namun di sisi lain rasanya saya geram dengan aksi tonjok pengendara motor yang menunjukkan bahwa dirinya seolah-olah paling benar. Maka akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi saja melanjutkan tujuan saya menemui teman dan memberi sertifikat padanya. Namun tetap saja sepanjang jalan rasanya jantung saya masih mau copot, cemas, gelisah dan deg-degan membuat saya takut hingga akhirnya saya bertemu dengan teman dan menceritakan apa yang barusan saya alami. Berumtunglah dia mengerti dan membuat aku sedikit tenang hingga akhirnya aku pulang ke rumah dan meninggalkan temanku itu.

Selasa, 11 Oktober 2016

HP MANDI SUNGAI

HANDPHONE NYEMPLUNG

Hari ini tanggal 10 Muharram 1438 Hijriah yaitu hari Asyura tepatnya 11 Oktober 2016. Seperti biasa setiap tahun selalu ada acara festival Al-Azhom dalam rangka menyambut tahun baru hijriah dan saya pun kesana mengingat besok adalah hari terakhir acara.  Sepulangnya dari sana saat akan menaiki angkutan kota saya bertemu dengan seorang penjual nasi goreng depan pintu keluar rumah sakit kemudian dia bertanya, saat saya menjawabnya entah kenapa tiba-tiba handphone saya terlempar dari genggaman tangan dan akhirnya jatuh kedalam sungai. Ya disekitar tempat tersebut ada aliran anak sungai yang memang tidak besar tetapi lumayan berair. Langsung saja penjual nasi goreng tersebut menolong saya dengan masuk ke dalam sungai tersebut sehingga pakaiannya basah dan akhirnya handphone saya kembali. Awalnya sang penjual nasi goreng tersebut mengatakan bahwa sungainya dalam, saya pun langsung hilang harapan namun agak tak percaya karena setahu saya sedalam-dalamnya sungai tersebut dalam banget.

Saya bingung saat itu. Ada rasa tak enak juga dengan sang penjual nasi goreng tersebut karena telah membuat pakaiannya basah saat akan berjualan. Entah apa yang harus saya lakukan? Cukupkah hanya dengan meminta maaf dan mengucapkan terima kasih? Saya rasa tak cukup hanya sampai disitu.

Saat hanphone tersebut jatuh ke sungai, entah apalah yang ada diotak saya. Saat itu saya hanya berpikir tentang isi dari pada handphone tersebut yaitu saya harus datang kembali ke galeri salah satu operator untuk mengurus nomor handphone saya agar tetap yang lama. Lalu bagaimana dengan data-data di dalam memory card? Serta bagaimana jika ditanya mana handphonenya? Mengingat handphone tersebut adalah pemberian sang paman yang walaupun saat ini sedang tidak harmonis dengan keluarga saya.

Ada hal yang saya bingung dengan diri saya, yaitu saya merasa tidak begitu panik saat saya menyaksikan sendiri bagaimana handphone tersebut nyemplung ke dalam sungai. Saya juga teringat beberapa bulan lalu tepatnya bulan ramadhan saat handphone saya hilang didalam angkutan kota.

Entahlah memang saya ini ceroboh atau bagaimana? Yang pasti sepulang dari tempat itu saya masih memikirkan kejadian tersebut didalam angkot dan apa yang harus saya lakukan untuk orang yang telah menolong saya.

HANDPHONE NYEMPLUNG
HANDPHONE MANDI


Entahlah setelah mandi di sungai apakah handphone tersebut masih dapat digunakan atau tidak?

Minggu, 11 September 2016

SKRIPSI SESUATU

SKRIPSI ITU SESUATU

Akhirnya sidang skripsi berlalu, namun dibalik itu semua banyak sekali cerita tentangnya. Dari mulai laptop rusak dan data hilang hingga handphone pun hilang.

Awalnya sejak januari 2016 bahkan jauh sebelum itu saya memang sudah merencanakan skripsi tentang BBLR. Hal ini sudah direncanakan sejak memasuki perkuliahan. Mengingat saat itu saya memang pemegang laporan penyakit terbanyak. Sehingga data-datanya pun saya ketahui. Maka itulah saya putuskan untuk mengambil judul tentang BBLR. Saat itu judul yang saya ajukan adalah tentang pengetahuan dengan BBLR. Karena awalnya sih ingin tahu saja apakah ibu yang mempunyai bayi dengan BBLR mengetahui tentang BBLR itu sendiri sehingga ia pun tahu mengapa bayinya BBLR. Karena seringnya saya ditanya seperti itu oleh keluarga bayi.

Proses proposal skripsi agak tertunda karena adanya seminar keperawatan yang harus dilaksanakan. Awalnya sidang proposal skripsi dijadwalkan bulan maret 2016 namun diundur menjadi bulan april 2016.

02 April 2016
Hal pertama yang tidak bisa dilupakan adalah satu minggu sebelum sidang proposal skripsi saya memutuskan untuk mengganti judul. Mengingat saat itu saya konsulkan judul tersebut dan dikatakan bahwa “jika pun nanti ada hubungan maka hubungannya bias atau semu”. Dia pun mengatakan “mengapa tidak ambil judul yang lain saja seperti anemia dengan BBLR misalnya”. Namun saya katakan “kalau judul itu sudah sering”. Dia menjawab “ya tidak apa-apa kan beda waktu dan tempat”. Maka setelah itu saya pun memikirkannya dan akhirnya saya putuskan untuk mengganti judul. Saya pun khawatir jika nanti hasilnya akan bias atau semu dan bisa-bisa saya harus penelitian ulang. Maka saya putuskan untuk mengganti judul dengan menggunakan data sekunder bukan primer.

Setelah saya memutuskan untuk mengganti judul, maka saya langsung mengontak sang dosen pembimbing. Beliau mengatakan saya boleh ganti judul dan tetap seminggu lagi saya harus maju untuk sidang proposal. Setelah acc ganti judul oleh dosen pembimbing, maka saya langsung mengontak beberapa orang untuk mencari data yang kira-kira bisa saya jadikan sebagai judul.

Akhirnya saya putuskan untuk mengganti judul antara preeklampsia dengan BBLR. Langsung juga saya mencari sumber-sumber buku yang sudah ada di kamar dan lemari buku pribadi saya. Setelah saya ditemukan sumber-sumber tersebut saya langsung mencari teman yang laptopnya bisa saya pinjam mengingat saat itu laptop saya sedang rusak dan harus instal ulang. Inilah hal kedua yang tak bisa dilupakan juga. Sudah ganti judul dan seminggu lagi harus sidang proposal saat itu pula laptop rusak dan data pun hilang karena install ulang dan tak bisa diselamatkan semua. Hanya beberapa data saja yang bisa kembali dan itu pun bukan data tentang proposal. Untungnya sebelum saya membawa laptop ke tempat install, saya sempat menyimpan data tentang proposal di flashdisk.

Besoknya 03 April 2016 saya meminjam laptop di teman dan kemudian langsung mengetik dan mengedit yang diperlukan. Beruntungnya hari itu proposal sudah siap dan tinggal di cetak kemudian siap dikonsulkan esoknya.

Saat besoknya proposal tersebut dikonsulkan, disarankan untuk menambah judul yaitu antara karakteristik dan preeklampsia dengan BBLR. Awalnya sih bingung karena khawatir akan banyak variabel. Namun jika tidak dijadikan judul juga akan masalah saat ditanya mengingat didalam teorinya sudah ada hanya tinggal menambah sedikit saja. Akhirnya saya putuskan untuk memakai judul tersebut.

Proses selanjutnya tetap berjalan hingga akhirnya sidang proposal 08 April 2016 (080416). Hal ketiga yang tak bisa dilupakan juga adalah saya sidang proposal setelah dinas malam. Awalnya sidang dijadwalkan tanggal 09 April 2016. Saat tanggal 07 April 2016 saya menemui sang dosen pembimbing bersama dengan teman yang lain. Saat itu pula saya kaget karena besok 08 April 2016 harus maju sidang proposal. Jika sudah begitu mau bagaimana lagi? Siap tak siap ya harus siap. Untungnya beberapa persen sudah jadi walaupun masih banyak hal yang harus disiapkan. Karena waktunya tak sempat bahkan tak terpikir juga jadilah proposal skripsi yang sangat apa adanya. Dari judul langsung BAB I. Ingat juga banyak sekali kertas yang dilipat tanda banyak yang harus direvisi. Hal keempat yang tak bisa dilupakan lagi adalah sang dosen pembimbing meminjamkan saya laptop untuk mengerjakan proposal skripsi yang akan disidangkan besok. Sangat baik sekali pembimbing saya itu.

Setelah sidang proposal maka revisi-revisi pun dilakukan hingga akhirnya ketiga dosen penguji acc agar proposal dapat diteruskan penelitian. Setelah mengambil data dan proses pengolahan pun dilakukan. Tepat bulan puasa hari ketiga handphone saya hilang di angkot saat sedang perjalanan pulang http://apurusrinufa.blogspot.co.id/2016/06/hp-hilang.html. Itulah hal kelima yang tidak bisa saya lupakan juga. Mengingat handphone hilang saat sedang proses skripsi. Hingga saya pun bingung untuk mengontak orang-orang yang saya anggap penting terutama dalam proses skripsi ini seperti pembimbing misalnya.

Tepat tanggal 04 Agustus 2016 saya sidang skripsi yang pertama. Akhirnya segala apa yang sudah dilakukan disidangkan hari itu dan ada rasa sedikit puas. Sedikit saja karena saya tak mau berlebihan juga. Alhamdulillah revisi skripsi tak sebanyak dengan revisi proposal. Lipatan kertas pun tak sebanyak saat proposal. Walau pengujinya ada yang berbeda namun ada juga yang sama.

Jika diingat-ingat lagi saya sidang proposal tanggal 080416 dan sidang skripsi tanggal 040816. Agak unik dan lucu juga yang antara angka 4 dan 8. Agak tak bisa dilupakan juga nih.

Semua ini tak lepas dari peran orang tua yang sangat utama yang selalu menanyakan “memang belum selesai?”. My Parents is My Power. Kedua adalah sang paman yang juga menanyakan “gimana skripsi atau penelitiannya? Populasinya berapa? Sampelnya berapa? Oh cukuplah sampel 10% dari populasi”. My Uncle is My Motivation.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah sangat membantu dalam skripsi saya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih kepada sang pembimbing ibu Ns. Siti Latipah Skep., M.K.K.K (ibu mimie) yang sudah baik banget dan ibu Erna Juliana Simatupang SST., MKM yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat terutama tentang penelitian. Lama-lama saya lebih tertarik penelitian dari pada asuhan keperawatan yang terkadang berubah-ubah hehehe. Oneday semoga suatu saat saya bisa menjadi seperti beliau-beliau.

Selasa, 23 Agustus 2016

KETIKA KEBIASAAN BERUBAH

KETIKA KEBIASAAN BERUBAH

Entahlah ini adalah hal baik atau buruk. Karena  ada sesuatu yang sudah berubah tanpa diketahui oleh sang atasan. Terutama di ruang bayi sakit disebuah rumah sakit milik pemerintah kabupaten. Dahulu di tempat ku bekerja memandikan bayi pada waktu subuh. Namun sekarang beberapa orang terkadang memandikan bayi disaat memulai shift ketiga atau malam. Kadang juga ada yang memandikan bayi di tengah malam atau dini hari. Entah ini suatu hal yang baik atau tidak? Tetapi saya rasa orang yang awam dan tidak begitu mengerti akan kesehatan pun tahu ini baik atau tidak.

Awalnya, dahulu semua pekerjaan dilakukan sesuai shiftnya walaupun si pekerja di shift berikutnya sudah datang lebih awal. Sekarang semua pekerjaan pada shift tiga khususnya yaitu shift malam bisa-bisa telah selesai dikerjakan pada saat pergantian shift. Yah begitulah yang terjadi akhir-akhir ini dan sudah beberapa lama, namun saya rasa sang atasan tak mengetahuinya karena dilakukan pada malam hari. Entah baik atau tidak, namun jika sudah dikerjakan oleh mereka maka saya mau bilang apa? Toh saya juga bukan atasan. Hanya terkadang penanggung jawab shift yang belum tentu dipertimbangkan bahkan didengar. Tak masalah untuk saya toh saya juga tak mau menjadi kepala shift. Sekalipun saya pernah mengatakan “memang tak bisa dikerjakan pagi yah?”  mereka hanya senyam senyum saja dan diam dengan tetap melakukan hal tersebut. Dalam hati saya bergumam, jika memang tak sanggup ya sudah tak usah dikerjakan gampang kan?

Yang pasti saya sendiri jikapun datang lebih awal dari jam yang seharusnya tidak pernah melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan pada shift berikutnya. Berusaha saja melakukan sesuai dengan waktu yang seharusnya dilakukan. Seperti memandikan atau mengelap bayi, biarkan saja mereka melakukan sesuka hati mereka. Toh mereka yang melakukan sudah semua dewasa bahkan ada juga yang sudah bersuami, berkeluarga bahkan mempunyai anak.

Entahlah mereka yang melakukan hal tersebut punya pikiran atau tidak? Pernah atau tidak mereka memikirkan jikalau hal tersebut terjadi pada anak mereka suatu saat nanti seperti misalnya memandikan bayi dimalam hari atau tengah malam dini hari.

Intinya mereka memandikan bayi dimalam atau tengah hari agar saat subuh tidak memandikan lagi dan bisa tidur sampai bablas hingga pergantian shift selanjutnya. Jika jumlah bayi banyak dan ada pertimbangan lain seperti kondisi saat hari raya yang pekerjanya setelah subuh akan melaksanakan shalat ied barulah saya setuju memandikan bayi lebih awal namun tidak dimalam atau tengah hari juga, mungkin disepertiga malam terakhir di waktu terakhir paling utama untuk shalat tahajud.

Bukan soal memandikan saja, terkadang mereka menyuruh orang tua bayi untuk memerah asinya agar bisa diberikan kepada sang bayi. Namun terkadang entah karena tidak tahu atau malas untuk mengecek asi, maka asi yang telah diperah oleh sang ibu kandung bayi terkadang tidak diberikan. Yang saya heran juga apakah mereka mau seperti itu yaitu saat asi mereka sudah dipompa namun tidak diberikan kepada anaknya.

Entahlah apakah mereka pernah berpikir atau tidak seandainya hal tersebut terjadi pada mereka?


TERKADANG ANTARA TIDAK MAU, TIDAK BISA, TIDAK SEMPAT DAN MALAS ITU BEDA TIPIS. HANYA DIRI SENDIRI YANG MENGETAHUINYA.