apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Sabtu, 26 September 2015

putus

PUTUS
200315
Kata “putus” pasti sudah gak asing lagi ditelinga. Yah entah apa yang putus atau tentang apa putusnya itu? Hehehe. Mungkin untuk kali ini lebih ke tentang orang pacaran lah istilahnya. Buat gue pribadi,
KALO EMANG UDAH PUTUS YAH PUTUS AJAH GAK ADA ISTILAHNYA BALIKAN LAGI ATAU CLBK CINTA LAMA BERSEMI KEMBALI ATAU CINTA LAMA BELUM KELAR ATAU APALAH ISTILAHNYA YANG PENTING INTINYA SEPERTI ITU hehehe.....
Yah kalo emang konsisten yang namanya udah “putus” dalam sebuah hubungan yang dibilang katanya “pacaran” yaudah putus ajah dan ga ada yang namanya istilah balikan. Kalo emang orang itu punya komitmen, berprinsip dan teguh pendirian (cieileeeh cakep bangetz dah tuh kata), yah kalo udah putus sekalipun si doi merengek-rengek minta balikan atau gimana gitu yah tetap pada kata “tidak” kecuali beda halnya jika balikannya bukan sebagai “pacar” wkwkwk yah ningkat dikit lah masa balikan masih ajah jadi “pacar” yah setidak-tidaknya menjadi pasangan yang resmi gitu hehehe.
Itu juga yang saya lakukan dan tekadkan dalam diri saya “tak ada istilah balikan jika sudah ada kata putus”. Itu juga yang saya katakan kepada pacar saya dahulu yang sekarang pastinya sudah menjadi mantan. Saya bilang “kalo kita sampe putus ga ada yang namanya balikan lagi dan jangan heran jika bertemu saya akan cuek sama kamu” yah saya juga mikir lagi kalo sudah jodoh memang tak akan kemana. Iyah memang tapi prosesnya bukan pacaran lagi. Seperti yang saya katakan diatas kalo pun balikan tidak menjadi “pacar” lagi tetapi meningkat ke tahap yang lebih tinggi pastinya.
Teringat beberapa waktu lalu ada yang menanyakan kepada saya soal pacar. “punya pacar?” dan saya menggelengkan kepala menandakan “tidak” tetapi yang bertanya menyimpulkan “belum”. Bedakan antara “tidak” dengan “belum”. Jika tidak yah pasti mungkin tidak akan terjadi. Tetapi jika belum kemungkinan akan terjadi namun belum terjadi. Kenapa saya bedakan? Karena sesungguhnya saya tak menginginkan hal itu terjadi. Yah soal pacar. Jujur saya tak mau dan tak ingin punya pacar lagi. Karena saya berpikir mau berapa mantan lagi jika saya punya pacar lagi? Entah picik atau gimana? Yang namanya punya pacar biasanya pacaran dan biasanya rentan dengan istilah putus dan pastinya jika sudah putus istilahnya bukan pacar lagi donk tapi mantan. Kasarnya menikah saja bisa cerai apalagi pacar atau pacaran yang tak ada ikatan secara resmi. Yang resmi saja bisa ambruk gimana yang tak resmi. Hehehe. Ingat loh itu semua pemikiran saya. Jika berbeda pemikiran ya sah-sah saja karena setiap orang pasti berbeda pada orang kembar sekalipun hehehe.

Yah intinya kalo emang udah putus yah putus ajah ga ada lagi yang namanya istilah balikan hehehe. Kalo hari ini putus ya sudah tak ada istilahnya besok lusa atau kapan kapan balikan lagi hahaha. Jadi inget satu judul lagu “putus nyambung putus nyambung putus nyambung sekarang putus besok nyambung lagi kalo laku hari ini putus ya putus ajah” hahaha.

Minggu, 06 September 2015

KEBEBASAN, BEBAS TERBATAS

untuk odop "one day one posting"
KEBEBASAN, BEBAS TERBATAS

Bebas, satu kata yang mungkin pastinya diinginkan setiap orang terutama oleh orang yang merasa hidupnya terganggu atau terhalangi oleh suatu hal. Bebas yang berarti tanpa beban tanpa belenggu oleh suatu apapun. Kebebasan yang berarti bebas seluas-luasnya. Bebas bisa juga termasuk ke dalam suatu hak. Hak setiap manusia yang hidup. Bahkan dapat dikatakan hak asasi manusia. Yang berarti juga bebas merupakan hak asasi setiap manusia. Ini artinya setiap manusia harus memiliki suatu kebebasan. Seperti contohnya bebas berpendapat, bebas berekspresi, bebas berkreasi, dan bebas-bebas lainnya. Tetapi ada yang perlu diingat dan tak boleh dilupakan yaitu bahwa bebas itu hak setiap manusia, kebebasan itu hak asasi manusia, tetapi semua itu ada batasnya, yang berarti bebas terbatas. Mengapa sudah bebas tapi masih dibatasi? Yah penting rasanya suatu kebebasan itu tetap harus dibatasi agar tak merugikan orang lain serta tak melanggar norma dan aturan hukum yang berlaku. Jika bebas tak dibatasi maka bisa saja akibatnya akan fatal. Contohnya ada maling kemudian ditangkap oleh warga lalu dihakimi massa yang dengan kata lain yaitu main hakim sendiri. Jika hal itu tidak dibatasi maka setiap orang yang maling akan habislah nyawanya ditangan massa itu. Maka dari itu perlu adanya pembatasan dalam hal kebebasan sekalipun. Contoh lain jika bebas itu tak dibatasi dalam hal ekspresi ataupun kreasi seni dan semacamnya, akan berapa banyak orang yang akan memakai busana semaunya dengan alasan kebebasan berekspresi dan berseni. Maka inilah perlunya pembatasan. Boleh bebas berpendapat, boleh bebas berekspresi, boleh bebas berkreasi dan lainnya selama itu tidak melanggar norma dan aturan yang berlaku baik dalam suatu masyarakat atau negara sekalipun. Seperti contoh tadi yaitu memakai busana semaunya apakah tak bertentangan dengan norma yang berlaku di suatu tempat? Walaupun lama-kelamaan bisa saja norma tersebut bergeser. Tapi satu hal yang tak bisa hilang begitu saja yaitu norma agama. Jika norma sosial bisa saja bergeser tetapi itu pun tak bisa begitu saja hilang tanpa adanya suatu proses. Jika dalam norma agama sudah tentu pasti memakai busana semaunya apalagi sampai memperlihatkan aurat sudah pasti bertentangan dengan norma tersebut. Maka itu pentingnya bebas terbatas.

Bebas berpendapat. Hati-hati dalam hal ini. Kita memang bebas mengeluarkan pendapat kita tentang suatu hal baik yang sesuai dengan hati kita ataupun yang bertentangan. Tapi perlu diingat lagi jika pendapat kita tuangkan dalam lisan maka hati-hatilah dengan kata-kata yang kita keluarkan karena khawatir akan menyinggung perasaan orang lain. Maka mungkin lebih bebas kita menuangkan pendapat kita jika dalam bentuk tulisan yang bisa disusun dengan kata-kata yang rapih. Jika lewat lisan maka bisa akan menusuk langsung ke hati. Ingat pepatah yang mengatakan bahwa “mulutmu adalah harimaumu”. Maka berhati-hatilah dalam berbicara sekalipun itu adalah kebebasan kita dan juga hak kita dalam berpendapat.

Bebas juga merupakan satu kata yang sangat diidamkan oleh rakyat Indonesia saat dahulu masih dalam masa penjajahan jepang dan belanda. Kebebasan suatu keadaan yang juga sangat-sangat diimpikan oleh warga indonesia. Bebas dari bangsa jepang dan belanda. Bebas yang berarti merdeka. Bebas dari belenggu penjajah. Bebas sebebas-bebasnya.


Bebas, kebebasan, bebas terbatas. Marilah kita nikmati kebebasan hidup ini dengan sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku tanpa harus melanggar norma hukum, norma sosial dan terutama norma agama yang kita anut sesuai dengan keyakinan masing-masing. Setiap norma pastinya bertujuan baik. Maka janganlah merasa kesal jengkel atau marah karena ada perbuatan kita yang tak sesuai dengan norma walaupun kebebasan itu hak setiap manusia. Tapi cobalah berpikir ulang mengapa hal tersebut dilarang. Mungkin saja perbuatan yang kita lakukan bukan saja merugikan orang lain tetapi juga dapat merugikan diri sendiri oleh karena itu hal tersebut dilarang dalam norma.

Rabu, 02 September 2015

SYARAT HARUS BERBAHASA INDONESIA BAGI PEKERJA ASING DIHAPUSKAN? HARUSKAH? ADILKAH?

untuk odop "one day one posting"

SYARAT HARUS BERBAHASA INDONESIA BAGI PEKERJA ASING DIHAPUSKAN? HARUSKAH? ADILKAH?

Jujur saja saya sempat kaget setelah mengetahui berita tentang penggunaan atau syarat wajib dan tes bahasa indonesia bagi pekerja asing dihapuskan? Yang ada dipikiran saya adalah mengapa dihapuskan? Adilkah? Karena bukankah saat kita warga negara indonesia akan berkunjung ataupun bekerja ke tempat lain bahkan negara lain, maka kita harus menyesuaikan segala sesuatunya dengan apa yang ada di tempat tersebut termasuk dalam berkomunikasi yakni bahasa yang digunakan. Bukankah seperti itu yang kita lakukan? Bahkan hal tersebut menjadi syarat bukan? Seperti misalnya ada pelajar indonesia yang ingin berkuliah di universitas al-azhar kairo tentunya ada tes bahasa arab agar bisa lulus dan akhirnya kuliah disana? Bukankah seperti itu? Begitu pun dengan tempat lain. Yang intinya adalah dimana kita berada maka selayaknya kita menyesuaikan segala sesuatunya dengan apa yang ada disana terkecuali sesuatu yang berhubungan dengan keagamaan cukup bertoleransi saja. Bukankah seperti itu?

Seperti yang kita ketahui bahwa bahasa indonesia yang kita gunakan dalam keseharian merupakan bahasa resmi tanah air indonesia yang juga merupakan bahasa persatuan bangsa indonesia. Jika bahasa indonesia dikatakan bahasa resmi negara Republik Indonesia maka seharusnya siapa pun yang berada di tanah air Indonesia harus menggunakan bahasa indonesia dengan baik tanpa memandang siapa dia dan dari mana dia? Jika tak bisa wajarlah dimaklumi tetapi bukan berarti tak diharuskan. Jika tak bisa maka berusahalah agar bisa. Bahasa persatuan bangsa indonesia ini berarti siapa pun yang menggunakan bahasa indonesia di tanah air indonesia maka mungkin bisa dikatakan ia cinta akan persatuan dan kesatuan bangsa.

Apa bedanya bahasa indonesia dengan bahasa asing lain seperti bahasa inggris? Dan apa persamaannya? Kedua bahasa itu sama-sama kita harus pelajari karena keduanya diujikan dalam sebuah tes. Perbedaannya adalah mengapa bahasa inggris yang merupakan bahasa asing kita pelajari bahkan juga ada tesnya? Alasan yang saya ketahui saat sekolah adalah karena bahasa inggris merupakan bahasa internasional dan bukan hanya bahasa inggris saja tetapi ada beberapa bahasa asing lain yang juga merupakan bahasa internasional. Karena itu maka bahasa asing dipelajari di sekolah-sekolah bahkan ada sekolah yang memberikan beberapa materi tentang bahasa asing. Baru saya sadari saat saya sekolah ada juga pelajaran tentang bahasa daerah berdasarkan tempat dimana kita berada saat itu. Walaupun misal ada yang berasal dari jawa tetapi ia bersekolah di daerah sunda maka ia pun harus mempelajari bahasa sunda bukan bahasa jawa. Tetapi yang terkadang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa sekarang ini palajaran tentang bahasa daerah tak ada. Apakah semua murid sudah pintar dengan bahasa daerahnya masing-masing?


Ada apa dibalik penghapusan wajib bahasa indonesia bagi pekerja asing? Haruskah hal itu terjadi? Adilkah? Jika begitu bisakah syarat wajib bahasa asing bagi pekerja indonesia di luar negeri dihapuskan juga? Ada sesuatu yang mengganjal rasanya dengan keputusan tersebut. Jika dikatakan seseorang yang berada di indonesia tidak bisa langsung berbahasa indonesia mungkin hal ini masih bisa dimaklumi. Tetapi bukan berarti kewajibannya dihapus. Pekerja asing di indonesia itu bukan hanya satu atau dua hari saja dan bukan juga hanya main untuk sekedar liburan atau lainnya. Tetapi mereka di indonesia bisa saja bertahun-tahun dan dalam waktu lama tersebut bukan hal yang tak mungkin jika pekerja asing itu berinteraksi dengan warga tanah air Indonesia. Jika pekerja asing tak diwajibkan bahasa Indonesia bagaimana bisa dia berkomunikasi dengan warga indonesia yang belum tentu semua warga indonesia mengerti dengan bahasa yang ia gunakan? Jadi apa alasan yang benar-benar bisa diterima dan logis tentang penghapusan wajib bahasa indonesia bagi pekerja asing?

Senin, 16 Maret 2015

TOMBOY

TOMBOY
090315

Tomboy? Apa sih sebenarnya tomboy itu? Suatu kelainan kah, gangguan kah? Atau penyimpangan perilaku? Atau malah bisa masuk kah dalam kategori kenakalan remaja? Entah lah hingga saat ini saya masih belum menemukan referensi yang baik tentang “tomboy” itu. Cari-cari buku tentang tomboy pun hingga saat ini belum saya temukan.

Berawal dari pertemuan saya dengan ade ketemu gede hehehe yang bernama AY. Perkenalan dan pertemuan saya pertama dengannya saat acara ujian kenaikan sabuk karate entah lupa tanggal berapa tepatnya saya lupa. Sebelum ujian dimulai diadakan upacara pembukaan dan saat upacara itu tak lama si AY pingsan karena kebetulan saat itu saya panitia P3K maka dipanggillah saya oleh teman yang lain. Tak lama memang sadar si AY itu yang saya pikir dia adalah cowo. Tapi ternyata saya salah dia ternyata bukan cowo melainkan cewe. Saya tau bukan dari si AY langsung melainkan dari temannya AY yang memberitahu saya. Karena penasaran maka saya pun melihat AY dengan seksama dan masih agak bingung juga sebenernya dia cowo atau cewe serta sempat menanyakan langsung kepadanya “lu cewe atau cowo?” namun hasilnya nihil. Yah karena sudah ada yang bilang bahwa si AY adalah cewe ya sudah saya percaya saja untuk sementara karena saat itu ujian akan dimulai.

Setelah itu saya bertemu lagi dengannya dipertemuan-pertemuan selanjutnya saat latihan dan pas kebetulan ketemu. Lama-lama cukup dekat tapi gak begitu dekat juga sih. Yang pasti lama-lama saya tau dia memang cewe. Dan setelah seringnya bertemu dengan gaya dia yang sama lama-lama saya jadi penasaran dengan penyebab dia seperti itu.  Entah kenapa penasaran dengan dia? Karena mungkin sebelum-sebelumnya memang sudah ada tapi yang membedakan adalah saya benar-benar menyangka dia cowo saat pertama kali ketemu. Dia tidak berjilbab dan rambut sangat cowo banget menurut saya. Mungkin kalo berjilbab sudah pasti cewe.

Saat latihan saya pernah berusaha menanyakan tentang keluarganya. Yah pertanyaan yang gampang sih yaitu anak ke berapa dia? Namun hasilnya nihil saya bukan mendapatkan jawaban pasti namun mendapat candaan yasudah tidak saya teruskan lanjutkan dengan sparing partner.


Itu lah si AY alias ayu yosi. Saya sengaja meminta dia buat foto bareng karena ingin tau reaksi oranglain seperti apa melihat fotonya dia. Saat saya menanyakan kepada orang pertama tentang dia cowo atau cewe? Maka dijawab “cewe” saya tanya kenapa? Karena “ga mungkin kamu berani foto sama cowo”, hadeuh ga salah juga sih jawabannya. Pada orang kedua saya menanyakan hal yang sama lalu dia jawab “cewe soalnya masih ada manisnya emang kalo lihat sekilas kayak cowo”. Entahlah pendapat oranglain seperti apa? Karena dia, saya penasaran soal “tomboy” karena saya sempat bingung saat pertama kali ketemu dan mengenalnya tentang dia “cowo atau cewe”.

Yah karenanya saya penasaran tentang “tomboy” itu apa dan gimana sih? Maka jadilah saya saat kuliah psikologi menanyakan tentang itu kepada dosen. Sebenarnya saya pribadi bukan hanya menanyakan tentang dia, namun juga tentang saya yang notabene nya mungkin bisa dibilang “tomboy” seperti itu.  Entah dibilang tomboy karena saya menyukai beladiri karate kah atau gimana? Saya juga bingung kenapa ada orang yang melontarkan kata-kata seperti itu. Kalo mereka menganggap saya tomboy karena kegiatan karate saya, maka saya bingung. Apa yang salah dengan saya menyukai karate? Memang saat masa sekolah sampe kuliah saya memang tidak suka mengenakan rok yah sekalinya pake rok juga dilapis celana lagi entah celana pendek atau panjang itupun karena peraturan sekolah kan harus pake rok dan saya juga lebih sering mengenakan kaos oblong dibanding kemeja tapi saya tetap berjilbab dan rambut juga masih model cewe malah saya ga boleh potong pendek di atas telinga. Ada yang bilang juga cara jalan saya cepet kaya cowo malah kaya mau ngambil gaji gitu itu yang saya ingat. Dan memang sampe saat ini saya tidak mempunyai rok tapi saya menyukai long dress itu pun long dress yang menurut saya unik bukan long dress polos. Yang pasti jika pakai long dress maka pasangannya adalah high heels dan saya pun memakainya walau ga tinggi-tinggi amat sih. Itu soal pakaian yah memang lebih banyak celana bahkan tak ada rok di lemari saya. Kaos pun tetap ada dan memang saat ini jika keluar pergi kemana gitu saya malah lebih suka pakai baju berkancing atau kemeja gitu karena kelihatan lebih rapi, kan kadang kita ga tau mau pergi kemana dan ketemu siapa ajah? Itu semua terjadi saat saya sudah lulus kuliah dan kerja karena sempat bingung saat mau interview pekerjaan memakai baju apa? gak mungkin donk interview pakai kaos.

Soal makeup memang saya mulai benar-benar rutin makeup saat mulai bekerja karena sebelumnya saya cuek dengan hal itu. Yah ditambah juga memang tuntutan pekerjaan karena perawat kan di tuntut cantik dan tidak kucel lah intinya karena pernah saat bekerja saya tidak pakai lipstik dan saya pun langsung dipinjam kan lipstik oleh senior saya dia bilang “nih pake biar ga pucet, besok-besok pake lipstik yah”. Yah sepulang kerja saat itu saya langsung beli bedak dan lipstik karena saya ingat saya tidak punya benda itu sama sekali saat itu. Sekarang yang ada malah terbalik alat makeup saya malah hampir selalu ada di tas dan selalu saya bawa saat kerja. Memang saya hanya bisa memakai pelembab, alas bedak, bedak serta lipstik ajah sih. Kalo makeup yang lain saya gak bisa pakai hehehe. Bahkan saat mau latihan tak jarang saya makeup dulu walau berusaha makeupnya ga terlalu kelihatan dan mikir nanti juga hilang terkena keringat. Yah tetap ajah ada yang ngeledekin “cieeeee kak riri dandan” hadeuuuuuuh.



Yah saya ga seperti sebelumnya ajah tetap ajah ada yang bilang “kak air galon habis” ya gue jawab “terus?” “yah elu kan cowo” hadeuuuuh. Ada juga yang pernah bilang saat saya mau libur panjang “wedeh libur panjang mau ngapain lu? Mau lamaran? Elu yang dilamar atau elu yang ngelamar?” hadeuh...... yang parah lagi pernah ada yang bilang “elu yang nerima sperma atau elu yang ngeluarin sperma?” hadeuh ini yang menurut saya paling parah. Makanya saya penasaran tentang “tomboy” dan membuat saya menanyakan hal itu kepada dosen psikologi saya yah walau tak perlu semuanya saya eksplor rasanya.

TITIK JENUH

TITIK JENUH

260215

Pernah gak sih mengalami titik jenuh? Atau galau dengan kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Entah pesimis atau bukan. Saya merasa saat ini mungkin saya galau dengan kegiatan kuliah sarjana saya. Bukan galau karena biaya atau niat? Saya pribadi asik asik saja menjalaninya dengan tugas dan belajar karena rasanya ada sensasi atau tantangan baru dalam hidup ga monoton pergi dan pulang kerja terus udah selesai. Ingat loh ilmu itu selalu berkembang. Tapi saya sempat berpikir untuk apa nanti ijazah sarjana saya? Dan bahkan saya menginginkan untuk ambil magister walaupun belum tau pasti jurusan yang akan saya pilih nanti. Entah pikiran picik, sempit atau bukan? Terkadang berpikir, nanti kalo sudah lulus, ijazah sarjana saya untuk apa? jujur saya pribadi menginginkan ijazah yang berbeda ditempat kerja berbeda pula. Maksudnya begini saat ini saya bekerja di rumah sakit dengan ijazah d3 saya. Nah saya ingin saat saya sudah sarjana saya menggunakan ijazah sarjana saya ditempat lain. Jadi tetap bekerja di rumah sakit dan ditempat lain juga. Tentunya dengan manajemen waktu yang benar. Yah walaupun selembar ijazah itu tidak mutlak dengan sebuah pekerjaan yang sama linier maksudnya gitu. Entahlah kenapa saya berpikir seperti ini? Jujur saja awalnya saya menginginkan ijazah sarjana saya kelak mungkin bisa dipakai untuk pendidikan yah ngajar fleksibel di sekolah-sekolah kesehatan gitu lah yang penting ijazah sarjana saya berguna dan terpakai. Tapi saat bertemu adik kelas dengan SMP yang sama dan sudah lulus dari SMK kesehatan iseng-iseng saya tanya tentang pendidikan guru-guru di sekolah kesehatan tersebut ternyata dia bilang ada yang s2 ada pula yang s1 dengan profesi. Nah sarjana dengan profesi. Itulah yang saya pikirkan. Karena saat ini saya belum ada niat atau pikiran untuk mengambil profesi keperawatan.

Dan untuk magister pernah sih kepikiran dan tertarik dengan jurusan hukum mengingat pekerjaan perawat resiko dengan hukum dan pernah juga kepikiran dengan jurusan manajemen mengingat sesuatu itu pasti ada manajemennya yang mungkin kurang bagus itu pikir saya. Nah saya berpikir untuk mengkombinasikan jurusan itu jadilah jurusan manajemen hukum, namun ternyata hahaha nihil karena saat saya browsing tak ada jurusan manajemen dengan konsentrasi manajemen hukum. Ya sudah deh jadi bingung lagi. Kepikiran juga kalo saya ambil jurusan hukum bisakah nantinya saya bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) hahaha entahlah. Mungkin jika ada yang berpikir, jauh banget sih mikirnya ini ajah dulu jalanin, sarjana juga belum udah mikir buat magister. Yah saya rasa itu gak salah juga. Tapi bukankah hidup itu harus punya rencana atau rancangan ke depannya mau gimana? Yah walaupun belum tentu semuanya akan sesuai dengan rencana dan harapan kita? Yah simplenya sehari-hari lah mungkin kita harus punya rencana hari ini mau kemana atau mau ngapain ajah?


Teringat saat dulu lulus SMA dan kuliah di akper jujur saya tak pernah terbersit dalam benak saya untuk apa saya kuliah? Dan nantinya untuk apa ijazah d3 saya? Karena jujur saat lulus SMA dipikiran saya yang ada hanyalah “saya harus kuliah entah gimana caranya, entah mau lulus atau tidak yang penting saya merasakan kuliah itu seperti apa” yah jadilah saya seperti ini. Tidak pernah kepikiran juga akan atau ingin bekerja dimana? Yang penting lulus terus kerja udah gitu ajah saat itu pikiran saya.

Dan mungkin saat ini saya harus berpikiran lagi seperti di atas supaya tidak galau atau jenuh atau pesimis atau apa lah namanya. Mungkin biarkan semuanya mengalir apa adanya. Toh ga akan ada yang tau besok akan gimana kan?



SIMPLE

140215
SIMPLE


Simple nya jika sesuatu itu bukan untuk kita itu berarti sesuatu itu gak baik buat kita. Sekalipun semua orang mengatakan bahwa sesuatu itu amat sangat baik. Ingat Allah tahu apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Simple kan?


Contohnya tentang jodoh hehehe. Jika memang kita tak berjodoh dengan orang itu, berarti orang itu tidak baik buat kita. Sekalipun menurut semua orang, orang itu amat sangat baik. Ingat Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. Positive thinking ajah yaaa gaaak??????

Teringat saat saya donor darah tanggal 7 februari lalu di tangcity. Bukan soal donor darah yang akan saya ceritakan hehehe. Tapi tanpa sengaja saya bertemu dengan mantan yang pertama. Yah walaupun sebelumnya bulan januari tepatnya saat ujian dan gashuku karate tanggal 18 januari lalu saya juga bertemu mantan seorang karateka entah yang keberapa lupa hehehe dan bertemu dia karena kami sama-sama latihan karate ditempat itu.

Bertemu tanpa sengaja dengan mantan yang pertama biasa ajah sih dia bertanya yah saya jawab sebisa saya dan seadanya yah profesional ajah sih gue maunya karena dia kerja di PMI kota tangerang yang sudah tugasnya dia lah melayani pendonor yang mau mendonorkan darahnya termasuk gue salah satunya. Simple kan?

Dan ternyata yang mengambil darah gue saat donor adalah adik kelas gue yang gue sendiri lupa siapa namanya hahaha kebiasaan gue serta gue juga ga nanya siapa nama dia karena keasyikan ngobrol sama dia. Yah yang gue inget sih pernyataan dia yang kaya gini “gue kira loe bakal terus sama dia (mantan pertama maksudnya) teh, eh taunya........” yaudah langsung ajah gue sambut itu kata-kata secara spontan “ya itu artinya dia ga baik buat gue. Simple kan?” dan gue rasa si mantan itu pun dengar kalo telinganya ga bermasalah karena kalo di sekitar tempat itu kan ada dia. Yaudah cuek ajah.


Simple nya sesuatu yang dipaksakan itu tak akan baik. Yah dari pada melakukan sesuatu karena terpaksa mungkin akan lebih baik jika sesuatu itu tidak dilakukan atau ditunda dahulu sehingga tidak terpaksa. Simple kan?

Contohnya jika kita emang ga niat kerja, gak mau atau pun ga bisa. Ya sudah lebih baik tak usah dikerjakan dari pada tetap dilakukan tapi hasilnya berantakan, bukankah akan lebih buruk?????

Simple nya apa yang terjadi pada diri kita saat ini dan mungkin masa lalu, itu adalah yang terbaik untuk kita menurut Allah. Ingat Allah maha tahu apa yang terbaik buat kita.


Contohnya diri gue hehehe jika saat ini gue single yah berarti itu yang terbaik buat gue untuk saat ini menurut Allah SWT. Dan jika saat ini gue ditempatkan di ruangan perinatologi rsu kab tangerang itu berarti juga yang terbaik menurut Allah SWT. Begitu juga jika saat ini gue kuliah di stikes Bina Permata Medika itu artinya juga yang terbaik menurut Allah SWT. So, positive thinking ajah. Toh semua sebenernya sudah ada yang mengatur dan kita manusia hanya tinggal menjalani saja bukan?

Simple nya jika suka akan sesuatu silakan ikuti. Tapi jika tak suka akan sesuatu silakan ambil keputusan terbaik menurut anda. Simple kan?

Contohnya dalam sesuatu hal mungkin akan ada yang namanya peraturan. Yah menurut gue sih itu wajar ajah. Tinggal orangnya ajah, suka dengan peraturan itu atau tidak????? Jika suka, silakan ikuti aturan mainnya. Dan jika tidak, silakan ambil keputusan sendiri contohnya mundur dari suatu hal itu mungkin. Simple kan?????

Seperti contoh kuliah yang saat ini sedang saya jalani akan berjalan selama 2 tahun yang pada awalnya dijadwalkan hanya setahun dan ada yang protes. Simple nya situ suka, ya ikutin. Ga suka yah terserah mau gimana. Simple kan??? Toh memang normalnya kuliah yang sedang saya jalani saat ini adalah 2 tahun, ada yang aneh dan janggal rasanya jika dalam setahun 3 semester mengingat ini bukan semester pendek pula.

Dan jika ada yang tidak masuk kuliah entah karena sakit atau ijin, harus ada suratnya. Yah bukan memangnya begitu dari jaman gue SD ampe kuliah bahkan sampe perusahaan pun rasanya sama jika tak hadir karena sesuatu hal harus jelas dan ada suratnya sebagai bukti. Lalu institusi meminta jadwal dinas selama satu bulan (yah ini sih memang usulan saya pribadi, mengingat kekesalan saya dalam tulisan sebelumnya berjudul “absensi vs kehadiran”). Dan reaksi mereka yang saya dengar sendiri sepertinya tidak suka bahkan ada yang mengatakan “kaya anak SD ajah pake surat segala”. Yah kalo gue yang jadi dosen sih mungkin akan lebih dari itu. Santai boleh tapi tak disepelekan juga. Dan mungkin gue akan memprioritaskan kehadiran 50-70% dalam penilaian mungkin yaaah kalo cara hadirnya mereka seperti itu. Tau lah seperti apa? baca saja tulisan saya sebelumnya tentang absensi vs kehadiran karena saya malas untuk membahas ulang tentang itu.

Yah intinya dari pembahasan gue diatas adalah jika suka, silakan ikuti aturan institusi. Tapi jika tak suka, ya sudah ambil saja keputusan sendiri toh sudah dewasa semua kan? Mengingat ini adalah kelas khusus yang rata-rata sudah berkeluarga. Toh ga ada yang menyuruh mereka untuk kuliah dan khususnya kuliah di stikes bina permata medika mungkin. Simple kan?????


So, hidup itu simple. Orang-orangnya ajah yang pada ribet. Ribet ini, ribet itu lah. Yah mungkin lebih baik biarkan kata-kata orang yang ga penting dan tidak berpengaruh untuk kita alias cuek. Tapi ingat, cuek itu boleh tapi tak berlaku untuk sesuatu yang kita anggap penting dan berpengaruh.

Senin, 09 Maret 2015

MENULIS dan TULISAN



MENULIS dan TULISAN

230115
Tak semua hal rasanya perlu kita ungkapkan kepada seseorang sekalipun mungkin orang itu sangat dekat dengan kita dan sangat kita percaya. Tapi ingat loh sewaktu-waktu orang yang mungkin dekat dan kita percaya itu bisa saja menjadi bumerang bagi diri kita sendiri bahkan bisa jadi pengkhianat. Misalnya saja jika kita menceritakan tentang perasaan kita kepada teman yang sudah sangat dekat dengan kita, hati-hati loh bisa jadi teman kita itu juga ternyata menyukai orang yang kita suka. Nah loh......
Maka dari itu mungkin menulis adalah salah satu solusinya. Yah mungkin akan berbeda antara menulis dengan kita menceritakan langsung kepada teman apa masalah atau yang ingin kita ceritakan. Bedanya apa? jika menulis mungkin kita hanya bisa mencurahkan isi hati kita terhadap tulisan kita tanpa kita mendapatkan solusi dari tulisan tersebut mungkin tapi setelah menulis mungkin kita akan merasa lega karena semua hal bisa kita ungkapkan kepada kata-kata itu tanpa kita pedulikan perasaan orang lain dan mungkin komunikasinya hanya satu arah. Jika mencurahkan isi hati kita kepada orang lain bisa saja orang itu punya solusi yang baik namun bisa juga orang itu hanya menjadi pendengar yang baik (yah kaya radio donk) dan memang komunikasinya dua arah karena pasti melibatkan dua orang.
Saya pribadi lebih memilih mencurahkan isi hati saya atau apapun yang saya ingin ceritakan tentang apapun kepada kata-kata, kalimat-kalimat atau pun tulisan hehehe. Kenapa? Yah alasannya seperti yang saya ungkapkan tadi. Inget loh dalam sedetik bisa saja teman bisa jadi musuh bahkan bumerang untuk kita sendiri.
Dengan tulisan kita bisa mencurahkan apa yang kita rasakan dan apa yang kita inginkan tanpa mungkin diketahui orang lain. Jika orang lain itu tidak membacanya. Dan mungkin juga kita akan ingat apa yang kita inginkan saat kita menulis tersebut. Ingat loh tulisan akan lebih berbekas di otak atau pun akan lebih diingat dibanding hanya dengan omongan yang bisa saja sewaktu-waktu orang yang berbicara seperti itu mengelaknya. Namun jika dengan tulisan berupa rangkaian kalimat-kalimat dan kata-kata, maka orang akan lebih mengingat dan jika pun suatu saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka tulisan tersebut bisa menjadi bukti yang otentik dan mungkin lebih kuat dibanding omongan. Itu menurut saya loh. Entah benar atau tidak saya tak tau.
Kenapa pula saya lebih memilih menulis? Jujur saya bukan tipe orang yang gampang mengungkapkan isi hati saya kepada seseorang entah saya menyukai orang tersebut ataupun membenci orang tersebut karena saya khawatir ungkapan saya itu akan menyakiti orang tersebut ataupun memalukan diri saya sendiri. Terserah pendapat anda seperti apa tentang itu? Yang pasti ini adalah saya dan saya punya alasan tersendiri kenapa saya melakukan itu.
Tidak baik jika dipendam sendiri? Hei siapa bilang saya memendamnya sendiri. saya tidak memendamnya sendiri. Saya punya Allah maka saya mengungkapkannya dengan bait-bait doa yang saya panjatkan kepadaNya. Dan juga menulis hehehe.
Ada sensasi tersendiri rasanya dengan menulis. apapun yang ingin ditulis tulislah. Tak perlu takut dengan pendapat orang lain tentang tulisan kita. Toh itu buah pikiran kita yang kita tuangkan dalam bentuk kata-kata. Pendapat kita mengenai sesuatu hal yang kita suka maupun tidak. Jika pun ada yang mengkritik tentang tulisan kita misalnya tulisan tidak urut atau berantakan ya sah-sah saja saya rasa bila ada orang mengatakan seperti itu. Tapi kalo bisa orang yang mengatakan seperti itu jangan hanya bisa mengkritik seperti itu kalo bisa juga orang itu memperbaiki tulisan kita agar lebih bagus lagi. Karena jujur saya menulis sesuka hati saya, apa yang saya ingin ungkapkan maka saya tulis jadi maaf bila tulisan saya mungkin kurang bagus atau kosakatanya tidak baku.
Teringat saat interview untuk masuk perguruan tinggi, pernah ditanya “punya teman dekat?” maka saya jawab tidak. Lalu dia bertanya lagi “terus kalo curhat gimana?” ya saya jawab saja “saya berbicara sendiri di depan kaca”. Yah itu lah saya yang dulu saat lulus SMA dan memasuki kuliah. Selain memang tak punya teman dekat untuk curhat saya juga bukan orang yang gampang percaya dengan orang lain jika saya menceritakan sesuatu kepadanya. Cerita sih tapi mungkin tidak sebanyak apa yang saya ceritakan depan kaca saat itu. Kenapa? Yah itu tadi bisa saja orang tersebut yang telah kita percaya malah menjadi pengkhianat. Karena jujur saya pernah mengalami dan pernah mempunyai teman seperti itu. Dan saya rasa tak perlu saya menceritakannya lagi hehehe.
Sempat saat SMA saya mencoba membuat cerpen yang memang tidak jauh dari cerita kehidupan saya pribadi. Namun karena tak ada komputer saat itu dan capek menulis dengan tangan hehehe maka tidak saya teruskan tulisan itu. Saat itu pun saya menulis sesuka hati saya dan mungkin alur cerita tidak urut serta kata-kata mungkin tidak bagus juga.
Dan saya mulai menulis lagi saat lulus kuliah. Entah apa yang telah mendorong saya untuk menulis. awalnya hanya iseng. Iseng karena laptop menganggur dan saya pun tak ada kerjaan lagi di depan laptop karena tak ada tugas yang harus saya kerjakan memakai laptop. Maka saya pun mencoba mengetik dengan mengingat-ngingat kejadian masa lalu yang mungkin bisa saya tuliskan alhasil jadilah sebuah tulisan hehehe. Juga ungkapan saat saya menyukai seseorang dan galau dengan perasaan saya itu. Intinya semuanya saya ungkapkan dengan tulisan tentang apapun yang saya rasakan. Maka.......
TULISLAH APA YANG INGIN KAU TULIS
BACALAH APA YANG INGIN KAU BACA
JIKA PERLU SEMPATKAN DIRI DALAM SEHARI UNTUK MEMBACA
MEMBACA APA SAJA