apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Kamis, 30 Maret 2017

gagal

GAGAL LAGI

Tepat 13 maret 2017 aku menerima pengumumann bahwa dokumen lamaran yang aku kirimkan untuk menjadi petugas kesehatan haji Indonesia 1438 dinyatakan tidak valid dengan kata lain GAGAL. Rasa kecewa sedih dan lainnya pun aku rasakan. Hal yang wajar ketika seseorag mengalami sebuah kegagalan. Namun jangan berlebihan atau berkepanjangan hingga berdampak buruk terhadap hidup. Karena hidup terus berlanjut sekalipun kau mengalami kegagalan.
Berawal saat akhir oktober 2016 seorang teman memberitahu mengenai rekrutmen petugas haji Indonesia digrup whatsapp. Awalnya iseng, namun aku coba membuka situs web rekrutmen tersebut. Saat itu aku mulai iseng membuat akun. Awalnya ada kesulitan dalam membuat akun karena beberapa kali gagal sebab NIK sudah terdaftar namun nomor akun tidak aku terima. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya nomor akun keluar melalui emailku.
Karena sudah bisa maka aku teruskan saja alur-alur pendaftaran yang ada namun saat itu pendaftaran belum dimulai. Karena belum ada maka aku pun agak nyantai namun ternyata kebablasan karena aku sempat ketinggalan info akibat lama tidak membuka webnya, yang ternyata ada batas tanggal dalam melakukan tahapan pendaftaran namun ternyata diperpanjang lagi hingga seminggu yang akhirnya aku bisa mengejar syarat dokumen yang harus dilengkapi dan diupload.



Pengumuman dari tahap satu ke tahap berikutnya tidaklah cepat. Aku rasa hampir satu bulan menunggu pengumuman dari tahap satu ke tahap selanjutnya. Banyak tahapan yang harus aku lalui. Hingga akhirnya aku hanya sampai pada tahap pemberkasan yang dinyatakan dokumen lamaran tidak valid. Entah apa penyebabnya aku pun bingung. Tapi ya sudahlah. Seandainya aku lulus pemberkasan, maka aku dapat melanjutkan tes psikometri dan jika lulus juga maka aku harus melakukan pelatihan-pelatihan hingga akhirnya dinyatakan benar-benar lulus sebagai petugas kesehatan haji Indonesia.
Sekilas mengenai petugas kesehatan haji Indonesia itu terbagi dua yaitu PPIH dan TKHI. Dimana PPIH adalah panitia pelaksana ibadah haji yang kemungkinan akan ditempatkan di wilayah arab Saudi selama kurang lebih 3 bulan dari sebelum jamaah datang hingga setelah jamaah kembali dengan kata lain berangkat duluan pulang belakangan. Sedangkan TKHI yaitu tenaga kesehatan haji Indonesia yang sudah jelas hanya untuk Indonesia dan tenaga kesehatan yang dibutuhkan hanyalah dokter dan perawat dimana setiap kloter didampingin oleh satu dokter dan dua perawat dan waktunya kurang lebih selama satu bulanan. Berbeda dengan PPIH yang tidak hanya perawat dan dokter namun tenaga kesehatan lain pun bisa mendaftar seperti farmasi, gizi, dan lainnya namun sayangnya aku tidak melihat tulisan bidan dalam daftar tersebut.
Awalnya aku tidak mengetahui seperti apa PPIH dan TKHI itu. Hanya tahu bahwa PPIH itu tidak hanya perawat dan dokter, dan aku pikir berarti lebih banyak orangnya. Maka akhirnya aku memilih PPIH. Namun setelah mencari tahu syarat PPIH adalah lebih memprioritaskan orang yang pernah TKHI sebelumnya, ya sudah deh.
Entahlah, namun jujur aku lebih memilih PPIH dibanding TKHI karena lebih lama berada di arab Saudi hehe. Kalau TKHI mengikuti jamaah haji dari berangkat hingga pulang makanya per kloter.
Namun saat mengetahui bahwa aku tidak lulus ke tahap berikutnya rasanya seperti kejadian tahun  2013 dan 2014 dimana saat itu aku gagal dalam cpns. 2013 aku gagal dalam tiga tes cpns, pertama cpns dki Jakarta hanya sampai mengikuti tes kompetensi hingga jam 3 dini hari yang dimulai dari pagi mengingat saat itu computer untuk tes sering error, cpns pusat saat awal melihat pengumuman memang dinyatakan lulus namun diserahkan kepada instansi yang berwenang karena dengar-dengar instansi berwenang lebih memprioritaskan yang bekerja di instansi tersebut maka aku pun gagal lagi, yang ketiga cpns tangsel kalau yang ini entah berkas  yang aku kirimkan sampai atau tidak karena setelah pengiriman berkas tidak ada kabar lagi. Bersyukur juga karena cpns pusat dan tangsel tesnya dalam waktu yang sama. Saat gagal terutama cpns dki Jakarta dimana aku pulang jam 3 dini hari setelah tes rasa kecewa dan sedih pun aku alami. Namun saat itu aku berusaha berpikir bahwa mungkin bukan tempat aku di dki karena mungkin orang tua pun tidak begitu mengijinkan aku disana jika lulus. Saat tidak lulus cpns pusat aku berpikir mungkin karena aku tidak pantas di tempat tersebut karena dari segi fasilitas tempat saat itu aku bekerja memang jauh lebih baik dari tempat instansi pilihan tes.

Saat mengetahui aku tidak lulus, maka aku hanya bisa memberi sugesti dan menghipnosis diri sendiri bahwa ini adalah yang terbaik. ALLAH punya rencana lain dibalik ini yang kita tidak ketahui. Ada hikmah dibalik sebuah kegagalan. Allah memberi yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Mungkin aku masih kurang dalam memperbaiki diri dan diharuskan memperbaiki diri lagi. Mungkin juga aku belum pantas dan belum saatnya. Yang pasti hidup tidak berhenti hanya karena hal  ini dan harus terus berlanjut.

Selasa, 24 Januari 2017

2016

PENCAPAIAN TAHUN 2016 INI

Alhamdulillah karena tahun ini banyak hal yang menyenangkan yang saya alami. Walaupun semua tak mudah didapat dan butuh perjuangan. Namun akhir dari semuanya selalu menggembirakan.
Saya tak hapal benar bagaimana urutannya.
1.      Dipenghujung tahun 2015 menjelang 2016 saya mendapatkan Surat Tanda Registrasi sebagai perawat bukti legalitas profesi yang saya geluti. Setelah sebelumnya saya sudah memiliki kartu anggota organisasi profesi perawat yaitu PPNI.
2.      Saat proses skripsi handphone hilang di angkot, namun tiba-tiba saja sang paman menawarkan handphone yang menurut saya cukup canggih jika dibandingkan hal hilang tersebut.
3.      Lulus sarjana dan bisa wisuda di tahun ini. Alhamdulillah juga dengan biaya sendiri penuh tanpa sedikit pun campur tangan orang tua dalam hal keuangan semasa kuliah sarjana ini.
4.      Saat handphone nyemplung sungai dan ada yang bersedia menolong dengan basah-basahan hingga akhirnya handphone saya dapatkan kembali. Namun tak bisa langsung pakai karena layar tak menyala dengan baik. Saat itu pula handphone baru sudah tersedia. Entah firasat apa beberapa hari sebelumnya saya membeli sebuah handphone yang memang tak begitu canggih jika dibandingkan yang menyemplung tadi. Handphone tersebut saya beli karena masa promo dan harganya lumayan cukup murah hanya 100ribu rupiah. Awalnya memang berpikir untuk apa beli handphone lagi, namun saat itu sudahlah saya beli saja dahulu. Akhirnya pun handphone tersebut terpakai. Saya pun agak takut memakai handphone yang pernah nyemplung untuk keperluan komunikasi.
5.      Surat Ijin Kerja keluar yang menegaskan bahwa saya bekerja di RSU
6.      Terbitnya surat ijin melanjutkan pendidikan setelah dua tahun dan setelah kuliah selesai. Mungkin aneh karena seharusnya surat ijin belajar terbit lebih dahulu baru kemudian kuliah. Namun karena saat memutuskan untuk kuliah masa kerja saya belum cukup maka ijin kuliah pun ditunda, tetapi saya tetap melanjutkan perkuliahan. Setelah diusahakan lagi akhirnya surat itu pun keluar. Alhamdulillah sekali rasanya terbebas dari hal yang bersifat illegal. Yah walaupun tak sesuai prosedur. Setidaknya dengan adanya ijin tersebut saya merasa yakin dengan gelar yang disandang. Walaupun belum sempurna. Karena Skep tanpa Ns. Dengan adanya ijin tersebut sebuat konsekuensi pun harus saya tanggung salah satunya pengabdian dalam arti tak bisa seenaknya resign dan konsekuensi lainnya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati materai.


Walaupun begitu tetap saja ada yang kurang. Coba saja tebak apa yang kurang dan belum lengkap.

surogasi

SUROGASI

3 januari 2017
Sebelumnya saya pernah menulis tentang IBUNYA YANG MANA? https://apurusrinufa.blogspot.co.id/2016/11/ibunya-mana.html

Efek juga dari sebuah serial tayangan yang sering saya lihat akhir-akhir ini dan saya temukan istilah baru dalam dunia kesehatan yaitu “SUROGASI” karena penasaran maka saya pun mencari tahu tentang hal tersebut dan juga menjawab pertanyaan saya mengenai tulisan berjudul IBUNYA YANG MANA.
Maka inilah hasilnya

Surogasi  
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Surogasi (bahasa Inggrissurrogacy) adalah suatu pengaturan atau perjanjian yang mencakup persetujuan seorang wanita untuk menjalani kehamilan bagi orang lain, yang akan menjadi orang tua sang anak setelah kelahirannya. Terdapat dua jenis utama surogasi, yaitu surogasi gestasional (juga dikenal sebagai surogasi penuh atau inang[1]) yang terjadi pertama kali pada bulan April 1986[2] dan surogasi tradisional (juga dikenal sebagai surogasi parsial, genetik, atau langsung[1]). Dalam surogasi gestasional, kehamilan terjadi akibat pemindahan atau transfer embrio yang diciptakan dengan program "bayi tabung" atau fertilisasi in vitro (IVF), dengan suatu cara tertentu sehingga anak yang dilahirkan tidak terkait secara genetik dengan sang inang atau "ibu pengganti". Pengganti gestasional juga disebut sebagai pembawa gestasional. Dalam surogasi tradisional, sang pengganti dijadikan hamil secara alami ataupun artifisial (buatan), tetapi anak yang dilahirkan memiliki keterkaitan genetik dengannya. Di Amerika Serikat, surogasi gestasional lebih umum daripada surogasi tradisional dan secara hukum dianggap tidak begitu kompleks.[3]
Mereka yang bermaksud menjadi orang tua mungkin akan melakukan suatu pengaturan surogasi ketika kehamilan tidak dimungkinkan secara medis ataupun risiko kehamilan menyajikan bahaya yang tidak dapat diterima bagi kesehatan sang ibu, dan merupakan suatu metode yang disukai pasangan sesama jenis untuk memiliki anak. Kompensasi dalam bentuk uang mungkin, atau mungkin juga tidak, dilibatkan dalam pengaturan ini. Apabila sang ibu pengganti atau yang rahimnya "dititipi" menerima uang untuk pelaksanaan surogasi maka pengaturan ini dianggap sebagai surogasi komersial. Apabila ia tidak menerima kompensasi selain penggantian biaya medis dan biaya lain yang sewajarnya maka disebut sebagai surogasi altruistik.[4]
Hukum surogasi di seluruh dunia
Indonesia
Praktik surogasi dilarang di Indonesia. Larangan tersebut termuat dalam peraturan umum mengenai "bayi tabung" pada pasal 16 UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Keputusan Menteri Kesehatan No.72/Menkes/Per/II/1999 tentang Penyelenggaraan Teknologi Reproduksi Buatan. Dari kedua peraturan tersebut dapat disimpulkan kalau praktik "ibu pengganti" dilarang pelaksanaannya di Indonesia, dan dipertegas dengan adanya sanksi pidana bagi yang mempraktikkannya (pasal 82 UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan).[5]
Masalah etika
Masalah-masalah etika yang telah dikemukakan sehubungan dengan surogasi misalnya:[6]
Sejauh mana hendaknya masyarakat peduli tentang eksploitasi, komodifikasi, dan/atau paksaan ketika wanita dibayar untuk hamil dan melahirkan bayi, terutama dalam kasus di mana terdapat perbedaan kekayaan dan kekuasaan yang besar antara orang tua yang dimaksud dan ibu pengganti?
Sejauh mana masyarakat dibenarkan untuk mengizinkan wanita membuat kontrak tentang penggunaan tubuhnya?
Sejauh mana hak asasi wanita untuk membuat kontrak tentang penggunaan tubuhnya?
Apakah mengontrak untuk surogasi lebih seperti mengontrak untuk ketenagakerjaan, atau lebih seperti mengontrak untuk prostitusi, atau lebih seperti mengontrak untuk perbudakan?
Manakah, apabila ada, dari jenis-jenis kontrak tersebut yang seharusnya diberlakukan?
Perlukah negara dapat memaksa seorang wanita untuk menjalani "performa khusus" dalam kontraknya jika itu mengharuskannya melahirkan embrio yang ingin ia gugurkan, atau menggugurkan embrio yang ingin kandung dalam jangka waktu normal?
Apakah arti menjadi seorang ibu?
Apa hubungan antara ibu genetik, ibu gestasional, dan ibu sosial?
Apakah mungkin secara sosial atau secara hukum mengandung dalam beberapa mode keibuan dan/atau pengakuan beberapa ibu?
Perlukah seorang anak yang dilahirkan melalui surogasi memiliki hak untuk mengetahui identitas setiap/semua orang yang terlibat dalam konsepsi dan kelahiran anak tersebut?
Masalah keagamaan
Masing-masing agama memiliki pandangan yang berbeda terkait praktik surogasi atau "penyewaan rahim", biasanya terkait dengan sikap masing-masing terhadap teknologi reproduksi berbantuan secara umum.
Katolisisme
Pasal 2376 dalam Katekismus Gereja Katolik menyatakan bahwa: "Teknik-teknik yang memisahkan persekutuan suami-istri, melalui tindakan campur tangan orang lain selain pasangan tersebut (pemberial sel telur atau sperma, rahim pengganti), adalah sangat tidak bermoral.[7]
Yudaisme
Para akademisi hukum Yahudi memperdebatkan masalah ini, beberapa di antara mereka berpendapat bahwa hak asuh orang tua ditentukan oleh wanita yang melahirkan sementara yang lainnya berpandangan bahwa orang tua genetik adalah orang tua yang sah secara hukum. Hal tersebut diperdebatkan dengan sengit pada beberapa tahun terakhir.[8][9] Belakangan, instansi-instansi keagamaan Yahudi menerima surogasi apabila yang dilakukan adalah surogasi gestasional penuh dengan melibatkan kedua sel gamet orang tua yang dimaksud dan fertilisasi dilakukan melalui metode IVF.[10]



Cukup mengerti rasanya tentang surogasi dan macamnya. Wajar saja jika di Indonesia dan negara lain yang mayoritas penganutnya adalah islam melarang surogasi ini. Toh pada negara yang melaksanakannya saja surogasi tersebut menjadi ada masalah.

Permasalahan tentang legalitas dan aturan hukum tentang surogasi ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara lain pun hal ini menjadi perbincangan serius. Dikutip dari Mirror, Inggis sendiri sedang merancang undang-undang tentang pengaturan surogasi. Hal ini dikarenakan banyak kasus persengketaan tentang hak asuh yang terjadi antara para orang tua genetik (penyumbang sperma dan sel telur) dengan perempuan yang menyewakan rahimnya untuk kehamilan (surrogate mother).

Dikutip dari berbagai sumber, beberapa negara yang melegalkan proses surogasi antara lain India, Georgia, Rusia, Thailand, Ukraina dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat. Namun, proses surogasi dilarang di seluruh negara yang penduduknya mayoritas Islam antara lain Brunei Darussalam, Malaysia, Mesir dan negara-negara Timur Tengah seperti Arab dan Pakistan.

soal surogasi tradisional saya jadi teringat film india dengan chori chori chupke chupke jika tak salah dengan pemainnya adalah Salman Khan, Preity Zinta and Rani Mukerji.


Sedangkan untuk surogasi gestasional adalah serial mohabbatein antv yang saat ini masih tayang dan sering saya lihat hehe. Tepatnya pada Mohabbatein Antv 22 Desember 2016 Episode 145 Bahasa Indonesia. Yang membuat saya penasaran mengenai legalitas hukumnya dan ternyata dinegara tersebut diperbolehkan, yang dilarang adalah surogasi komersial dimana sang ibu pengganti dibayar dengan sejumlah uang. Bukan hanya soal diperbolehkan atau tidak, soal dna genetic si bayi pun saya pikirkan namun setelah saya cari tahu cukuplah saya mengerti hehe.

Kamis, 24 November 2016

cumlaude

CUMLAUDE TAK MENJAMIN

Ada satu hal yang tidak pernah saya targetkan yaitu menjadi yang terbaik diantara yang baik. Saya hanya berusaha menjalani apa yang seharusnya dijalani sebagai apapun itu.

Ketika jumat 09 September 2016 diadakan gladi kotor menjelang wisuda sekaligus yudisium dimana saat itu diumumkan mengenai kelulusan beserta IPK masing-masing mahasiswa dan satu hal yang tidak pernah saya bayangkan adalah IPK tertinggi jalur alih jenjang dan itulah yang saya raih. Rasa tak percaya pun menghampiri hingga harus berdiri didepan mahasiswa lainnya untuk menerima bunga plastik merah sebagai tanda penghargaan. Semua rasa bercampur saat itu, ada bahagia dan ada juga rasa tak percaya. Karena saya merasa bukanlah orang yang pintar. Karena saya yakin jika diukur soal kepintaran maka teman-teman saya yang lain banyak yang lebih dari saya mengingat pengalaman dan masa kerja mereka yang melebihi saya. Rasa bahagia saat seorang dosen metodologi penelitian yang sering saya ganggu karena konsultasi skripsi padahal bukan beliau pembimbing skripsi saya, memberikan setangkai bunga plastik berwarna merah.


Saya masih berpikir mengapa saya bisa dapatkan hal tersebut. Maka saat itu saya mengingat-ingat kembali hal apa yang sudah saya lakukan. Saya tidak pintar. Namun jika dibilang rajin, mungkin ya. Satu prinsip yang tak boleh dilupakan adalah bahwa RAJIN ITU MODAL. Itu juga yang diucapkan oleh dosen penguji KTI saat diploma tiga dahulu bahwa saya itu rajin maka saya lulus.

Mengingat masa perkuliahan, saya ingat betul dimana setiap sabtu minggu saya harus dikampus dari pagi hingga sore dimana sebelum atau setelahnya saya masih harus bekerja shift tiga yaitu dinas malam. Pernah juga saya 2x24 jam tidak pulang ke rumah demi itu semua. Entahlah saya pantas mendapatkannya atau tidak jika mengingat hal ini. Pernah ada seorang teman yang mengatakan bahwa EMANG MATERINYA MASUK KE OTAK SEHABIS MASUK MALAM LANGSUNG LANJUT KULIAH. Saya tak pikirkan soal hal itu. Yang penting adalah saya menjalani apa yang seharusnya saya jalani. Begitu pula dengan perkuliahan. Saat waktunya kuliah yah harus datang untuk mengikuti materi bukan datang tandatangan kemudian pergi lagi entah kemana. Soal materi akan masuk ke otak atau tidak itu urusan belakangan. Toh setiap perkuliahan saya selalu membawa hp jadul yang kecil untuk merekam proses perkuliahan dan tak lupa meminta soft copy materi kepada dosen untuk saya print kemudian baca-baca di rumah. Beres kan? Karena ada satu hal yang saya ingat bahwa YANG MASUK SAJA BELUM TENTU MENGERTI APALAGI YANG TIDAK. Sekalipun saat kuliah mungkin saya sudah tak fokus karena sudah capek terlebih dahulu tetapi setidaknya saya tahu materi apa yang disampaikan oleh dosen dan kapan materi tersebut tersampaikan toh saat perkuliahan walaupun capek tetapi saya masih dalam keadaan sadar walaupun terkantuk namun tidak pingsan atau pun koma hingga tak tahu apa yang terjadi.

Saat gladi bersih wisuda 16 September 2016 tepatnya digedung yang akan dilaksanakan untuk wisuda esok hari, saya pun masih dikejutkan bahwa saya akan dipanggil maju ke depan bersama dengan orang tua atau pendamping wisuda untuk menerima penghargaan lagi. Saya pikir sudah cukup saat yudisium pengumuman IPK tersebut namun ternyata tidak dan masih berlanjut hingga wisuda esok.

17 September 2016, hari yang dinantikan oleh semua mahasiswa yaitu wisuda baik program sarjana ataupun diploma. Saat itu ada hal yang membuat saya ingin menangis rasanya namun berusaha saya tahan karena jika saya sampai meneteskan air mata saya khawatir makeupnya luntur ciiiiin hehehe, saat berjalan akan dipindahkan tali pada topi toga sebelumnya saya diberikan selempang dengan tulisan “cumlaude”. Rasanya kembali saya tak percaya akan hal tersebut.

Saat kedua kalinya maju ke depan karena dipanggil untuk menerima penghargaan, saat itu pula seorang ketua PPNI Kabupaten Tangerang yang juga bekerja di sebuah rumah sakit pemerintah di daerah kabupaten juga pernah mengajar dikelas alih jenjang memberikan penghargaan langsung kepada saya berupa piagam penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi. Entahlah apa yang harus saya ucapkan lagi. Rasanya masih tak percaya akan semua itu. Apakah saya pantas untuk menerimanya? Padahal saat diploma tiga dahulu saya bukanlah siapa-siapa dan hanya mahasiswa yang lulus dengan IPK sangat memuaskan dan tidak cumlaude.
Rasanya seperti memakan omongan sendiri. cumlaude itu tak pernah saya targetkan. bahkan sebelumnya saya pernah berpikir bahwa UNTUK APA CUMLAUDE? KARENA CUMLAUDE TAK MENJAMIN hal tersebut saya ucapkan karena melihat teman yang cumlaude waktu wisuda diploma tiga lalu dan sekarang tidak bekerja dimanapun hanya menjadi ibu rumah tangga dengan bisnis onlinenya di luar bidang yang ia pelajari dahulu.

Dahulu saat lulus diploma tiga saya pun pernah mengatakan seperti ini JIKA ADIK SAYA TAK MAU KULIAH, YA SUDAH SAYA YANG KULIAH LAGI. Itu semua pun terjadi, karena saya melanjutkan pendidikan sarjana bersamaan dengan adik saya yang lulus sekolah menengah atas dan memasuki bangku perkuliahan.

Saat masih duduk dibangku sekolah menengah atas pun saya pernah mengatakan bahwa DARIPADA PERAWAT MENDINGAN BIDAN BISA BUKA PRAKTEK SENDIRI. Alhasil saya malah lulus di keperawatan ya sudah maka saya lanjutkan. Saya pun cukup senang dengan profesi ini.



Sepertinya apa yang telah terjadi pada hidup sesuai ataupun terbalik dengan apa yang pernah dipikirkan.

ibunya mana

IBUNYA YANG MANA?

Entah ini pernah terjadi atau tidak, tetapi hal ini berkeliaran di benak saya. Entah dari mana saya dapatkan pemikiran ini. Entah pengaruh apa sehingga muncul pemikiran seperti ini. Entah pemikiran ini hanya sebuah lelucon dan berlebihan atau tidak. Entah kalian mau mengatakan saya terlalu berlebihan dan terlalu berpikir jauh, itu terserah kalian.
Begini, jika benih berasal dari Ny. A dan Tn. B namun kemudian yang hamil/mengandung hingga melahirkan adalah Ny. C, maka pertanyaan yang sedang bekecamuk dipikiran saya adalah siapakah ibu kandung bayinya nanti?
Bukan hal yang tak mungkin jika hal tersebut akan terjadi. Semakin canggihnya teknologi kedokteran dan kesehatan serta inginnya seseorang memiliki anak yang berasal dari dirinya sendiri dan bukan adopsi, maka saya rasa hal tersebut bisa saja terjadi sekalipun kemungkinan biayanya mahal.
Istilah awamnya mungkin pinjam rahim, namun tetap berasal dari benih pasangan suami istri dan antara Ny. C dengan Tn. B tidak berhubungan seksual. Namun benih dari Tn. B dan yang hamil adalah Ny. C.
Bukan hanya pertanyaan siapa ibunya si bayi yang berkecamuk dalam pikiran saya. Namun bagaimana hukumnya dari sudut pandang medis dan agama dalam hal ini islam?
Jika pengertian ibu menurut kamus bahasa Indonesia yang saya baca adalah perempuan yang melahirkan, lalu bagaimana dengan benih yang berasal dari Ny. A?
Bagaimana dengan akte lahir si anak nanti? Tak mungkin rasanya akan ada nama dua ibu pada akte tersebut.


hujan

DIGUYUR HUJAN

Minggu 13 november 2016
Saat pagi hari ada rasa enggan dan malas untuk mengikuti pengajian, guyuran hujan pagi itu membuatku demikian. Namun akhirnya aku tetap berangkat. Sampai sana memang hujan tidak begitu deras seperti saat berangkat dan dapat dikatakan juga reda hingga akhirnya selesai. Saat pengajian berlangsung, kedatangan syeh dari syiria, yaman dan Malaysia. Entah ada apa? Saya jadi berpikir, seandainya tadi saya menuruti rasa malas mungkin saya tak akan mendengar suara syeh tersebut dengan bahasa arabnya. Walaupun tidak bisa melihatnya.

Beberapa kali mengikuti pengajian disana rasanya ada yang aneh. Dimana jika hari cerah yaitu tak turun hujan seperti hari minggu tersebut, udara selama berjalannya pengajian sejuk namun setelah bubarnya pengajian panasnya matahari baru terasa. Entah ada apa? Tapi itulah yang saya rasakan.


Kedua di sore harinya, seperti biasa jika minggu libur maka saya latihan karate di puspem. Saat hendak berangkat hujan belum turun hingga saya menaiki angkot. Namun saat diperjalanan tiba-tiba saja hujan turun lebat dan tak reda juga hingga saya sampai. Saat itu saya berpikir, ada apa ini? Saat pagi hari pergi pengajian hujan reda dan sore hari hendak latihan tiba-tiba hujan lebat pun turun. Apa jangan-jangan saya tak direstui untuk latihan sehingga hujan lebat pun turun? Pikiran macam-macam berkecamuk dalam benak saya. Mengapa begini? Ditambah saat saya sedang bingung dengan kegiatan yang telah lama saya ikuti itu. Bingung apakah yang selama ini saya ikuti benar menurut agama dan sampai sekarang pun saya masih mencari tentang kebenaran itu? Namun saat berjalannya latihan, saya merasa beruntung karena mendapatkan ilmu baru. Biasanya jika keadaan seperti itu apalagi saat hendak berangkat sudah hujan saya jarang datang latihan. Entah ada apa dan apa yang telah terjadi hari itu? Saya merasa ada hikmah dari kedua kegiatan di hari itu karena hujan.

serasa akan copot

SERASA MAU COPOT

29 oktober 2016
Pulang dinas pagi saat itu saya berniat menemui teman di sekitar kebon nanas tangerang untuk mengantar sertifikatnya yang selama ini saya simpan. Seperti biasa saya selalu menggunakan angkuta kota. Saat itu angkot yang saya tumpangi memang tak banyak penumpang bahkan hanya tinggal saya sendiri dan karena macet maka angkot pun melewati jalan yang bukan seharusnya untuk menghindari macet. Saat lewat jalan lain tiba-tiba saja angkot berhenti dan saya lihat sudah ada motor dengan penumpangnya. Entah apa yang persis terjadi saya pun tak tahu karena saat itu saya tak memperhatikan jalan, sibuk dengan handphone khawatir teman saya menunggu. Saya rasa sepertinya angkot tersebut seperti hendak menabrak motor. Saya pikir semua akan selesai dengan meminta maaf. Namun ternyata tidak karena setelah itu sang pengendara motor tiba-tiba saja menonjok supir angkot. Keduanya tak ada yang mau mengalah. Sama-sama saling merasa benar. Tidak sang pengendara motor dan tidak juga sang supir angkot. Jalanan pun saat itu menjadi semakin macet. Karena angkot dan motor tidak berjalan. Sedangkan di belakang angkot banyak kendaraan lain yang menunggu karena akan melewati jalan tersebut. Akhirnya saya turun dari angkot tersebut karena ingin segera menemui teman. Kemudian angkot dan motor pun dipinggirkan agar kendaraan lain dapat lewat. Setelah itu entahlah apa yang terjadi dengan supir angkot dan pengendara motor itu. Karena saya langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut. Saat kejadian itu rasanya jantung terasa mau copot. Melihat secara langsung orang menonjok dengan sangat marah. Sedangkan si supir angkot agak tak berdaya. Karena susah untuk melawan pengendara motor itu.

Sang pengendara motor yang membawa penumpang sangat marah seolah-olah dia tak pernah berbuat salah. Padahal rasanya tak ada satu pun yang terluka. Yah tidak tahu juga apakah motornya lecet atau tidak. Yang pasti saya rasa hal tersebut sebenarnya bisa diselesaikan tanpa emosi. Tapi begitulah jika orang merasa selalu benar padahal semua itu juga belum tentu. Tak mungkin juga dalam mengendarai motor dia tak pernah sekalipun tak berbuat kesalahan seperti menyalip misalnya atau hal lainnya. Jadi agak sombong juga lah si pengendara motor itu sampai mengejar sang supir angkot. Supir angkot pun entah salah atau tidak, saya tak mendengar ucapan maaf darinya. Hanya teriakan sang istri supir “tolong suami saya jangan dipukuli”.

Dalam keadaan seperti itu sebenarnya saya bingung apa yang harus saya lakukan. Di satu sisi saya tidak mengetahui persis bagaimana kejadiannya yang tiba-tiba saja membuat sang pengendara motor itu marah. Namun di sisi lain rasanya saya geram dengan aksi tonjok pengendara motor yang menunjukkan bahwa dirinya seolah-olah paling benar. Maka akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi saja melanjutkan tujuan saya menemui teman dan memberi sertifikat padanya. Namun tetap saja sepanjang jalan rasanya jantung saya masih mau copot, cemas, gelisah dan deg-degan membuat saya takut hingga akhirnya saya bertemu dengan teman dan menceritakan apa yang barusan saya alami. Berumtunglah dia mengerti dan membuat aku sedikit tenang hingga akhirnya aku pulang ke rumah dan meninggalkan temanku itu.