apurus rinufa

tulisan sebagai pengingat terutama untuk diri sendiri dan bukan bermaksud untuk menggurui atau apapun. sekedar share dan eksplor saja. maaf jika tak berkenan. trima kasih.

Minggu, 12 Juni 2016

rujuk balik

RUJUK BAWA BALIK

Kamis 26 mei 2016 kebetulan saat itu sedang dinas sore dan ada rencana pasien perinatologi dengan atresia yeyenum yang akan dirujuk ke rumah sakit lain jika memang tempatnya ada. Mengingat sang dokter di rumah sakit kami sedang tidak ada selama beberapa waktu sedangkan sang pasien harus segera dioperasi maka dari itu sang dokter menyarankan agar pasien tersebut di rujuk ke rumah sakit lain yang mempunya dokter bedah anak.

Sekitar pukul 14.00 wib sang keluarga mengabarkan bahwa ada tempat untuk sang pasien di rumah sakit (RSAB) rujukan. Kemudian konfirmasilah kami kepada rumah sakit rujukan itu dan sekitar pukul 15.00 wib kami mendapat kabar dari mereka untuk membawa pasiennya sekarang. Karena itu maka langsunglah kami membawanya.

Sang teman mengatakan kepada saya bahwa “rujuknya dengan si A yah”. Saya jawab “yaudah tak apa yang penting tidak sendiri”. Saat saya memberitahu si A untuk rujuk, apa yang ia katakan? Si A mengatakan “rujuk sendiri ajah”. Saya katakana “tidak mau jika merujuk sendiri”. Lalu si A mengatakan lagi “yaudah berdua dengan siswa ajah” Dengan gampangnya ia mengatakan seperti itu. Tidak berpikir apa yah? Pasien itu tanggung jawab kita, bukan siswa yang sedang praktik. Memang kalau ada masalah apa-apa mereka yang akan ditanya-tanya dan tanggung jawab dengan keluarga serta rumah sakit. Mengapa saya tak mau merujuk sendiri? Supaya jika terjadi hal yang tak diinginkan di jalan ada saksi mata dan bukan berstatus sebagai siswa praktik, bisa dijadikan tukar pikiran juga. Mungkin suatu saat si A tersebut mau kali yah merujuk sendiri dengan siswa? Karena itu yang ia katakan kepada saya dan saya kecewa dengan hal tersebut. Memang bisa yah merujuk itu sendiri? Tim code blue saja untuk pasien dewasa minimal 5-7 orang kemudian untuk neonates jika terjadi gagal napas dibutuhkan 3 orang. Itu sih yang saya ketahui. Maaf juga jika sok tahu. Yang pasti saya tak mau jika harus merujuk sendiri. Beruntungnya ada seorang teman yang masuk malam dan kebetulan ada di ruangan saat sore hari dan juga mau dengan sukarela tanpa diminta untuk menemani saya merujuk pasien tersebut. Yang pasti orang tersebut bukan si A.

Sekitar pukul 16.00 barulah kami berangkat ke rumah sakit tersebut karena harus mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan pasien dan rujukan pula. Sekitar pukul 18.30 sampailah kami di IGD rumah sakit rujukan karena macet. Sampai sana pasien yang kami bawa memang langsung ditangani oleh sang perawat pria dan ia mengatakan bahwa kami jangan pulang dulu sebelum sang pasien mendapat kamar dan dibawa ke ruang perawatan. Kemudian sekitar jam 19.00 wib keluarga di suruh mendaftarkan pasien di bagian pendaftaran. Entah dikonsulkan dahulu pasien yang kami bawa tersebut atau tidak, yang pasti kami menunggu hingga akhirnya sekitar pukul 20.00 wib sang perawat pria itu memberi surat permintaan kamar kepada keluarga untuk kemudian mendaftar lagi ke bagian pendaftaran.
 

Tak lama setelah kami sampai di IGD rumah sakit rujukan, ada lagi pasien bayi yang dirujuk dari RSSA Karawaci dengan spina bifida. Parahnya ia merujuk tidak dengan orang tua di ambulan namun memakai kendaraan pria karena macet maka sang orang tua pasien tersebut tak sampai bersamaan dengan ambulan dan juga surat rujukan hanya ada di keluarga pasien sehingga susah lah perawat IGD untuk melakukan anamnesa dan lainnya. Sehingga pelayanan pun menjadi terhambat yang seharusnya sudah ditangani menjadi terlambat.

Disela-sela menunggu tersebut dan juga ada perawat dari RSSA Karawaci yang juga merujuk pasien perinatologi, tiba-tiba sang perawat pria menunjukkan kepada kami surat rujukan yang berasal dari rumah sakit kami.
“ini pasienmu bukan” kata sang perawat pria.
“dari RSU sih, tapi bukan dari ruangan kami” kata kami (aku dan teman) sambil melihat dan membaca sekilas surat tersebut.
“tapi rujukannya dari rumah sakitmu kan?” kata sang perawat pria sambil menunjukkan kepala surat rujukan tersebut
Karena tak bisa mengelak maka kami pun menjawab “iya”
“nih pasiennya kejang, ada rujukan tanpa ambulans dan perawat”
“pulang paksa kali” jawab kami berusaha untuk mengelak
“kalau pulang paksa ada keterangannya, masalah nih” kata perawat pria dan kami hanya bisa diam setelah itu ia pun pergi.

Akhirnya perawat RSSA itu pun mengetahui soal perawat pria yang menunjukkan kepada kami sebuah surat rujukan. Kami pikir itu hanya teguran sebagai peringatan dan pemberitahuan saja. Saat perawat pria itu pergi saya menyuruh teman untuk mengontak orang yang kira-kira berasal dari ruangan pasien itu, namun nihil karena orang yang kami kontak tak mengetahui. Ya sudah dengan tenang dan santai kami menunggu pasien yang memang kami rujuk dari awal dan bukan pasien yang kami temukan tiba-tiba di rumah sakit rujukan.

Walaupun pada pukul 20.00 wib pasien yang kami bawa dari ruang perinatologi sudah ada tempat, namun kami masih tetapi harus menunggu yaitu menunggu diantar. Karena itulah jawaban yang saya dapat saat bertanya kepada perawat pria yang sedari awal menerima pasien tersebut. Karena penasaran saya pun tanya lagi “diantar jam berapa?” dan ia hanya menjawab” sekitar jam 9 atau setengah sepuluh”. Tanpa bertanya lagi kerana ia pun telah pergi, saya jadi bingung kenapa baru diantar jam segitu. Tapi ya sudahlah akhirnya saya tunggu saja sampai jam itu tiba. Usut punya usut saat perawat pria tersebut operan dia menyebutkan bahwa ruang perawatan untuk pasien yang kami bawa dengan ambulan baru bisa diantar malam karena ruangannya baru siapa sekitar jam segitu. Entahlah.

Tibalah sekitar pukul 22.00 saat sang pasien yang kami bawa siap diantar ke ruangan, tiba-tiba sang dokter yang jaga malam memanggil kami sebagai perawat dari RSU dan menunjukkan pasien yang kejang tadi yang membawa rujukan tanpa perawat dan ambulan. Dokter tersebut menyatakan bahwa pasien itu butuh PICU dan tidak tahu apakah ada tempat atau tidak, jika tak ada tempat maka kami harus membawa kembali pasien kejang yang berasal dari ruang anak ke RSU. Kami berusaha mengelak karena itu bukan pasien dari ruangan kami. Namun sang dokter mengatakan bahwa tapi masih RSU kan? Masih tanggung jawab rumah sakit sana. Karena bingung maka langsunglah kami menelepon kepala ruang, sambil menunggu keputusan kami disuruh oleh sang dokter untuk menganamnesa keluarga pasien kejang tersebut.

Kami menanyakan bagaimana ia bisa sampai IGD RSAB ini. Ia menjawab keluar rumah sakit awal sekitar jam 4 sore kemudian ia pulang dulu dan langsung ke IGD RSAB ini dengan taxi. Kemudian kami pun menanyakan apakah ia boleh pulang atau pulang paksa. Namun sang keluarga mengaku ia boleh pulang, ia pun mengatakan saat pagi sang dokter bilang nanti dirujuk pakai ambulan namun saat sore sang perawat ruang anak bilang rujuk lepas jadi tidak pakai ambulan. Karena masih penasaran, kami pun menanyakan apa saja barang yang dibawa atau diberikan dari RS awal. Ia mengatakan hanya surat rujukan ini dan hasil rontgen. Maksudnya kami diberikan pesanan pulang atau tidak pasien ini? Karena ia mengatakan bahwa diperbolehkan pulang. Walaupun saat di IGD RSAB rujukan pasien kejang. Namun kami tidak tahu saat pulang kondisinya seperti apa, karena sang keluarga mengatakan boleh pulang. Tadinya jika ada pesanan pulang kami akan minta untuk melihat apakah benar sang pasien boleh pulang atau pulang paksa dan juga anjuran selanjutnya? Namun karena bukti tersebut tak ada ya sudah susah juga kami mengelak kepada pihak RSAB rujukan itu.

Akhirnya kami pun mendapat kabar dari RSU bahwa pasien kejang tersebut jika memang keluarga mau balik lagi silakan saja dengan catatan belum tentu ada tempat dan kemungkinan jika tempat penuh maka stay saja di IGD RSU. Karena keluarga setuju maka setelah kami mengantar pasien dari perinatology ke ruang perawatan yang memang sudah ada sejak jam 8an tadi, maka saat pulang kami membawa pasien kejang yang berasal dari ruang anak yang membawa rujukan tanpa ambulan dan perawat.

Sesuatu dan pengalaman banget. Merujuk pasien yang kemudian saat pulang membawa pasien balik dengan pasien yang berbeda dan kami tidak tahu apa-apa walaupun asal sang pasien adalah dari RSU atau RS yang sama.

Saat paginya inilah info yang didapatkan

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah jika pasien seperti kasus tersebut tak diberikan pesanan pulang sebagai bukti? Karena menurut info yang saya dapat status pasien keluar rumah sakit adalah pulang dan bukan rujuk walaupun diberikan rujukan. Sekalipun dikatakan rujuk lepas, menurut peraturan tidak ada ataupun tidak boleh rujuk lepas. Itulah yang membingungkan dan belum terjawab sehingga membuat saya masih penasaran.


Selasa, 07 Juni 2016

hujan

HUJAN-HUJANAN

Sering sekali bapak mengantar dan menjemputku. Dalam keadaan apapun selama ia masih merasa sanggup maka akan dilakukannya. Sakit sekalipun terkadang ia tetap mengantar dan menjemput saya. Termasuk ketika cuaca tak mendukung. Saat hujan lebat dan besar pun ia tetap mengantar saya bekerja di malam hari menggunakan motornya.
Begitulah saat beberapa waktu lalu jika tak salah selasa malam 24 mei 2016 hujan sangat besar dan lebat sekali dan saat itu pun saya harus pergi bekerja dinas malam. Maka dengan jas hujan dan motornya bapak tetap mengantar saya. Jalanan sudah banjir dan penglihatan sudah terhalang dengan rintik hujan ditambah suasana gelap hanya lampu sorot dari motor karena kebetulan lampu jalan mati. Diperjalanan saya tak tenang karena khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Hingga akhirnya sampailah saya di rumah sakit. Walaupun pakai jas hujan tetap saja pakaian saya basah karena lebatnya hujan. Alhamdulillahnya setelah itu hujan tak begitu lebat seperti awal. Alhamdulillah juga bapak baik-baik saja sampai di rumah.
Saya merasa sangat beruntung mempunyai orang tua seperti bapak yang selalu setia menunggu, mengantar dan menjemput saya. Sungguh sebenarnya saya terkadang merasa tak enak dengannya dan secara lisan memang saya tak pernah memintanya untuk diantar jemput. Namun keadaanlah yang membuat seperti ini. Sekalipun saya mempunyai motor, saya tak yakin juga diijinkan membawanya dimalam hari. Jadi mau bagaimana lagi? Jika tak diantar atau dijemput bagaimana saya pulang atau pergi untuk hal yang penting jika kondisinya sudah malam?
Bukan hanya untuk bekerja diantar dan jemput. Saat saya kuliah pun bapak masih mengantar saya berangkat. Walaupun tidak dijemput. Padahal saat berangkat sebenarnya saya masih bisa sendiri memakai angkutan umum. Namun terkadang sebelum saya siap bapak telah siap terlebih dahulu untuk mengantar saya. Saya pun terkadang berpikir tidak akan diantar namun ternyata salah. Karena ternyata bapak telah didepan dengan motornya.

Subhanallah jujur dari kecil saat saya masih sekolah menengah hingga sekarang saya bekerja dan kuliah lagi bapak masih dengan setia mengantar jemput. Saya yakin mungkin tak semua ayah seperti itu. Karena cerita teman, selama ia sekolah atau selama ini ia hanya pernah diantar dan jemput sebanyak dua kali itupun saat masih kanak-kanak dan selebihnya tak pernah lagi. Saat saya mengetahui itu saya merasa sangat beruntung mempunyai bapak yang amat sangat sayang terhadap anaknya entah karena saya anak perempuan satu-satunya atau bukan. Namun saya rasa itu bukanlah satu-satunya alasan.

menunggu

MENUNGGU DUA JAM LEBIH

Sungguh sangat sabar dan setia sang ayah karena telah dengan sabar menunggu sang anak keluar dari rumah sakit dan membawanya pulang ke rumah. Bayangkan ia harus menunggu sang anak selama kurang lebih dua jam. Karena sang anak sedang berada di rumah sakit lain untuk merujuk pasiennya. Rasa tak enak dengan sang ayah sesungguhnya menggelayuti di hati sang anak. Namun mau bagaimana lagi? Jikalau ia tak dijemput oleh sang ayah bagaimana ia bisa pulang ke rumah? Karena jika sudah malam tak ada lagi angkutan umum.
Itulah yang terjadi terhadap diri saya sewaktu bersama teman merujuk pasien ke sebuah rumah sakit di luar kota tepatnya di daerah Jakarta barat pada kamis 26 mei 2016. Berangkat dari rumah sakit sekitar jam 4 sore namun sampai di rumah sakit luar kota sekitar jam setengah tujuh karena macet. Kemudian baru selesai hingga sang pasien masuk ruang perawatan sekitar jam sebelas malam. Jadilah saya sampai ke rumah sakit asal sekitar jam setengah dua belas beruntung saat pulang tidak macet. Sehingga bisa cepat sampai.
Seharusnya jika saya dinas sore normal seperti biasa sekitar jam sembilan sudah keluar rumah sakit dan pulang. Saat itu seperti biasa bapak menjemput saya tepat jam sembilan. Saya pun mengabari bahwa saya sedang berada di rumah sakit lain sedang merujuk pasien yang entah kapan selesainya? Beruntungnya bapak juga tidak marah-marah dan tidak banyak tanya padahal saya mengabarinya hampir jam sembilan dimana bapak telah di rumah sakit. Akhirnya karena saya baru selesai merujuk sekitar jam sebelas malam jadilah bapak dengan setia menunggu saya pulang selama dua jam lebih. Setelah selesai dan keluar rumah sakit menemui bapak saya pun segera meminta maaf karena telah membuatnya menunggu lama. Jadilah saya sampai rumah sekitar jam dua belas malam. Makan kemudian langsung tidur.


Selasa, 31 Mei 2016

nikah / s2

NIKAH ATAU S2?

Waktu dulu sempat kepikiran ingin lanjut S2 setelah lulus sarjana. Karena ingin mendapat gelar magister sebelum usia 30 tahun. Namun jika ada yang tanya tentang menikah, saya jadi pikir lagi. Maka akhirnya saya putuskan antara nikah dan S2 lihat saja mana yang lebih dulu menghampiri saya. Jika memang belum ada yang melamar dan kesempat untuk kuliah S2 itu ada, ya sudah lanjutkan hal tersebut sesuai target sebelum usia 30 tahun sudah selesai pendidikan. Namun jika yang lebih dahulu datang adalah lamaran seorang laki-laki kepada saya, maka target pun berubah yaitu menikah dan mempunyai dua anak sebelum usia 30 tahun. Syukur-syukur jika anak tersebut sepasang yaitu laki-laki dan perempuan. Mengapa? Mengingat hamil dan melahirkan diatas usia 30 tahun itu sudah mulai agak resiko. Walaupun resiko untuk hamil dan melahirkan itu diatas 35 dan dibawah usia 20 tahun. Namun jika nantinya mau menambah lagi menjadi tiga diatas usia 30 tahun ya tidak masalah, toh masih dibawah 35 tahun. Ingat usia produktif untuk reproduksi yaitu 20-35 tahun.

Jadi jika pertanyaannya adalah NIKAH atau S2? Lihat saja apa yang lebih dahulu menghampiri. Yang pasti keduanya sama-sama tidak merugikan dan juga mempunyai target yang jelas.


Jujur saja saya sudah mempersiapkan dua nama untuk calon anak, satu untuk anak perempuan dan satu untuk anak laki-laki. Mungkin terbilang berlebihan atau terlalu muluk. Mungkin juga jika ada yang mengetahui akan berkata seperti ini “calonnya dulu mana? Udah buat nama anak ajah”. Yang pasti kedua nama itu tak jauh dari nama saya hehe.

tangisan

TANGIS-TANGISAN

Hari ini 31 mei 2016 ga tau rasanya mau ngapain? Mau ngerjain skripsi tapi bingung mau diapain lagi karena khawatir salah. Mau konsultasi juga bingung belum buat janji apalagi dengar kabar sang dosen mau cuti. Haduh……….. akhirnya hari ini kegiatan cuma setrika dan cuci pakaian itu pakai mesin hehehe dan hanya di pagi hari. Shift malam sih tapi dari tadi siang ga bisa tidur.

Yang pasti bukan itu yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Hari ini entah ada apa dengan diri saya yang pasti serasa semuanya meledak. Tiba-tiba saja saya menangis saat ibu menanyakan saya soal jodoh. Yang pasti saya kesal tetapi bukan karena pertanyaan ibu itu. Namun karena hal lain yang saya pun bingung menjelaskannya. Akhirnya saya hanya bisa curhat tentang orang lain yang sering mengejek saya seperti laki-laki dan suka atau tidak dengan laki-laki. Karena saya curhat sambil nangis yah akhirnya menangislah saya didalam kamar yang kemudian ibu masuk ke dalamnya. Sudah tak bisa dibendung lagi rasanya air mata saya.

Saya rasanya pengen memasrahkan dan mengikhlaskan tentang jodoh. Namun jika ada orang yang bertanya ataupun menyuruh menikah padahal dia bukan orang tua saya rasanya geram sekali. Sampai saya membuat status di sebuah bbm pribadi seperti ini:
“normal koq masih suka dengan lawan jenis, memang belum waktunya, kalau mau cariin yang sesuai bukan cuma nyuruh aja”
 

Kesal rasanya sampai ada teman yang menyuruh saya untuk shalat jumat. Mungkin jika hanya sekali dua kali ya tak masalah namun menurut saya untuk kali ini sudah agak keseringan. Setomboy-tomboynya wanita tetaplah wanita.


Ya sudah akhirnya saya pun tahu nasehat yang biasa akan dikeluarkan yaitu jangan dengar omongan orang lain yang tak penting dan tidak mempengaruhi. Cuek dan biarkan saja omongan mereka. Saya sudah tahu kata-kata apa yang akan keluar. Namun rasanya itu sesuatu banget.

Kamis, 26 Mei 2016

ngatur

NGATUR JADWAL

Baru-baru ini ada sang dokter yang seolah-olah secara tak langsung mengatur jadwal atau mengeceknya. Apakah memang tugas dokter sampai seperti itu? Seperti bagian kepegawaian yang mengecek pegawai yang seharusnya masuk siapa dan sebaliknya? Saya pikir terlalu berlebihan saja jika seperti itu. Kecuali memang jika sang dokter tersebut adalah bagian dari unit kepegawaian suatu instansi pekerjaan ya silakan saja dia mengecek tentang absensi pekerjanya.

Mungkin harus dilihat lagi wewenang dan tugas dokter yang seharusnya. Jika perawat harus mengikuti instruksi dokter barulah saya setuju jika itu selama tidak bertentangan dengan norma dan undang-undang serta ketentuan yang berlaku. Namun jika sampai kepada mengatur jadwal perawat saya rasa bukanlah wewenangnya. Toh kasarnya sebelum ia mengatur perawat cobalah saja atur dahulu dokter-dokter yang lain baik umum ataupun spesialis hingga konsultan mungkin. Jika profesinya sudah baik semua dalam arti semuanya sudah sesuai dengan peraturan yang seharusnya dilakukan maka bolehlah ia mengatur profesi yang lain walaupun sama-sama dalam satu bidang. Kasarnya bisakah dokter bekerja tanpa perawat? Memang jika tak ada perawat, adakah dokter yang mau melakukan tindakan kepada pasien seperti memasang infus dan lainnya. Tak pernah sekalipun saya melihat dokter melakukan tindakan infus. Sekalipun pernah itu karena ia sedang sekolah dan pasiennya syok maka ia langsung memasang infus dua line. Itupun hanya satu kali saya melihatnya. Mengapa? Toh sebenarnya infus adalah salah satu tindakan yang seringkali dilakukan oleh perawat yang memang merupakan tindakan kolaborasi dalam pemberian cairan ataupun pemantauan intake dan output. Namun jika ada yang bisa memberikan bukti yaitu referensi kepada saya bahwa tindakan tersebut adalah murni tindakan mandiri keperawatan silakan saja saya tunggu.

Toh jika sang dokter tak mau memeriksa pasien dengan alasan profesi lain, terserah dan silakan saja. Ingat loh tanggung jawab dia bukan dengan profesi lain atau tempat ia bekerja, namun terhadap pasien tersebut. Mana aplikasi dan implementasi dari sumpah dokter yang telah ia ucapkan dahulu? Bagaimana seharusnya terhadap pasien. Jangan hanya bisa mengobati saja tetapi terhadap pasien cuek bahkan tak peduli dengan pertanyaan pasien yang hanya menginginkan jawaban dari sang dokter dan bukan profesi lain.

Sepertinya perlu dilihat lagi bagaimana wewenang dan tugas setiap profesi berdasarkan peraturan organisasi profesi yang berlaku dan juga undang-undang tentang profesi tersebut. Bukan berdasarkan kebijakan rumah sakit. Karena jika hanya berdasarkan hal tersebut, maka suka-suka rumah sakit dong mau seperti apa?

Senin, 23 Mei 2016

PINTERAN DIKIT DONG

KALAU MAU BOHONG, PINTERAN DIKIT DONG

Jujur saya kecewa saat melihat laporan absensi peserta seminar bulan maret lalu. Mengapa? Karena ternyata banyak orang yang bayar dengan harga mahasiswa bahkan kurang dari itu. Kecewa dengan teman-teman karena rasanya seperti dibohongi. Didaftar peserta tercatat dari instansi pekerjaan tetapi kenapa uang yang dibayarkan seharga instansi pendidikan alias harga mahasiswa? Mendaftar memakai gelar, tetapi administrasi mahasiswa. Kalau pun mau bohong, yang agak pinteran sedikit donk. Yang membuat orang lain tidak mengetahuinya. Misalnya jika ingin memakai harga mahasiswa, yah saat mendaftar membawa nama kampus dan tidak memakai gelar. Jika saat mendaftar membawa nama instansi pekerjaan kemudian memakai gelar lalu membayar seharga mahasiswa, sepertinya tanda tanya juga yah? Orang yang gak ngerti juga sepertinya akan bingung dan mungkin juga akan menimbulkan tanda tanya.

Jangan juga mentang-mentang kita selaku pemegang uang, berapa pun yang dibayarkan kita terima saja yang penting kuota tercukupi. Mending jika yang dibayarkan itu lebih, namun jika kurang emang si penerima uang mau gitu nambahin alias nombok? Belum tentu juga kan? Makanya itu kalau mau bohong pinteran dikit lah. Walaupun misalnya bukan mahasiswa, tetapi ingin memdaftar harga mahasiswa yah jangan pakai instansi pekerjaan dan gelar. Itulah yang beberapa kali juga saya lakukan hehe. Toh walaupun dalam pemberitahuannya yang mendaftar atas nama kampus akan dilihat kartu mahasiswanya namun pada kenyataan tidak demikian. Maka dari itu, menurut saya sebaiknya harga seminar tak perlu dibedakan mahasiswa atau bukan karena kemungkinan didalamnya pun ada kebohongan hahaha. Kalau bisa membawa orang banyak untuk seminar kemudian mendapat hadiah, ya itu sih bonus hehehe. Toh hal seperti itu kayak semacam bisnis juga kali yah hehe.




Perlu diketahui yang sudah ditetapkan adalah harga mahasiswa sebesar 120.000 dan harga umum adalah 150.000 serta seharusnya tidak ada harga pembayaran sebesar 100.000